“Sains berhasil menerka kode rahasia langit, namun pintu kalbu tetap terkunci rapat oleh keangkuhan.”
Tiga abad terakhir, sains melesat tanpa tanding. Para saintis menepuk dada, merasa telah menyingkap isi benak ‘Tuhan’. Kecongkakan ini diproklamasikan Stephen Hawking dalam karyanya yang masyhur, The Grand Design. Seakan seluruh gejala alam telah terjelaskan asal-usulnya; tinggal menghitung hari hingga sains sanggup mereplikasi kehidupan. Dan DIA pun disingkirkan dari panggung peradaban modern.
Penemuan-penemuan mutakhir justru mengejutkan peradaban. Keajaiban keteraturan alam kian membingungkan logika manusia. Sampai-sampai saintis sekaliber Werner Heisenberg—pencetus Uncertainty Principle dalam fisika kuantum—tercatat berkata: “Tegukan pertama dari gelas sains akan mengubahmu menjadi ateis, namun di dasar gelas itu, Tuhan telah menunggumu!”
Melintasi pertengahan abad ke-20, berbekal keandalan instrumen peneropong galaksi dan belantara bintang, para saintis melacak bagaimana alam semesta mewujud. Mereka meneliti jejak awal Big Bang, riwayat bintang, hingga muasal atom. Temuan-temuan ini menguncang ‘iman’ kaum saintis yang umumnya berfondasi ateis.
Astrofisikawan Inggris, Fred Hoyle—seorang ateis gigih—menemukan bahwa tingkat energi atom karbon wajib presisi mutlak. Tak boleh kurang pun berlebih, demi terwujudnya karbon sebagai penopang utama hayat di alam semesta. Hingga ia sendiri terpana dan berujar: “Penafsiran rasional atas fakta-fakta ini mengisyaratkan bahwa sebuah kecerdasan super telah mengutak-atik fisika, kimia, serta biologi.”
Menjelang penghujung abad ke-20, para saintis menemukan ketidakcocokan tajam antara kalkulasi teoritis dan pengamatan mengenai energi ruang hampa—fenomena yang tersohor sebagai ‘Skandal Konstanta Kosmologis’. Fisikawan Steven Weinberg pada akhir 1980-an membuktikan: bila nilai konstanta ini dinaikkan sedikit saja dari kadar semestinya, alam semesta terdorong memuai terlampau cepat hingga galaksi takkan pernah mewujud. Sebaliknya, bila diturunkan sekelumit saja, alam semesta pasca-Big Bang bakal serta-merta runtuh kembali, Big Crunch!
Begitu presisi kadar konstanta ini, hingga peluang kemunculannya hanya satu berbanding 10¹²⁰—satu kemungkinan di antara angka satu yang diekori 120 angka nol. Ini tingkat kemustahilan yang mendekati dengan ‘nol mutlak’! Padahal, jumlah seluruh atom di jagat teramati diperkirakan hanya sekitar 10⁸⁰. Dalam bahasa lain: andai tiap atom disematkan satu deret angka, seluruh materi di kolong langit takkan cukup untuk menampungnya!
Bayangkanlah sebuah koper dengan kunci 3 roda angka (0–9). Terdapat 1000 kemungkinan kombinasi, dan Anda hanya diberi satu kali kesempatan menerka. Bila tebakan pertama meleset, butuh berjam-jam memutar tiap angka agar dapat menemukan kombinasi yang tepat.
Kini bayangkanlah! Agar daku dan dikau dimungkinkan bernapas di muka bumi, Anda diminta menebak kombinasi ‘Gembok Alam Semesta’ beroda 120 angka secara acak dalam sekali coba. Peluang menebak deretan 120 digit itu secara presisi dalam sekali putar adalah satu berbanding 10¹²⁰—sebuah rasio yang dalam kaidah statistik bermakna kemustahilan mutlak.
Ketepatan angka-angka ini tersohor dalam sains sebagai ‘fine-tuning’. Sejak mula, sains sekuler enggan mengakui bahwa semesta terwujud lewat reka tata Ilahi. Namun, kalkulasi dan prediksi fisika mereka sendiri berulang kali mengungkap kadar yang terlampau presisi untuk melahirkan keteraturan sesempurna ini sebagai kebetulan acak murni belaka!
Guncangan ‘iman’ di kalangan saintis ini memantik aneka tanggapan. Tak sedikit fisikawan—yang mulanya berkiblat ateis—akhirnya bersuara lantang: bukti-bukti ini menyingkapkan bahwa jagat raya merupakan mahakarya dari suatu Pikiran yang Mahacemerlang!
Dari keanggunan tatanan kosmis ini, para saintis berpaling pada konsep ‘God of Spinoza’—Tuhan gubahan Baruch Spinoza. Fisikawan teoritis cenderung memilih sosok Ilahi yang menyatukan diri dalam harmoni alam yang teratur, bukan Tuhan personal yang mengurusi nasib dan perbuatan manusia. Bagi mereka, Tuhan adalah jagat raya itu sendiri: The Mother Nature—Deus sive Natura!
Aaahhh… ini perkara kalbu, bukan semata olah logika! Alih-alih memuliakan-NYA, peradaban justru mereka-reka ‘tuhan’ baru yang cocok dengan selera (Roma 1:23)! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
