“Di hadapan rancangan-NYA yang melampaui waktu, daku tersungkur. Sebab di ujung segala tanya, hanya ada satu jawaban jujur: tidak tahu.”
Setiap kali jemari menggoreskan narasi ini, daku selalu tertegun dalam pusaran takjub. Bagaimana tidak? Jika DIA Yang MAHA TAHU, telah tahu bahwa kelak ciptaan-NYA akan berbalik memberontak, mengapakah DIA tetap melangkah dengan rancangan penciptaan?
Apakah tidak ada pilihan skenario yang lebih anggun, agar tidak ada riwayat di mana para pemain beramai-ramai mengeroyok sang Sutradara?
Aaahhh… Sang MAHA BIJAKSANA—yang menyelami segala kemungkinan serta jalinan rumit antar peristiwa—tetap berteguh hati pada original plan.
Bagi DIA, niscaya tidak sukar merajut semesta yang serba harmonis dan memahat makhluk yang berprilaku manis. Sebuah dunia yang tunduk, yang setiap makhluk yang ada secara built in akan mengikuti segenap petunjuk. Tidak ada celah untuk menyimpang ke kiri ataupun ke kanan; seluruhnya melangkah taat sesuai dengan aturan.
Tiada perseteruan, tiada riak dusta; segenap makhluk melangkah seturut manual. Tiada pelaku kriminal, seluruh hidup mengalir normal dan ideal. Sebuah dunia dengan satu lisan, satu suara, satu budaya, di mana semua hidup bahagia selama-lamanya.
Namun, mau bagaimana? DIA tetap dengan rancangan semula. Sebuah ketetapan yang membuka ruang dan merelakan daku dan dikau memilih: setia pada titah atau bangkit mendurhaka?
Kini, terdamparlah daku dan dikau di buana ini—sebuah bumi yang kian hari kian keruh, menyerupai neraka.
Meski enggan dan berusaha menolak, rasanya sia-sia. Daku telah terlanjur ada; sang waktu tak mungkin lagi diputar surut ke semula. Barangkali, jauh lebih bijak memeluk kenyataan ketimbang hanyut dalam angan-angan bahwa semua kepedihan hidup ini hanyalah mimpi belaka.
Realitas ini nyaris membuat ‘gila’, sampai-sampai bisa saja kepada satu kesimpulan: DIA tidak ada. Ataukah sebaliknya? Fakta ini menyimpan rahasia: bahwa kisah ini belum selesai saat tutup usia. Masih ada kelanjutan drama; sesuatu di balik cakrawala yang kini tengah menanti Anda!
Bagi nalar insani, semua ini teramat sukar diselami!
Mengapa DIA tetap kukuh dengan original plan, padahal kelak para lakon bakal melompat keluar dari alur kehendak-NYA? Para lakon—baik dari jagat seberang maupun dari dimensi bumi—seolah bermufakat untuk bangkit mendurhaka terhadap titah-NYA.
Betapa tersayat hati sang Lelaki dengan kisah ini! Sudah pun tahu, mengapa DIA tetap memilih mengeksekusi original plan?
Bayangkan sesosok orok yang baru lahir, ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Si jabang bayi meronta-ronta kesakitan, dengan tali pusar yang belum terputus dari badan. Lumuran darah di sekujur tubuh masih beraroma anyir. Jika saja tiada pertolongan, niscaya sang bayi akan segera wassalam!
Melintaslah seorang Lelaki paruh baya.
Aaahhh.. hatinya tak tega berpaling berlalu begitu saja. Digerakkan oleh rasa iba yang mendalam, dipungutnya sang jabang bayi lalu dibawanya pulang. Dengan limpahan kasih, dibasuh dan dirawatnya bocah itu hingga tumbuh bugar. Ia berkembang, lalu menjelma menjadi gadis cantik nan jelita.
Entah kegelapan apa yang merasuki sukmanya. Tak tahu bagaimana, si jelita justru menjajakan kemolekan dirinya pada setiap petualang. Prilaku ini meremukkan hati sang Lelaki hingga hancur berantakan. Tatkala sang Lelaki menegur tabiat nista anak gadisnya, sang dara justru bangkit melawan. Tanpa musabab, ia benci dan memusuhi sang pelindung yang malang.
“Apakah salah-Ku…?” gumam sang Lelaki berbisik sendiri, tatkala sang gadis telah kabur dari rumah. Segenap kebutuhan, pakaian sutra dari India hingga alas kaki dari kulit rusa, seluruhnya telah terhidang tanpa kurang suatu apa. Namun nestapa, kian elok parasnya, kian liar pula tabiatnya (terinspirasi dari Yehezkiel 16).
Dan… aaahhh! Demi merebut kembali sang dara dari cengkeraman para petualang, sang Lelaki justru harus membayar tebusan yang teramat mahal: diri-NYA sendiri!
Meski telah tahu bahwa akibat kedurhakaan Puan dan Tuan akan menjadikan DIA sebagai korban (1Petrus 1:18-20). Namun, mengapakah DIA tetap kokoh kepada original plan? Daku tidak tahu! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


