397. Tahu – Mampu!

Viewed : 292 views

Daku sudah terlanjur dewasa, begitu juga dikau, ya Adinda, yang tengah membaca renungan ini. Berdua kita sudah tidak lagi tahu bagaimana rasa, tatkala semua tindakan spontan lahir dari kepolosan. Ketidaktahuan akan sebab akibat, apalagi dari niat jahat.

Tindakan yang sama sekali tidak didasari dengan motivasi akal bulus yang tersembunyi, setiap kata keluar begitu saja tanpa direka-reka agar yang lain celaka. Bukankah keadaan ini sangat sulit dibayangkan bahwa itu ada, khususnya bagi daku yang telah dewasa?

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, (Kejadian 2:16,17)

for God knows that when you eat from it your eyes will open and you will be like divine beings who know good and evil.” Kejadian 3:5 (versi NET)

Kalaupun dapat diduga, Adam Hawa hanya satu yang mereka tahu, jangan memakan buah itu. Si kerub licik menggoda: ”jika memakan buah itu,” ucapnya jumawa menjelaskan, justru mata mereka akan terbuka dan akan menjadi seperti salah satu dari makhluk-makhluk sorgawi (divine being).

Perlu digarisbawahi bahwa godaan ini berkisar tentang pengetahuan (knowing), tahu tentang yang baik dan yang jahat, dan bukan akan memiliki kemampuan (capable) untuk bertindak baik atau jahat! Dua hal yang tentu berbeda.

Pengertian di atas lebih jelas terlihat dalam bingkai Adam Hawa sebagai makhluk dengan kapasitas free will. Mereka telah terlebih dahulu memiliki kehendak bebas, kapasitas untuk memilih jalan sendiri. Pilihan entah ke kiri ke kanan atau tetap dalam barisan, tindakan menyimpang ataupun sikap untuk tunduk aturan.

So, sebelum adegan Taman Eden, sebagaimana makhluk-makhluk sorga, sejoli pun telah ada kemampuan menentukan nasib sendiri. Namun sebaliknya, Adam Hawa belum pernah ada pengalaman yang berkaitan dengan hal-hal yang jahat, baik karena perbuatan sendiri ataupun contoh dari yang lainnya.

Penggunaan frasa tahu yang baik dan yang jahat dalam kosakata bahasa Iberani yang sama terdapat juga di bagian lain dari Alkitab. Untuk memahmi konteks arti itu dalam kitab Kejadian tersebut, ada baiknya melihat penggunaan yang sama di ayat lain.

Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya. (Ulangan 1:39)

Ayat ini menunjuk ke kisah sungut-sungut bangsa Israel setelah ke luar dari Mesir di bawah komando Musa. Mereka mendesak bahkan memilih lebih baik binasa di Mesir ataupun di padang gurun dari pada harus terus berjalan menuju tanah Kanaan (Bilangan 14).

Dan DIA mengabulkan pilihan mereka. Selama 40 tahun berkelana di padang gurun sehingga binasalah seluruh generasi pertama, kecuali Yosua, Kaleb, beserta keluarga. Inilah latarbelakang dari Ulangan 1:35.

Generasi ke dua, yang masih kanak-kanak di kala itu, jelas tidak dianggap bertanggungjawab secara moral atas tindakan orangtua mereka. Walau mereka berada di bawah otaritas orangtua, namun mereka tidak ada hak untuk memilih jalan sendiri. Sehingga mereka tidak dapat dituntut bertanggungjawab alias luput dari konsekwensi pilihan orangtua. Genarsi ke dua di hadapan-NYA: innocent, kudus!

Cara pandang yang sama, dapat diterapkan dalam memahami Kejadian 3. Sebelum Adam Hawa tahu yang baik dan yang jahat, mereka innocent, suci di mata-NYA. Tidak pernah ada niat dalam hati, begitupun kesadaran untuk melawan titah ilahi.

Setelah Adam Hawa jatuh ke dalam pelukan si penggoda, segalanya jadi berbeda! Faktanya, sekarang daku dan dikau serba tahu dan mampu. Karenanya, Adinda tidak lagi dapat berdalih untuk lepas dari tanggungjawab. Pilihan ada di tangan Puan dan Tuan, ke kiri ke kanan atau tetap dalam barisan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments