462. Musuh Bebuyutan

Viewed : 358 views

Dari sudut pandang lain, dapatlah dikatakan gerombolan anak-anak Allah dalam Kejadian 6:1-4 mencoba meniru YHWH untuk menghadirkan makhluk segambar dengan mereka di bumi. Perbuatan tercela ini menghasilkan keturunan anomali. Generasi Nephilim dengan prilaku biadad menyebar ke mana-mana tak terkendali.

Narasi Perjanjian Lama lebih menonjolkan peran secara fisik generasi Nephilim setelah air bah dalam kaitannya dengan keberadaan bangsa Israel. Keturunan anomali ini menjadi musuh utama bangsa pilihan merebut tanah Perjanjian (Bilangan 13:32-33).

So they brought to the people of Israel a bad report of the land that they had spied out, saying, “The land, through which we have gone to spy it out, is a land that devours its inhabitants, and all the people that we saw in it are of great height. And there we saw the Nephilim (the sons of Anak, who come from the Nephilim), and we seemed to ourselves like grasshoppers, and so we seemed to them.”. (Bilangan 13:32-33, ESV)

Fast forward, generasi Nephilim ternyata masih muncul setelah bencana air bah, seperti juga diindikasikan dalam ayat 4 Kejadian pasal 6. Di Bilangan 13:33 merupakan penyebutan pertama dan terakhir istilah Nephilim setelah air bah. Turun temurun generasi hibrid ini terus menjadi penghalang utama bagi bangsa Israel yang akan memasuki Tanah Perjanjian dan sekaligus menjadi musuh bebuyutan.

Sebutan generasi Nephilim kelak akan berbeda-beda sesuai dengan era dan wilayahnya. Nephilim dikaitkan dengan bangsa Anak (atau Enak dalam bahasa Indonesia), oleh bangsa Amon keturunan ini juga disebut sebagai berasal dari Rephaim yang disebut Zumzummin (Ulangan 2:20-21). Bangsa Moab menyebut keturunan raksasa ini dengan sebutan Emim (ulangan 2:10-11). Dan raja Og, raja wilayah Basan, dikenal sebagai turunan terakhir dari Rephaim (Ulangan 3:11)

Prilaku keturunan Nephilim sebelum air bah biadab, demikian pula generasi berikutnya setelah air bah terhadap keberadaan bangsa Israel. Pertempuran turun temurun yang tiada habis-habisnya, musuh bebuyutan. Nafsu biadabnya hanya satu, agar bangsa pilihan terusir dari tanah perjanjian dan sekaligus melenyapkannya dari muka bumi.

Tidak heran sejarah keberadaan bangsa Israel berdarah-darah. Sebagaimana YHWH, seakan-akan tanpa belas kasih, melenyapkan seluruh Nephilim dan keturunannya bersama-sama peradaban yang telah tercemar dengan banjir besar. Demikian juga peperangan bangsa Israel melawan sisa-sisa keturunan Nephilim yang terlebih dulu bercokol di Tanah Perjanjian beserta sekutu pendukungnya.

…tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” (1 Samuel 15:3)

Bagi kacamata peradaban modern, peperangan all out ini terbilang sadis tak berprikemanusiaan dan dapat dicap sebagai tindakan pembantaian, genosida! Tanpa melihat latarbelakang dan kaitannya hingga Kejadian 6, wajar jika Adinda pun menganggap demikian adanya.

Ini peperangan mati-matian! Jika musuh keinginannya hanya satu, maka tidak ada lagi jalan tengah. Berdamai bukanlah pilihan! Membiarkan musuh hidup turun temurun berlipatganda artinya, ya tinggal tunggu waktu! So, pembasmian bak bencana air bah menjadi jalan jitu untuk mengakhiri jalan buntu.

Narasi peperangan PL berdarah-darah. Di PB, umat percaya musuh bebuyutannya bukan makhluk dari daging-darah. Ini pun peperangan all out yang tiada henti-hentinya, 24/7. Jangan terperdaya, musuh utama dikau dan daku bukan sesama manusia, tetapi Nephilim dan keturunannya yang telah menjadi roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12).

Maaf! Aku merasa tidak ada musuh, hidupku aman-aman saja! Bagaimana dengan Adinda? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments