Demam makhluk dari luar dimensi bumi melanda masyarakat umum setelah dirilisnya film E.T (Extra-Terrestrial) pada tahun 1982. Sutradara Steven Spielberg cukup berhasil memukau penonton dengan kisah seorang makhluk luar angkasa yang tertinggal di bumi.
Disamping ikatan emosional yang terjalin antara si E.T. dengan si bocil, Elliot, dan saudara-saudaranya, ada sosok pemerintah yang berusaha untuk menangkap si E.T. Untuk apa? Kalau bukan untuk diteliti secara ilmu pengetahuan, untuk apa lagi?
Keinginantahuan manusia dengan apik diwakili oleh usaha keras pemerintah untuk menemukan si E.T. dari persembunyiaannya. Walau Elliot cs telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya, namun akhirnya pemerintah dapat juga mengendus keberadaannya.
Steven Spielberg telah berhasil menciptakan sebuah kisah yang menggabungkan elemen fiksi ilmiah dengan emosi terdalam manusia, bahwa mereka tidak sendirian di alam semesta nan maha luas ini. Konten ini menjadikan E.T. the Extra-Terrestrial sebagai salah satu film paling dicintai sepanjang masa.
Dari teloskop terbesar di dunia, FAST (Five-hundred-meter Aperture Spherical Telescope), di Guizhou, China dengan diameter cakram 500 meter hingga jaringan stasiun antena radio besar yang dikelola oleh NASA, The Deep Space Network (DSN), semua berusaha untuk menangkap keberadaan gelombang radio atau sinyal dari angkasa luar. Berharap dengan demikian dapat ditemukan keberadaan sinyal walau sangat lemah dari pulsar, galaksi yang jauh, dan pencarian sinyal dari peradaban luar angkasa.
Sebagaimana teknologi pencarian keberadaan E.T. semakin maju, begitu pula pemahaman apa yang sesungguhnya terjadi dalam drama kitab Kejadian 6:1-4 juga semakin berkembang. Semakin banyak temuan sinyal, walau lemah, semakin jelas gambar besar adegan di luar nalar apa yang hendak disampaikan di pasal 6 tersebut.
Bayangkan! Bagaimana harus menyampaikan suatu peristiwa pencampuran antar dimensi sehingga melahirkan generasi anomali untuk pembaca ribuan tahun Sebelum Masehi hingga untuk generasi masa kini. Rangkaian kata disusun membentuk narasi, sehingga trailer itu dimaknai sepanjang zaman dengan pemahaman seperti yang dimaksudkan penulisnya.
makhluk-makhluk ilahi melihat bahwa gadis-gadis itu cantik-cantik. Lalu mereka mengawini gadis-gadis yang mereka sukai. (kejadian 6:2 BIS)
Dengan melihat drama Kejadian 6:1-4 sebagai bagian utuh dari keseluruhan Alkitab, maka kejadian di ayat 2 di atas tidak diartikan secara harfiah. Dalam cara pemahaman ini makhluk adikodrati yang melawan YHWH bertanggungjawab atas lahirnya Nephilim, yang kelak melahirkan generasi anomali (ayat 4).
Pendekatan ini mengambil analogi dari hubungan antara YHWH, Abraham, dan Sara serta kelahiran Ishak (Kejadian 18:1-15). Dalam kisah tersebut, YHWH menjanjikan bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun berikutnya (ayat 10). Secara medis, hal ini mustahil, karena Sara, yang sudah lanjut usia, tidak lagi mampu menghasilkan sel telur yang dapat dibuahi (ayat 11).
Kelahiran Ishak tidak mungkin terjadi tanpa supernatural Intervention dari Sang Ilahi. Bagaimanakah bentuk intervensinya? Untuk isu sejenis ini Alkitab bisu seribu bahasa. Yang pasti YHWH tidaklah mengambil Sara sebagai istri untuk menghasilkan keturunan, layaknya sesama insan! Abraham tentunya masih berperan. Namun wajar jika kelak YHWH akan disebut sebagai Bapa-nya Israel (Yeremia 31:9).
Mungkinkah analogi ini juga berlaku bagi lahirnya generasi anomoli di Kejadian 6:1-4? Anak-anak Allah yang mbalelo intervensi terhadap kehidupan manusia di era itu. Makhluk-makhluk adikodrati ini bertanggungjawab atas lahirnya generasi raksasa. Wajar jika mereka akan disebut sebagai bapa-nya keturunan sungsang itu! (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
