442. Fallen Angels

Viewed : 223 views

Siapa yang dimaksud dengan istilah anak-anak Allah (Kejadian 6:2) menjadi perdebatan sepanjang sejarah. Di Hebrew Bible (Perjanjian Lama), istilah anak-anak Allah dapat menunjuk kepada mahkluk supernatural (Ayub 38:7) maupun umat Israel alias manusia biasa (Ulangan 14:1).

Konon, cukup lama pemahaman anak-anak Allah itu dianggap sebagai manusia biasa, khususnya dari garis keturunan Set yang saleh (Kejadian 4:25-26; 5:3-4). Pendapat ini mendominasi pemikiran para teolog, terutama setelah santo Agustinus membahas isu ini dalam karyanya City of God. Sebagai seorang bapak gereja yang disegani pada zamannya, pemahaman ini mulai dianut mayoritas gereja sejak akhir abad ke 4 M bahkan hingga saat ini (Unseen Realm, Heiser, p94-99).

Namun, sebelum akhir abad ke 4 M, istilah ‘anak-anak Allah’ umumnya diartikan sebagai makhluk adikodrati yang dalam bahasa rasul Petrus disebut sebagai para malaikat (2 Petrus 2: 4). Demikian pula, tradisi Yahudi pada Second Temple Period dan catatan-catatan kuno dari sumber-sumber di luar Alkitab, seperti 1 Enoch, semuanya sepakat bahwa istilah ini menunjuk kepada mahkluk surgawi.

Dengan memahami Kejadian 6:1-4 dalam konteks budaya Mesopotamia kuno dan latarbelakang penjelasan dalam 2 Petrus dan kitab Yudas, ayat-ayat ini jelas mengisahkan segerombolan mahkluk dari dimensi lain menembus batas untuk hadir dalam dimensi bumi. Fenomena ini melatarbelakangi narasi baik di bagian lain dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (2 Petrus 2:4)

The fallen Angles, malaikat-malaikat yang berbuat dosa dalam 2 Petrus 2 tersebut dijelaskan dalam bingkai era nabi Nuh dan air bah (ayat 5). Pelanggaran melewati batas ini (Yudas 1:6) dikaitkan dengan isu percabulan dan moralitas di kota Sodom-Gemora (ayat 6 dan Yudas 1:7).

Dosa ini diartikan baik oleh rasul Petrus maupun Yudas sebagai pelecehan terhadap otoritas Sang Maha Kuasa dengan menghina pemerintahan Allah, menghujat kemuliaan, dan tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka (2 Petrus 2: 10 dan Yudas 1: 6). Ini tindakan nyata melawan Sang Maha Penguasa, ambisi untuk lepas dari otoritas YHWH.

Setali tiga uang dengan trailer di Taman Eden. Di Eden, si kerub sendirian hendak terbang tinggi mengatasi bintang-bintang hingga menyamai Sang Maha Tinggi (Yesaya 14: 14). Lain halnya dengan drama di Kejadian pasal 6, segerombolan anak-anak Allah ambil langkah kungfu dengan menusuk DIA dari belakang, dengan membangkang.

Jika di Eden bak si paspampres yang berkhianat, maka di Kejadian 6 justru anak-anak yang memberontak! Si kerub berambisi terbang tinggi mengatasi langit, tak tahunya ke alam kubur dia tercebur (Yesaya 14:15). Di Kejadian 6, malahan anak-anak yang ambisinya meluap-luap, tak tahunya mereka berakhir di gua-gua yang gelap… (2 Petrus 2:6).

Apakah dengan amukan gelombang besar air drama ini telah berakhir? Tidak ada indikasi sama sekali di Alkitab bahwa free will makhluk adikodrati begitupun makhluk bumi sudah dianulir. Sebaliknya, peringatan berikut mengisyaratkan Adinda tetaplah harus waspada!

Bukankah malaikat gelap pun dapat tampil sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14). Hati-hati bertegor sapa, siapa tahu Adinda tengah bercanda dengan mahkluk surga (Iberani 13:2).

Mungkinkah drama di Kejadian 6 dapat terulang kembali? Itukah alasannya kaum Hawa diminta untuk tampil berwibawa, jangan menggoda? (1 Korintus 11:5,6,10)

Aaahhh, pembaca yang budiman! Adinda-lah yang kelak akan menghakimi malaikat-malaikat yang tidak taat aturan (1Korintus 6:3)! Peran Anda akan turut menentukan. Drama berikutnya akan jauh lebih seram yang sekarang tengah menunggu giliran jam tayang! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments