1 Timotius 1:15-16
Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
Allah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus untuk menebus kita. Dalam hal itu, posisi di mana kita? Di mana kita menempatkan diri?
Rasul Paulus menempatkan dirinya sebagai orang paling bawah. Paling berdosa. Paling hina. Merasa teramat tidak layak.
Kita bagaimana?
Semakin kita merasakan bahwa sesungguhnya kita tidak layak diampuni, hal itu membuat kita semakin menghargai keselamatan kita. Kita semakin merendahkan hati dan diri kita di hadapan Tuhan.
Kalau kita merasa keselamatan kita biasa-biasa saja, maka besar kemungkinan rasa syukur dan penyerahan hidup kita kepada Dia juga akan datar dan biasa-biasa saja. Kurang menyelami arti dan makna keselamatan yang Allah telah anugerahkan.
Bayangkanlah bila kita dalam kondisi kritis dan berbahaya, lantas ada orang berkorban menyelamatkan kita. Apakah kita merasa sepi saja. Apakah kita merasa orang yang menyelamatkan itu hanyalah biasa-biasa saja? Apakah kita merasa orang tersebut kurang kerjaan sehingga kita merasa enteng-enteng saja tanpa rasa hormat?
Doa dan ungkapan hatiku dalam ketidaklayakanku…
‘Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah menderita luar biasa di kayu salib demi diriku. Akulah orang paling hina di antara orang-orang yang Engkau selamatkan. Aku paling tidak layak di antara mereka yang Engkau angkat jadi anak-Mu. Aku paling bawah. Buatlah aku selalu mengingat hal ini. Buatlah aku merendahkan hati di hadapan-Mu. Akulah debu paling ringan di antara debu-debu yang Engkau selamatkan. Aku bersyukur atas kasih-Mu yang sungguh amat luar biasa besarnya. Dalam waktu yang masih ada, aku ingin dan rindu memuliakan dan melakukan kehendak-Mu. Hanya itu yang dapat kupersembahkan dalam kesempatan hidup yang masih Engkau berikan. Tolong dan bantulah aku untuk mewujudkannya. Amin.
Selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus Kristus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




