277. A Ceremonial Washing

Viewed : 1,015 views

Hidup tidak dapat lepas dari kebiasaan. Kebiasaan yang diturunkan dari generasi ke genarasi, suatu waktu di ujung sana berubah menjadi kebudayaan. Kebudayaan yang diwariskan dari nenek moyang sudah dapat dianggap sebagai suatu pedoman etika kehidupan. Itu sebagai petunjuk standard bagaimana harus berelasi dengan sesama insan.

Setiap suku memiliki kebiasaan unik tersendiri. Apa yang baik dalam satu kaum, di kelompok yang lain itu belum tentu berkenan di hati. Penerimaan terhadap suatu kebisaaan ataupun kebudayaan bergantung kepada era dan lokasi.

Setiap zaman, sebagaimana di dunia musik, ada jenis ritme nada yang digandrungi. Bagi daku dan dikau yang remaja di era 1970’an, maka nada melankolis Bee Gees akan terasa pas sekali di telinga. Mendengarkan alunan serius-serius jenaka Koes Plus di malam nan sunyi, itu terasa sekali meresap ke dalam hati.

Namun sebaliknya, bagi dikau yang remaja di era tahun 2000’an. Senandung nada-nada manja Trio Ambisi akan terasa asing, walau ritmenya apik itu terasa bising. Mengapa? Bukankah irama dan liriknya sepanjang waktu tidak ada perubahan?

Bukan masalah di iramanya, bukan pula karena nadanya sudah tidak sama. Tidak ada yang salah dengan musik Bimbo ataupun penyanyi kondang kala itu, Titiek Sandora. Era pendengarnyalah yang sudah berbeda. Frekwensi nada yang cocok di telinga yang tidak lagi sama. Bagi generasi yang terdahulu itu begitu merdu, namun bagi generasi kemudian itu terasa dingin kaku.

Mungkin, serupa itukah juga terjadi dalam ibadah? Tradisi umat percaya dalam menyembah Allah!

Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh ( a ceremonial washing, NIV). Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” (Markus 7:2,5)

Bagi golongan tokoh agama, mengamat-amati murid-murid Kristus tidak mengikuti adat istiadat alias kebiasaan turun temurun, itu ibarat nada bising di telinga. Itu layaknya sebutir pasir di mata, sangat mengganggu kekhusukan beragama.

Bagi elite rohaniawan, tindakan nekad itu bukan sekadar dianggap melanggar kebiasaan, bukan pula hanya tidak sesuai dengan hal-hal yang menyangkut kebudayaan. Itu bak doa sebelum makan, jika abai itu dianggap sebagai pelanggaran ritual kekudusan.

Makan dengan tangan najis karena tangan tidak dibasuh! Tindakan ini kontan membuat ahli agama gaduh. Ini tidak ada hubungan dengan isu higienitas di era si Corona. Bukan! Ini menyangkut kesucian di hadapan Tuhan. Berkenan tidaknya di hadapan yang Maha Kuasa, itu tergantung bagaimana daku dan dikau mengikuti kebiasaan yang sudah begitu lama. Membasuh tangan sesuai aturan agama.

Di era new normal, semua kebiasaan lama dirubah seketika. Bagi sebagian umat, ini dianggap gak apa-apa. Namun, bagi pemimpin jema’at, ini bisa jadi malapetaka. Bagaimana mungkin ritual belasan abad dirubah begitu saja, bukankah ini berarti umat kehilangan kesempatan dalam hidup untuk beribadat?

Ini kesempatan baik untuk melihat daku dan dikau itu ‘siapa’! Pemimpin agama yang begitu kukuh memegang adat kebiasaan ritual pembasuhan tangan ataukah bak murid-murid yang kelihatannya sengaja abaikan aturan turun temurun?

Kebiasaan membasuh tangan sungguhlah amat baik, apa lagi sebelum menyantap lauk pauk. Namun, kebiasaan yang membuat daku dan dikau bertumbuh dalam iman, semangat dalam mengikut Tuhan, tetaplah itu bukan suatu kebenaran yang berlaku sepanjang zaman.

Jika ada yang tidak mengikuti ritual prosesi ceremonial washing, mungkin karena beda peradaban. Jadi kalau ritual ibadah mingguan ditiadakan, jangan gugup gemetaran. Sila dengarkan, pilah-pilah ritme dan nada sesuai zaman. Putar lagu sesuai irama era ketidakpastian. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Ilona Frey on Unsplash

Comments

comments