Ini masa-masa perubahan. Periode turbulesi di segala aspek kehidupan. Tidak ada yang sebegitu kuat untuk bertahan. Semua bak daun satu-satu berguguran. Kebiasaan yang sudah berumur ratusan tahun pun ditinggalkan. Ritual agama yang ketat dipelihara dari turunan ke turunan. Itu begitu saja terabaikan.
Sebegitu rapuhnyakah keyakinan? Hanya dengan serangan si Corona sendi-sendi iman bertumbangan. Atau inikah waktu untuk mempertanyakan? Perkara-perkara yang dulu tabu diucapkan. Sekarang si virus menunjukkan. Kenyataan yang sulit diyakinkan. Kalau bukan wabah ini yang menjelaskan. Maka rahasia berabad-abad itu akan tetap misteri sepanjang zaman.
Golongan elite rohaniawan dibuatnya keder. Seakan-akan semua tersadar dari teler. Begitu cepat hanya sekitar 1 semester. Semua begitu cepat beralih. Itu bukan karena ada kesempatan untuk memilih. Bisa jadi dulu itu hanya untuk konsumsi di kelas-kelas Perguruan Tinggi. Paling tidak habiskan 8 semester untuk studi. Sekarang kaum awam saja mudah dapat mengerti.
TUHAN berfirman, “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah macam apakah yang hendak kaudirikan bagi-Ku, yang dapat menjadi tempat perhentian-Ku? (Yesaya 66:1,FAYH)
Wow wow wow. Mungkinkah nabi Yesaya tengah menngungkapkan suatu misteri? Di seberang mentari. Di ballik galaksi. Sebelum lonceng jam mulai berbunyi. Dari dulu bahkan hingga kini. Sang Pencipta ada niat di hati. Itu kerinduan Sang Ilahi. Rahasia yang sejak dari abad ke abad tersembunyi. Sekarang dinyatakan dengan hati-hati. Si Corona menolong itu jadi mudah dapat dimengerti.
Allah mencari. Bak DIA gelisah tak dapat berdiam diri. Satu persatu diteliti. Setiap sudut semesta diamati. Bintang, planet, dan nebula juga tak terkecuali. Semua diawasi. Ternyata langit pun tidak mencukupi. Semua gagal memenuhi kualifikasi. Rumah macam apakah yang layak untuk tempat DIA henti?
Layaknya di tahun ajaran baru di perguruan tinggi. Orangtua sibuk mencari. Tempat yang pas untuk sang calon mahasiswi. Sudah puluhan kos-kosan dikunjungi. Belum juga didapat yang pas di hati. Tak bosan-bosan tanya sana tanya sini. Tetap bergairah. Tak kenal lelah. Hingga ketemulah. Kos-kosan yang sreg di hati. Begitukah perasaann-NYA ketika nabi Yesaya ungkapkan isi hati Sang Ilahi?
Akhirnya TUHAN mengaruniakan keadaan yang aman dan tentram di Israel, dan negeri itu tidak lagi melakukan peperangan dengan negeri-negeri tetangganya. Raja Daud berkata kepada Nabi Natan, “Lihatlah, aku tinggal dalam istana yang terbuat dari kayu aras, sedangkan tabut Allah berada di dalam kemah!” Nabi Natan menjawab, “Silakan Baginda melaksanakan niat hati Baginda, karena TUHAN menyertai Baginda.” (2 Samuel 7:1-3, FAYH)
Syahdan. Di sepanjang peradaban. Sejak mulai dari kitab Kejadian. Raja Daudlah yang permulaan. Yang pertama-tama punya gagasan. Ide yang didorong oleh keinginan. Untuk mewujudkan misteri. Menangkap rahasia keinginan hati. Membangun rumah bagi Sang Ilahi. Bisa jadi semua sejarah tentang rumah Tuhan dimulai dari kisah ini.
Bermula dari rasa ketidaknyamanan. Setelah raja berhasil mencapai kesuksesan. Keamanan di seantero kerajaan. Bagaimana mungkin raja tega. Apalagi duduk santai-santai di istana. Bangunan mewah dari kayu istimewa. Sementara tabut Allah berada dalam tenda. Bak kemah darurat dari kain perca.
Bagi hati seniman yang peka. Seperti hati raja. Ketidaknyamanan ini menyiksa. Kesuksesan itu terasa hampa. Tidak mungkin raja berpura-pura. Tidak melihat tabut Allah dibiarkan begitu saja. Tidur pun jadinya tidak nyenyak. Dada terasa sesak. Hingga muncul tekad membara. Membangun tempat kediaman bagi Sang Raja. Yang jauh lebih wah dari istana raja.
Gayung bersambut. Nabi Nathan pun menyahut. Dia melirik raja Daud. Dan sang nabi mengangguk. Raja Daud juga ikut tertunduk. Spontan semua ide cemerlang berkecambuk. Dan raja putuskan agar pembangunannya segera dikebut. Dan DIA tersenyum kecut!
Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman. (2 Samuel 7:4-6)
Rumah bagi DIA untuk didiami? Rumah macam apa yang DIA ingini. Jika langit pun tidak cukup luas untuk tumpuan kaki. Apakah DIA ingin rumah kayu aras dari Libanon? Atau sejenis bangunan berarsitektur seperti dari kota London. Lantai marmer dari Italia. Ataukah lampu kristal dari China?
Ups! Allah lebih tertarik sebagai Sang Pengembara. Tidak berkehendak diam di istana. DIA tidak ada alamat tetap. DIA bergerak kian ke mari dari abad ke abad. Bak musafir tidak ada tempat. Homeless God!
Allah, Sang Pengembara. Bak tunawisma bergerak ke mana-mana. Mencari rumah di seantero alam semesta. Tidak ada yang pas. Untuk sekedar meletakkan kepala.
Siapa nyana? Bak orangtua yang mencari kamar untuk disewa. Puas! Akhirnya ketemu juga. Sang Pencipta sreg tinggal dalam hidup Anda. Ini rahasia. Jangan bilang kepada siap-siapa. Cukuplah daku dan dikau nikmati saja. Misteri sepanjang masa. (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Mateus Campos Felipe on Unsplash
