Setelah dihasikannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. (Lukas 15:14)
Setelah dihabiskannya semua, si bungsu sadar bahwa tidak ada lagi harta yang bisa menjadi jaminannya. Tidak ada yang tersisa. Semua cepat lenyap. Tidak ada yang ditabur, tidak ada yang tumbuh, berkembang dan dapat dipanen. Semua terbuang dengan percuma. Dan kesadaran itu datangnya serba terlambat baginya. Ia berharap kepada para sahabatnya untuk dapat menolongnya.
Para sahabatnya meninggalkannya, ketika rupiah terakhir lepas dari tangannya. Tidak ada seorang pun sahabat yang datang menolongnya.
Dan seketika timbullah kelaparan di dalam negeri itu. Tidak ada yang tetap, semua berubah, dan kenyamanan pun dengan cepat berubah menjadi bencana. Tidak ada orang yang menolong dia. “Dimanakah mereka yang selama ini semeja dengan saya?”, seru pilunya tertahan di dalam hatinya. Hal yang dianggapnya berharga menjadi tidak ada nilainya lagi. Dan yang berharga di dunia ini pun sekejap menjadi bernilai bak seonggok sampah.
Ia melarat dalam artian yang sebenarnya. Ia melarat karena tiada harta, terlebih ia melarat di dalam kesunyian dan kesendirian. Semua orang meninggalkan dirinya. Ia kesepian, terpisah dan kelaparan. Sebuah kondisi yang selama ini tidak pernah dia alami, bahkan hal yang belum pernah terlintas alam pikirannya, telah menimpa dirinya. Dia tidak menduga begitu cepat keadaan berubah, dia tidak pernah siap untuk menghadapi semua hal yang menimpa dirinya.
“Mengapa hal ini terjadi padaku?” Jiwa ini ingin memberontak di dalam ketidakberdayaan. Ia mulai menyalahkan para sehabatnya, ia menyalahkan orang lain atas situasi dan kondisi yang dihadapinya. Ia menggerutu dan menyimpan dendam terhadap situasi yang dihadapinya, setiap hal menjadi kambing hitam atas kesulitan dan penderitaan yang dihadapinya.
Dirinya adalah pelaku sekaligus korban dari semua kejadian buruk yang dialaminya. Tetapi dirinya tidak menyadari bahwa kebebasan dan kemerdekaan yang dia inginkan menyisakan kekosongan di dalam hatinya.
Ia belum menyadari kebodohannya.
Penderitaan, kesepian, kesendirian dan kemelaratan yang dia alami bagaikan titik nol di dalam hidupnya. Memaksa dirinya untuk diam, tidak ada daya di dalam dirinya untuk bermegah. Diam untuk menyadari keberadaan dirinya yang sudah hancur.
Sang Bapak tetap sabar menunggu. Ia tahu bahwa sang bungsu akan mengalami hal-hal sulit di dalam hidupnya. Ia kenal siapa anaknya. Namun, dirnya tahu, bahwa dirinya tidak dapat mencegah sang bungsu untuk pergi meninggalkan rumahnya dan meninggalkan dirinya. Namun, sang bapak selalu berharap bahwa si bungsu akan menyadari pilihan hidupnya yang sembarangan, dan akhirnya kembali kepada dirinya.
Di luar rumah bapaknya, menjadi lebih mudah bagi si bungsu untuk tiba kepada kesadaraan dirinya. Sang bapak menunggu.
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |
Image by Gerhard Gellinger from Pixabay




