Hidup di luar Taman Sorga. Itu pilihan Adam dan Hawa. PIlihan yang dibuat akibat tipu daya. Dusta yang membelokkan makna cinta. Alih-alih asmara berbuah manis semata. Kasih mesra ternyata justru berujung nestapa. Rasa sakit yang tak terkira. Kesusahan yang dapat berakibat malapetaka. Hilang nyawa. Itulah nasib setiap manusia. Pengalaman manusia pertama. Sakit bersalin, sakit yang tiada tara.
Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” (Kejadian 3:16)
Susah payah waktu mengandung. Bagi ibu-ibu itu bak sembilan bulan terkurung. Seakan kesulitan yang tak berujung. Segala macam ketidaknyamanan bergelombang datang tak terbendung. Hingga puncaknya sampai di ubun-ubun. Tipis bedanya akankah itu akhirnya riang atau berkabung. Itu demi generasi ke generasi tetap berlangsung.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28)
Bahkan dalam melakukan mandat ilahi untuk berkembang biak. Bertambah banyak selaras perintah-Nya. Hingga keturunan Adam memenuhi dunia. Rasa sakitlah jalannya. Itulah fakta. Kenyataaan yang harus ditelan walau pahit rasanya. Dialami oleh setiap insan.
Sahabat! Taman Eden telah raib entah ke mana. Sakit bersalin, itulah realitas hidup di luar Taman Sorga. Itu bukan hanya melanda manusia. Namun itu juga mencakup semesta. Tak terkecuali dunia flora dan dunia fauna. Semua merasakan hal yang sama. Ketakutan yang mencengkram sadaya. Rasa sakit bersalin yang menghantui semuanya.
Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. (Roma 8:22, 23)
The Message:
All around us we observe a pregnant creation. The difficult times of pain throughout the world are simply birth pangs. But it’s not only around us; it’s within us. The Spirit of God is arousing us within. We’re also feeling the birth pangs. These sterile and barren bodies of ours are yearning for full deliverance.
Terjemahan dan paraphrasing:
Lihat sekeliling! Bukankah semua mengerang sakit bersalin? Masa-masa sulit nan pahit, rasa sakit melahirkan melanda dunia. Namun itu tidak hanya kena mereka yang di sekitar kita. Rasa sakit beranak pun dialami umat percaya. Hingga akhirnya angkat kaki, tinggalkan semua. Lepas dari tubuh fana!
Lihat sekitar! Itu menimpa yang terpelajar. Juga dialami yang membaca tak lancar. Baik yang ternama. Maupun yang kaya raya. Begitu juga yang hidup biasa-biasa. Semua mengerang sakit yang sama. Itulah nasib menimpa makhluk hidup. Sakit yang membuat hati redup. Semua menjerit kesakitan. Tidak ada yang dikecualikan. Bak mimpi buruk menjadi kenyataan.
Dunia yang menyakitkan. Penderitaan melanda semua ciptaan. Kekhawatiran menyerang setiap insan. Ketakutan yang tak dapat dijelaskan. Sesak bukan karena masalah pernapasan. Denyut nadi berantakan. Jantung berdebar tak karuan. Itu bukan karena masalah pencernaan. Enggak ada kait mengkait dengan persoalan kesehatan. Itu juga tak ada hubungan dengan pencapaian. Semua menderita sakit yang tak dapat diuraikan.
Lihat sekeliling! Muka suram di mana-mana. Wajah lesu putus asa menjelma. Dunia penuh ketidakpastian. Keadilan telah hilang entah sudah berapa lama. Semua mengerang. Menjerit minta pertolongan. Tidak ada yang menghiraukan. Sia-sia menanti teman. Masing-masing jalan dengan beban. Melangkah dalam ketidakjelasan. Semua ngeri menanti hari penantian. Sakit bersalin yang menyakitkan.
Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman — maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin– (1 Tesalonika 5:3)
Lihat ke dalam! Sakit ada di mana-mana. Kesakitan dapat datang kapan saja. Tak ada tanda-tanda. Tadi pagi masih sempat bercanda. Sorenya ada di rumah duka. Ketika umur panjang lebih membawa bencana. Penderitaan bagi semua keluarga. Jika kekayaan membawa malapetaka. Keluarga sikut menyikut memperebutkannya. Apalagi miskin dan papa. Sungguh malang hidup di luar Taman Sorga.
’A Painful World!’ Selamat datang di dunia yang menyakitkan. Sakit bersalin yang dialami setiap insan. Tak usah dikau menghindar ke kiri ataupun ke kanan. Jangan tertipu walau dikau merasa aman-aman. Karena itu nasib setiap makhluk ciptaan. Terima itu suatu kenyataan. Alangkah beruntungnya jika ada teman sejalan. Kawan saling mengingatkan. Semoga sampai tujuan! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |



