202. ’Manuskrip Asing’

Viewed : 1,283 views

Tinggallah daku sendiri. Walau sekitar ribut dengan berbagai macam bunyi. Telinga pekak karena suara bising sekali. Namun hidupku terasa sepi. Hati ngilu seakan tersayat sunyi. Itu terjadi ketika Dia ku tinggal pergi. Suara-Nya sudah tak terdengar lagi. Nada tak berirama. Vokal tanpa kata-kata. Tanda-tanda kehadiran. Bukti penyertaan. Dan jejak kakinya-Nya. Itu sudah hilang entah ke mana.

Mulanya cinta bersemi di Taman Sorga. Bak honeymoon sejoli bermesra-mesra. Bulan madu antara Adam Hawa dengan Sang Pencipta. Ikat janji tanda saling suka. Seakan sehidup semata untuk tetap bersama. Aura ikatan cinta ini tersebar ke mana-mana. Semua jadi turut bersukacita. Alam turut ria. Aroma gairah cinta tercium di seantero alam semesta. Sang Kuasa bersatu dengan manusia. Senada seirama.

Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. (Yesaya 55:12)

Apakah daya? Ini sudah menjadi fakta. Lika liku cinta berakhir duka. Tadinya bahagia. Semua gembira. Siapa sangka. Manusia termakan rayuan dari Sang Pendusta. Daku dan dikau mengkhianati cinta. Cinta pertama berakhir di ujung lara. Itulah narasi cinta manusia. Kisah sejak dulu kala. Dulu Adam dan Hawa begitu. Sekarang pun daku dan dikau seperti itu. Ini stori cinta terluka berujung nestapa.

Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. (Hosea 6:7)

Pengkhianatan itu perih. Alam semesta turut sedih. Semua makhluk tertunduk malu berjalan tertatih-tatih. Bak kawan menusuk dari belakang. Itu seakan menggunting dalam lipatan. Siapa tahan? Yang alami bisa-bisa sakit ingatan. Melihat kekasih bermain mata. Hatinya terbagi dua. Terpikat dengan yang lainnya. Betapa sakitnya kekasih berubah setia.

Dan Dia diam walau dikecewakan. Menahan rasa sakit yang tak terkatakan. Karena cinta-Nya. Manusia direlakan. Ikuti kemauan. ’Sila! Ikuti keinginan,’ imbuh-Nya pelan-pelan.

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (Kejadian 3:6)

Itulah momen manusia hidup menurut pilihan. Manuskrip asing yang berdasarkan ‘buah pengetahuan.’ Kisah yang narasinya akal-akalan. Percaya asal dapat dibuktikan. Diraba nyata baru yakin itu bukan khayalan. Semua yang tak dapat dirumuskan dianggap hanyalah impian. Yang tidak masuk nalar ditinggalkan.

Logika ditempatkan sebagai komandan.

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. (Kejadian 3:23)

Ketidaksetiaan cinta itu sungguh menyakitkan. Relasi rusak berantakan. Cenderung jadi salah sangka. Rasa sakit bersalin menjalar ke mana-mana. Kata-kata mesra berubah jadi hambar. Bicara seadanya. Hubungan dingin serasa tawar. Relasi terputus begitu saja. Tercerai berai di luar Taman Sorga. Hidup jadi gamang. Canggung terasa di awang-awang.

Itulah hidup dalam manuskrip lain yang Dia tidak harapkan. Naskah asing pilihan setiap insan. Petualangan yang tidak pernah muncul dalam pikiran. Gagasan yang jauh dari kerinduan. Ceritera hidup yang sangat bertentangan. Panggung yang sangat berlawanan. Berseberangan dengan kisah yang telah Dia gariskan. Skenario yang Dia impi-impkan.

Itu seakan terjebak dalam skrip asing yang Dia tidak maksudkan. Acting yang daku dan dikau tidak seharusnya mainkan. Setiap adegan terasa asing dan memberatkan. Setiap detik. Menit. Jam. Terseok-seok lelah berjalan. Betapa lamanya durasi 2 jam di film yang menyakitkan. Ingin rasanya segera sampai pada bagian akhir dari adegan. Babak akhir kehidupan.

Aaahhh! Selamat datang di dunia nyata senyata-nyatanya. Dunia yang semua harus dapat dilihat baru percaya. Dikecap baru tahu rasa. Dapat dijamah baru fakta. Buah pengetahuan tariannya. Nalar jadi yang utama. Anak-anak IQ tinggi idaman orangtua. Cerdas dipuja-puja. Hidup sukses jadi ukurannya. Capaian yang menentukan dikau siapa! Sikut menyikut itu sudah biasa.

Masih mungkinkah?

Membiarkan hati yang berbicara. Membebaskan sukma mencintai Dia yang tidak kasat mata. Mengecap yang belum ada. Nurani terpuaskan dengan jani-janji belaka. Percaya walau sebatang kara. Bersendagurau dengan nada tak bersuara. Tegor sapa dengan bunyi tiada irama. Mendengar desah gairah cinta. The sound of silence, suara keheningan terdengar nyata.

Semoga masih ada yang dapat mendengar dengan hati. Melihat dengan nurani. Hening senyap dengarkan suara sanubari. Gaduh sekeliling bathin tetap sunyi. Dalam kebisingan pun tertangkap nada berirama. Keruwetan hidup terbaca cerita. Setiap adegan kehidupan terkandung makna. Bahwa dikau itu kekasih-Nya.

Sehingga…

Kalaulah hidup susah. Jangan gelisah. Bahwa sakit bersalin itu anugerah. Kemalangan itu berkah. Dalam kelemahan justru bermegah. Semakin banyak kekurangan semakin gagah. Wah, wah, wah! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Erdenebayar Bayansan from Pixabay

Comments

comments