Keberadaan manusia di dunia memang misterius. Siapakah yang ada waktu untuk memikirkan itu secara serius? Kebanyakan ikut saja dan jalan terus. Tidak sadar bahwa ‘kebanyakan’ itu belum tentu jalan yang lurus. Sebagian lainnya tak pernah puas-puas. Tak henti berpikir terus menerus. Hingga sampai pada kesimpulan bahwa asal usulnya dari semacam virus!
Logika terus menganalisa mengapa hidup ini seperti sekarang. Yang satu pergi yang lain datang. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Mengapa daku hidup di dunia yang terasa seperti terkekang. Terbatas seakan berada di kandang. Jiwa dahaga ingin tahu apa yang akan datang. Hati manusia merasa ada selalu yang kurang. Sejatinya, daku dan dikau serta semua keturunan Adam sudah jadi pembangkang. Tak tahu lagi jalan pulang.
Aristoteles, filsuf terkemuka dari Yunani dari masa lalu. Dia bersikukuh bahwa alam semesta ini bersifat kekal. Artinya itu tidak ada asal. Cara sederhana untuk keberadaan Sang Pencipta dicekal. Pendapatnya mewarnai khazanah pikiran keturunan Adam walau itu sudah berumur lebih dari dua melenial.
Sejak itu beragam pemikiran asal usul bermunculan. Mulai sekaliber Immanuel Kant dari era pencerahan. Era di mana ilmu pengetahuan menjadi tuhan. Masa-masa pemikiran sebagai sikap kelanjutan keengganan. Ketidaksudian mengakui peran Tuhan dalam penciptaan. Hingga ditemukan. Bukti alam semesta ada permulaan. Keberadaan Sang Pencipta tak bisa dihindarkan.
Di tengah-tengah tidak ada lagi keraguan. Tak dapat lagi dielakkan. Bukti begitu meyakinkan. Keberadaan Tuhan malah kembali dipertanyakan. Adalah Werner Heisenberg (1927) fisikawan dari Jerman. Dalam dunia mikro sub-atomic dia menemukan Uncertainty Principle,’ prinsip Ketidakpastian. Prinsip yang menyatakan bahwa ada saja satu hal yang tak pasti jika yang lain ditentukan. Sehingga muncul kesimpulan yang begitu mengherankan. Alam semesta terjadi karena kebetulan! Kebetulan itu seperti menang taruhan ketika pasang nomor dalam perjudian.
Einstein tampil ke permukaan. Mungkin agak gusar, dia berteriak dengan ucapan yang sangat terkenal: God does not play dice!’ (Allah tidak bermain dadu). Apa lacur, memasuki abad ke 21 model kebetulan itulah yang sekarang menguasai pemikiran. Dengan sinis, Stephen Hawking (dikenal sebagai Einstein abad ke 21), menyimpulkan. Alam semesta ini ibarat meja judi raksasa di mana dadu diputar. Semua bukti ilmiah, katanya, mengarahkan kepada bahwa Allah adalah pemilik rumah judi! Dan alam berjalan sendiri! Setiap orang seakan tinggal tunggu rejeki. Tidak ada yang pasti di bawah matahari.
Logika dan pemikiran ini. Diajarkan sejak dini. Di sekolah hingga di perguruan tinggi. Kita semua ada di meja judi. Nasib berdasarkan kebetulan-kebetulan yang terjadi. Daku dan dikau tak lebih dari hanya sekedar nomor-nomor di meja teka teki. Tebakan nomor tepat artinya ada rejeki. Sebaliknya, sial menanti. Setelah itu nomormu berhenti diundi. Yang lain datang sebagai pengganti. Hidup hanya untuk kini. Tidak ada apa-apa nanti. Nasib bak mengikuti perputaran roda pedati. Itulah kehidupan, kata para ahli.
Aaahhh! Bisa saja itu dikau tidak akui. Tapi itu telah merasuki. Pola pikir dan hati insani. Jika seseorang kariernya ajek mendaki. Sekejab yang lain mengira orang itu untung berkali-kali. Kalau OTT KPK, kita bergumam di hati. Dia sial sekali. Tak menyadari. Otomatis keluar sendiri. Setiap situasi yang dialami. Itu selalu dikaitkan dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi. Bak peristiwa di meja judi.
Tak usah tercengang. Tak guna geleng-geleng. Itu pilihan. Adam dan semua keturunan hidup dari buah pengetahuan. Sang Cinta disingkirkan dari permaianan. Ini akut menakutkan. Dan daku dan dikau kehilangan tujuan.
‘Aku bingung! Apakah kita punya tujuan hidup di dunia ini? Ataukah kita hanya melayang-layang diantara kebetulan-kebetulan?’ Ucap Forrest Gump putus asa berdiri di pusara kekasih hati nan abadi, Jenny, dalam film box office ‘Forrest Gump’ lebih dua dekade yang lalu.
Jika yang diimpikan lari. Sekiranya yang ditakuti datang berulangkali. Berkahpun datang dan pergi. Penyakit datang kembali dan kembali. Apalagi yang paling dicintai. Yang paling disayangi. Kekasih hati. Belahan jiwa ini. Akhirnya dia angkat kaki tanpa permisi. Bak Forest Gump, tinggalah daku sendiri. Dan dakupun, sejatinya, sudah dapat nomor antri.
Kalaupun rejeki datang tak henti-henti. Karier moncer terus mendaki. Itu tentu diikuti kenaikan gaji. Atasan terus memuji-muji. Tutup buku selalu dapat bonus karena prestasi. Wajar saja asset bertambah tak terkendali. Apalagi keturunanpun cerdas sekali. Dan masuk pula ke top universiti. Tambahan lagi. Penyakit menjauh dan hidup happy-happy. Namun semuanya juga ditinggal pergi.
Jadi? Untuk apa hidup kalu semua begini. Ups! Alkitab berkata lain sendiri!
It’s in Christ that we find out who we are and what we are living for. (Efesus 1:11, The Message: Di dalam Kristus kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup).
Aaahhh! Kristus telah kutinggal pergi! Pantaslah jadi begini. Selamat datang di dunia serba tidak pasti. Moga dikau sadar untuk kembali. Kepada kekasih hati. Suami yang sejati. Karena hanya begitu hidup akan berarti. Bermakna kini dan nanti. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |


