168. ’Halusinasi Rohani’

Viewed : 1,221 views

Suatu keajaiban. Kisah yang mencengangkan. Ketika belum ada ciptaan. Yang ada hanya Tarian Agung Ilahi, kesempurnaan Tritunggal dalam communion dan persekutuan. Mulia. Jaya. Megah tiada tara. Kemudian… Tak tahu itu bagaimana kejadiannya. Tersembunyi awal ceriteranya. Siapakah yang tahu alasannya? Rahasia! Hanya Dia yang tahu apa alasannya.

Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. (1 Korintus 2:11)

Dalam suatu ‘saat’ di keabadian. Di keheningan, kesunyian, Dia ambil keputusan. Dia bertindak di luar kebiasaan. Itu langkah tiba-tiba ataukah penuh pertimbangan? Seakan-akan Dia berkehendak keluar dari zona nyaman. Seolah-olah Dia ambil resiko yang akan ditanggung hingga ke kekalan. Dia rela melepas ikatan. Ikatan kesempurnaan communion dalam tarian. Lantas, membuka peluang untuk daku dan dikau ikut irama gerakan. Undangan gabung ikut ritme tarian.

Undangan itu akan berpotensi merubah irama dan ritme tarian ilahi selama-lamanya. Kesempurnaan tarian, bisa jadi, takkan lagi terdengar sama seperti sebelumnya. Akhirnya! Senandung irama tarian ini tak terdengar lagi karena telah pergi entah ke mana.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, (Yesaya 53:6)

The Message: We’ve all done our own thing, gone our own way. (Terjemahan bebas dan paraphrasing: Kita telah pilih irama dan ritme tarian sendiri, menari sesuai dengan tarian insani).

Betapa uniknya manusia. Dikau ada kemampuan memilih sendiri irama bak tarian salsa. Ataukah irama dangdut hingga hentakan tarian Jaipongan dari Sunda? Apalagi tarian seromantis gerakan dansa. Sila saja! Sikap telah diambil oleh Adam dan Hawa. Aaahhh! Insan sekelas manusia, bagaimana mungkin dapat merubah tarian sempurna Sang Ada! Namun, itu fakta. Bukankah dikau dapat rasa?

Irama telah diputuskan. Daku dan dikau telah pilih tarian. Ikuti ritme gerakan tarian insan. Dendang tarian tanpa nada cinta. Senandung minus asmara. Itu terasa kosong, hampa. Ibarat bersenandung tanpa kata-kata. Seakan menari seadanya. Kesempatan menari Tarian Agung Ilahi dibuang begitu saja.

Akibatnya? Fatal, tiada tara!

Tarian tanpa irama. Hidup kehilangan makna. Tak tahu kaki harus melangkah ke mana. Setiap orang menari sesuai selera. Hilang petunjuk arah, tak ada tanda-tanda. Semuanya terserah, tangan di atas, itu boleh-boleh saja. Sejatinya, semua gerakan suka-suka. Lantas, terkejut! Kala tangan di atas, kaki langkah ke kiri. Bingung! Untuk apa tangan di atas? Mengapa kaki melangkah ke kiri? Lalu, turunkan tangan dan ubah langkah kaki. Dan gerakan itu berulang berkali-kali dilakukan hingga nanti di sana.

Ups! Akhirnya, terciptalah tarian menurut selera sendiri! Daku dan dikau menjadi koreografer, ahli seni tari. Pakar dalam menyusun komposisi gerak tari. Koreografi ciptaan insani. Joget diiringi nada musik hasil gubahan hati. Tarian kehidupan pengganti tarian agung yang telah lama pergi. Itu semacam wujud bayangan pengganti yang asli.

Dan cepat atau lambat. Sadar ataupun tidak. Believe it or not. Tarian itu nun jauh di sana, di ujung waktu, berubah menjadi ritual yang dikramatkan. Ritual alat untuk menghadirkan. Tata cara membangkitkan kenangan lama yang telah lama tersingkirkan. Prosesi suci untuk mewujudkan Tarian Agung Ilahi yang sudah lama diabaikan.

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (Kejadian 4:3)

Ritual korban menjadi salah satu simbol terdini. Prosesi itu dapat ditemukan di semua agama samawi. Itupun tercermin dalam budaya dan tradisi-tradisi. Itu semacam kerinduan tersembunyi dalam hati nan sepi. Nada liar dalam hati yang senantiasa menjerit tak henti. Kehausan yang diwariskan dari generasi ke genarsi. Jeritan keinginan hati terdalam untuk kembali ke taman sorgawi. Bercakap mesra dan mendengar lagi langkah kaki. Di suasana syahdu dengan angin sepoi-sepoi, indahnya bercengkrama mesra dengan Sang Ilahi, kekasih hati (Kejadian 3:8). Bilakah suasana itu datang kembali?

Wah wah wah! Dulu Kain merindukan itu. Bukankah sekarangpun semua juga berharap begitu? Anggap dengan melakukan gerakan suci Dia akan hadir tepat waktu.

Ups! Gawat! Dengan mengikuti ritual tertentu, merasa Dia hadir di depanku. Bulu kuduk berdiri kaku. Lantas, seakan-akan merasa bisa tegor sapa tanpa terganggu. Dan tak sedikit begitu mesra menyapa: ‘Selamat pagi Bapa!’ Seakan Dia ada di depan mata. Yang lain girang dan berani berkata: ‘Tuhan berkata kepadaku untuk ini dan itu.’ Tak sedikit pula lantang bernubuat, sebab yakin dengar Dia berbisik ke telinga. Dan dan dan! Sebagian besar umat loya tak berdaya karena tak dengar apa-apa.

Awas! Nada liar dapat memunculkan keganjilan dalam diri. Ambil jalan pintas kembali ke taman sorgawi. Seakan mendengar suara-Nya. Bahkan mungkin hingga merasa semeja makan dengan Dia. Halusinasi rohani! Kelainan psikis nurani. Ujung-ujungnya kecanduan ikuti ritual suci. Agar mampu tegor sapa dengan Sang Ilahi.

Hati-hati dengan halusinasi rohani! Jangan cepat kepincut ilusi walau itu dari kelompok elite rohani. Di luar Taman Eden semua bisa terjadi. Mari hati-hati dan terus saling menjaga diri. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments