126. ’Desain Cinta’

on
Viewed : 1,301 views

Sulit dibayangkan. Setiap penjelasan saling bertentangan. Paradox kebenaran. Logika berpikirnya asing bagi rasio. Saatnya hati ambil komando. Ini saat ketika hanya ada Sang Ada. Perioda dimana waktu belum tercipta. Apapun belum ada. Bahkan kata ‘ada’-pun belum ada. Ini tidak mengada ada. Ini nyata. Ini fakta. Yang ada hanya Sang Maha Kuasa, Tritunggal Yang Maha Esa. Yang lainnya sama sekali belum ada.

Sang Bapa, Sang Anak, dan Roh Kudus cukup dengan diri-Nya sendiri. Dia sempurna. Dia puas dengan diri-Nya. Sang Ada bahagia senantiasa. Tidak membutuhkan apapun di luar diri-Nya. Dia mencipta bukan karena Dia butuh pujian. Tidak juga haus dimuliakan. Bukan pula karena memerlukan perpuluhan. Apalagi karena mengharapkan pertolongan dari makhluk ciptaan.

Dalam ‘ketidakadaan’, kehampaan, dalam kesunyian. Dia putuskan. Sukarela, tanpa rayuan. Apalagi paksaan. Suatu rencana jangka panjang (a long-range plan, The Message). Dan itu menyenagkan hati-Nya (such delight in making, The Message). (Efesus 1:9)

Alam semesta tercipta dari tiada. Yang tidak ada menjadi ada. Tidak ada contoh. Tidak ada prototype untuk Sang Kuasa dapat melirik. Tidak ada pembanding untuk Dia bisa menimbang nimbang. Orisinil. Asli. Yang perdana dari yang pertama. Dia puas. Hati-Nya senang.

Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1:31)

Ups! Sebelum berakhir hari. Ini yang terjadi.

TUHAN ALLAH berfirman: ” Tidak baik, kalau manusia itu [Adam] seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)

Tak dijelaskan kapan itu ditemukan. Kapan itu disadari. Apakah memang pertanyaan semacam itu tak diperlukan? Abaikan dulu analisis waktu. Dari awal. Dari ‘sono’nya. Sejak mula desain cinta untuk manusia, Adam, itu ada yang ‘tidak baik’. Maaf. Maksudnya?

Sudah kodratnya. ‘Build in’ dalam desain awal. Inheren dalam pribadinya. ‘Tidak baik’ itu melekat tak terpisahkan dari dirinya. Manusia tercipta tak cukup dengan dengan diri sendiri. Tak puas. Tidak penuh. Belum lengkap. Dia membutuhkan sesuatu dari luar dirinya. Itu sejatinya manusia. Martabat. Harga diri. Citra diri. Jati diri. Makna Hidup yang hakiki. Kebahagian hidup sejati. Itu semua bergantung kepada sesuatu di luar diri.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (Kejadian 2:22)

Allah rencanakan dengan apik. Dia tahu yang ‘tidak baik’. Sang Maha Tahu yang memulai. Dia tahu solusi. Allah gagas hingga tuntas. Tak terbengkalai hingga selesai (Filipi 1:6). ‘Allah menyediakan’ jawaban. Bisa jadi itu di luar dugaan.

Hooorrreee!

Allah tak lepas tanggungjawab. Apalagi gagap. Akhirnya manusia jadi ‘lengkap.’

Ups! Boleh jadi, ‘tidak baik’ itu suatu anugerah. Itu pemberian Ilahi. Bukan kutukan. Apalagi ‘defect’, cacat sejak dalam tataran ide. Maaf, itu sudah pasti tidak kekeliruan desain. Apalagi penyimpangan dalam pelaksanaan.

Sebagaimana di taman sorgawi, begitu juga kini. Sahabat akan temui ‘tidak baik’ dalam setiap insani. Berjibun yang dapat disesali. Bertimbun alasan untuk meratapi. Mengapa dulu gak begini? Gak begitu? Moga kita sampai pada titik ‘senang dan rela’ dalam keadaan ‘tidak baik’ (2 Korintus 12:10). Itulah desain cinta. Anugerah Sang Pencipta. Inheren dalam setiap jiwa. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Comments

comments