Sulit mempercayai apa yang dilihat, sukar mencerna apa yang didengar. Ini bukan kisah movie Bollywood, bukan pula sebatas kisah di dalam buku. Apakah ini nyata? Ku-usap² mata, aaahhh ini fakta? Hari Minggu yang kelabu, ketika semuanya jadi debu. Aku diam membeku, nalarku henti terpaku! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi di era digital, tatkala semuanya ‘goes global’? Satu keluarga, suami istri putra putri, berkorban diri demi yang diyakini? Miris hati.
”akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi ALLAH.” (Yoh 16:2)
Aku masih mengkhayal nubuat ini sudah berlalu, itu sudah terjadi 2000 tahun yang lalu. Nubuat untuk masa abad² lalu, terjadi kala sebagian besar masih hidup dalam peradaban di zaman batu. Paling tidak itu sudah digenapi, semasa Saulus berdakwah ber-api². Zaman now, berharap ayat² itu tinggal memori, ataupun hanya sekedar materi diskusi di berbagai skripsi.
berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. ( Kis 9:1)
Seperti bangun dari mimpi, aku siuman sendiri. Minggu pagi nan sendu, bukan ilusi. Aaahhh, celaka! Rupanya itu bukan untuk waktu² yang lalu. Ternyata semasa Saulus itupun sama dengan Minggu pagi nan sendu. Mereka mencari ridho Sang Ilahi. Mereka tulus berbakti kepada Sang Kuasa. Begitu cinta kepada-NYA hingga rela tercabut nyawa! Itu Saulus! Itu mereka di Minggu pagi dan di ‘minggu’ lainnya.
Masyarakat gak habis pikir, itu di luar logika. Dunia maya ter-bata² tak percaya. Pemerintah mengutuk, politikus ber-pura² dengan canda di tengah duka. Kaum awam mencela. Kaum elite rohani bisa bersabda: ‘itu tak ada sangkutpautnya dengan agama.’ Dikau boleh geram, silakan gusar, tapi moga dikau tak ter-bawa² dalam permainan kata².
’Would HE be moved if I sacrificed my firstborn child, my precious baby, to cancel my sin?’ (Mi 6:7; the Message, terjemahan bebas: Akankah DIA ridho jika kukorbankan anak sulungku, bahkan nyawaku, agar DIA mencintaiku?)
Aku tertunduk kelu, tak tahu menahu! Apakah manusia bisa bertindak sengeri itu? Saulus tempo dulu, mereka seperti di pagi syahdu mengubah jadi Minggu sendu. Mereka yang di Nusantara hingga manca negara. Mereka sejak purbakala, ketika belum dikenal senjata hingga kini era dunia maya, tak berubah sepanjang masa. Mereka yang memburu cinta! Mereka yang cinta kepada-NYA, yang konsisten melakukan hukum Taurat-NYA! Mereka, kaum Farisi, ahli Taurat, semuanya sekelas Saulus!
Mereka geram, jika dikau tak sembahyang sesuai aturan agama. Mata mereka terbelalak melihat cara berpakaian dan tutur kata jauh dari taqwa. Mereka gusar andaikata dikau melanggar hari² suci agama. Mereka berang sebelum ditegakkan syariat agama. Mereka, seperti Saulus, meradang seandainya ada seorang menentang tradisi agama. Bagi mereka, aturan agama di atas segalanya bahkan nyawa! Mereka ini semacam polisi agama untuk memastikan umat mencitai-NYA! Masyaallah!!!
Oops! Berharap dikau tak seperti mereka, menjadi polisi agama! Tak mencela yang jarang beribadah ke gereja. Tak melotot ketika ada makan tak berdoa. Tak senyum sinis karena ada yang tak tahu ada kitab Perjanjian Lama. Tak pandang remeh yang tak ikut PA. Tak menghakimi yang tak rela korban dana untuk program diakonia, apalagi menolak jadi sintua. Tak bersitegang leher karena ada yang yakin dengan baptis percik. Tak menghina mereka yang lain agama. Tak merasa hanya keyakinannya yang paling prima. Wah, gawat! Jujur, aku sudah jadi polisi agama!
Di suasana kebathinan yang saling curiga. Dunia maya yang saling mencela. Rasa geram dan benci membara. Semua telunjuk ke Saulus, ‘mereka’, sebagai biang keladi gara². Ketika tetangga tak lagi bertegor sapa. Semasa lain keyakinan jadi sumber bencana. Ketika lain agama menjadi malapetaka. Saatnya dikau beralih dari posisi polisi agama.
Ini waktu yang pas beralih dari Saulus ke Paulus. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Gal 5:14) Pengalaman hidup mengajari Paulus. Syariat agama ternyata lebih banyak membawa bencana. Kasihlah yang utama, inti agama. Itulah sari ritual dan syariat dalam memburu cinta. Cintailah ‘mereka’ seperti Saudara sendiri. Kiranya para korban diberkahi Sang Ilahi. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. |




