309. Disrupsi

Satu tahun lagi sudah lewat, hidup laksana uap. Sekilas terlihat, lalu segera buru-buru lenyap. Semua juga akan ditinggal pergi, tidak ada yang langgeng di bawah matahari. Fakta pahit ini akan menimpa dikau dan daku, barangkali dikau siap ataupun daku ragu-ragu. Waktu terus laju, jarum arloji terus berputar tanpa dapat menunggu. Entah mengapa, daku tidak tahu….

308. Bumi Bukan Eden

Aaahhh, insyah Allah, akhirnya dapat juga melewati bulan-bulan di bawah ancaman wabah. Mengakhiri tahun ini terasa jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Ini tahun dalam dominasi varian Delta yang tampil pongah nan gagah. Hari-hari dalam puncak serangan si Delta sungguh suasananya sangat mencekam. Di mana-mana terjadi kepanikan, fasilitas rumah sakit tak mampu menghadapi lonjakkan pasien dan…

307. Seribu Satu Pertanyaan

Genaplah sudah 2 tahun sejak si Corona muncul di Wuhan. Duapuluh empat bulan dunia di bawah ancaman, maut yang siap menelan korban. Tidak kenal kasta, tidak peduli suku, tidak bertanya ‘kau siapa,’ apalagi memilah-milah berdasarkan agama, semuanya dipandang sebelah mata, pandemi yang membawa duka. Bencana yang akan dikenang sangat lama. Pas pula daku dan dikau…

306. Sejarah Terulang

Segala sesuatu ada awalnya, tidak ada yang begitu saja ada. Begitu juga dengan kebiasaan, itu secara perlahan-lahan menjadi bagian dari kebudayaan. Kemudian, itu diteruskan turun temurun dari satu angkatan ke angkatan selanjutnya hingga menjadi suatu norma kehidupan. Pedoman hidup yang diterima sebagai ukuran etika. Bisa jadi setelah sekian lama, tidak lagi disadari kebiasaan itu datangnya…

305. Rhythm of Covid-19

Sungguh sulit dipercaya apa yang dilihat, ternyata hantaman pandemi ini sungguh dahsyat. Tak terbayangkan, betapa kuat terlihat sebelumnya, sekarang semua berantakan. Kalau saja dikau serta, melihat apa yang ada di depan mata, dikau akan ternganga-nganga, tempat semegah ini juga dapat dibuatnya tidak berdaya. Pusat perbelanjaan termegah di pantai Utara kota Jakarta, dengan sejumlah menara hunian…

304. Eksklusivisme Denominasi

Sudah hampir 2 tahun berlalu, selama itu pula daku dan dikau dipaksa meninggalkan kebiasaan sakral. Ritual yang begitu telah menyatu dengan kalbu, bagi pertumbuhan iman itu bagian yang fundamental. Tidak terbayangkan rutinitas iman yang demikian vital, walau itu sudah menjadi satu dengan prilaku, sekarang sudah tidak lagi laku. Siapa nyana, tidak ada yang dapat duga…

303. A House of Cards

Di bulan-bulan pandemi, itu masa-masa gamang bagi kebiasaan kehidupan rohani. Ritual yang begitu suci, dipelihara dari generasi ke generasi, sekarang satu demi satu telah pergi. Ibadah sakral setiap hari Minggu pagi, ritual perjamuan kudus yang hanya sekali-sekali, semua sudah berganti, tidak ada yang sama lagi. Semua pedoman baku beribadah telah berubah. Siapa sangka fondasi ritual…

302. Romantisme Masa Silam

Waktu terus bergulir, bak air terus mengalir. Tidak pernah sangsi ataupun harus berpikir, berjalan tanpa henti terus menuju ke hilir. Sudah sekitar 2 tahun dibombandir, lebih 7 milyar orang dilibas hingga kocar kacir. Semua kebiasaan diapkir, termasuk ritual sakral agama juga turut dipaksa minggir. Dan tujuan dari semua ini masih terselubung misterius dibalik tabir. Namun…

301. The Next Level

Baru saja terasa lega, kembali pemerintah mewanti-wanti datangnya pandemi gelombang ke tiga. Si Corona kembali dengan cepat bermutasi, si virus sukses lagi menyesuaikan diri. Beberapa negara tengah mengalami, ternyata vaksin bukanlah jaminan sirnanya pandemi dari muka bumi. Akankah Covid-19 ini pelan namun pasti akan berubah menjadi endemik? Keberadaannya akan selalu ditemui, terus akan berdampingan dengan…

300. Ended at Start

Semua kejadian di bawah matahari akan juga ada hari akhirnya. Wabah pun ada hari kadaluarsanya. Walau awal-awalnya belum diketahui bagaimana terjadinya, namun di ujung sana sudah mulai kelihatan garis akhir. Walau itu masih samar-samar, namun rasanya pandemi segera akan pudar. Rutinitas kehidupan kembali seperti semula, perekonomian berputar seperti sediakala. Sekolah-sekolah dibuka, pelajar kembali diijinkan tatap…

299. Manna

Bagaimana mungkin diam, untuk merenung dalam-dalam jikalau tuntutan pekerjaan terasa mengancam. Tak kenal waktu, tugas datang bertalu-talu. Berangkat kerja matahari belum terbit, hingga pulang larut malam dengan perasaan terbirit-birit. Anak-anak pun tidak lagi sempat dididik. Hiruk pikuk dunia pekerjaan, menjerat setiap insan. Jujur saja, di tengah-tengah kesibukan, sungguh sulit untuk dapat berpikir tentang Tuhan. Bagaimana…

298. Cermin Buram

Jika saja ada kesempatan untuk diam, lantas berpikir dalam-dalam. Bisa jadi banyak hal yang segera terungkap dari dasar hati. Perkara-perkara yang selama ini tersembunyi, rapat tertutup dalam nurani. Jika saja daku dan dikau rela menerima apa adanya, baru sadar ada rahasia yang selama ini tertutup rapat di dada. Itu misteri yang sangat sulit terbuka, sewaktu…