Kuasa Mamon & Hidup Dalam Kekuatiran

Viewed : 715 views

Sahabat yang terkasih,

Saya pernah bertanya ke Ibu di masa kecil saya, “Apakah Ibu pernah kuatir terhadap kami?” dan dengan senyum ringan Ibu menjawab “Anak saya delapan, kalau kuatir nanti repot”.

Dan kami tertawa bersama dengan jawaban tersebut.

Ada pertanyaan lagi, “Apakah Ibu tidak merasa direpotkan dengan banyak tamu yang menginap di rumah?” Sepanjang masa kecil kami, selalu ada orang lain tinggal, apakah itu saudara, tamu, hamba Tuhan, yang menumpang di tempat kami.

Ibu dengan bijak menjawab “Tidak usah kuatir, nanti pasti semuanya dicukupkan.”

Pernah di dalam satu masa, ada 14 orang yang tinggal di rumah kami. Tidak ada kamar pribadi, yang ada tempat tidur anak laki-laki dan tempat tidur anak perempuan. Meja untuk makan, ya adalah meja tempat belajar, dan juga meja tempat ngobrol bersama. Itu kenangan yang tidak terlupakan.

Kata-kata suwargi Ibu tercita itu menumbuhkan iman di dalam hati saya akan penyertaan Tuhan. Tuhan memelihara. Sehingga saya bisa menghadapi kehidupan ini dengan lebih berani untuk menang atas ketakutan/kekuatiran.

***

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”

Tuhan Yesus senantiasa menghadirkan pengajarannya dengan paradoks. Di dalam Matius 6: 24-34, secara khusus Kristus menghadirkan sebuah kebenaran yang sangat relevan sepanjang zaman, yaitu rasa aman, tenang, bebas dari ketakutan dan kekuatiran bukan karena uang, bukan karena harta, bukan karena seberapa banyak yang kamu miliki.

Di dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, uang sering kali menjadi pusat perhatian manusia. Uang dianggap sebagai sumber keamanan, kebahagiaan, dan kepuasan. Namun, Alkitab mengingatkan bahwa mengabdikan diri kepada uang, atau yang disebut mamon, membawa risiko besar, yaitu hidup penuh kekuatiran.

Mamon menggoda manusia untuk menaruh kepercayaan pada kekayaan duniawi yang tidak stabil, menggantikan peran Tuhan sebagai sumber perlindungan dan penyedia.

Mamon memiliki daya tarik yang kuat karena menjanjikan rasa aman. Ketika seseorang memiliki uang yang cukup, ia merasa lebih percaya diri menghadapi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal, atau pendidikan anak. Namun, mamon juga menciptakan ilusi bahwa semakin banyak uang, semakin besar rasa aman yang diperoleh. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam lingkaran mengejar kekayaan tanpa akhir, yang justru melahirkan kekhawatiran baru: apakah mereka memilikinya.

Kekhawatiran muncul ketika manusia merasa harus mengontrol segala sesuatu dengan kekuatannya sendiri, sementara kekayaan duniawi itu bersifat rapuh dan tidak dapat memberikan jaminan abadi.

Kekuatiran yang lahir dari pengabdian kepada mamon sering kali mengambil banyak bentuk. Ada rasa takut kehilangan pekerjaan, cemas menghadapi fluktuasi ekonomi, atau bahkan iri melihat keberhasilan finansial orang lain. Kekhawatiran ini bukan hanya menguras energi mental, tetapi juga memengaruhi hubungan manusia, baik dengan pasangan, keluarga, teman, maupun Tuhan. Alih-alih menemukan kedamaian, seseorang malah terjebak dalam ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi.

Prinsip hidup yang berdasarkan iman kepada Tuhan ini tidak berarti mengabaikan tanggung jawab finansial, tetapi mengarahkan manusia untuk melihat uang sebagai alat, bukan tujuan. Uang yang diperoleh dengan bijaksana dan digunakan dengan penuh syukur dapat menjadi sarana untuk mendukung keluarga, membantu orang lain, dan memuliakan Tuhan. Dengan demikian, mamon kehilangan kuasanya untuk menciptakan kekhawatiran, karena hati manusia sudah terpusat pada Tuhan, sumber damai sejahtera yang sejati.

Hidup tanpa kekhawatiran tidak berarti hidup tanpa tantangan. Namun, dengan iman kepada Tuhan, tantangan ini dapat dihadapi dengan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya.

Kuasa mamon memang menggoda, tetapi dengan memilih untuk mengabdi kepada Tuhan, manusia dapat menemukan kebebasan dari kekuatiran dan menjalani hidup yang penuh damai dan sukacita. Esensi dari hidup ini bukanlah seberapa banyak yang dimiliki, tetapi kepada siapa hati kita berlabuh—pada mamon yang fana atau pada Tuhan yang kekal.

***

Firman Tuhan I Timotius 6:10

“ Nafsu terhadap uang mendatangkan masalah dan tidak ada yang lain kecuali masalah. Dengan menempuh jalan itu, beberapa orang kehilangan pijakan dalam iman mereka sepenuhnya dan menyesalinya dengan pahit selamanya.” (terjemahan The Message Bible)

“Lust for money brings trouble and nothing but trouble. Going down that path, some lose their footing in the faith completely and live to regret it bitterly ever after.” (The Message Bible)

Saya mencoba melakukan kompilasi berbagai permasalahan yang dialami oleh banyak orang baik single maupun keluarga, dan kemudian melakukan analisa akar masalahnya, baru kemudian saya berani menyimpulkan, bahwa “mamon” adalah akar masalahnya.

“Mamon” menyebabkan kekuatiran, perselisihan, pertengkaran, hilangnya kasih dan penghormatan, ketakutan, tidak pernah merasa cukup, tidak murah hati, tidak bersyukur, hipokrit, iri hati, dan sebagainya.

Mengalahkan “mamon” membutuhkan iman (sekecil biji sesawi) yang harus dipupuk di dalam hidup kita, dan disebarkan kepada orang-orang sekitar kita

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments