441. Generasi Anomali

Viewed : 337 views

Istilah anak-anak Allah dalam kitab Kejadian 6:2 telah memicu berbagai penafsiran di kalangan para sarjana. Pemahaman ini cukup kuat mempengaruhi doktrin kekristenan hingga saat ini, terutama dalam konteks asal-usul roh-roh jahat.

Konon perdebatan tentang pemahaman kitab Kejadian 6:1-4 telah menjadi sorotan di kalangan akademisi. Salah satu penafsiran tertua istilah anak-anak Allah (Kejadian 6:2) sebagai manusia biasa (non-supernatural view) tercatat dalam tulisan Julius Africanus. Julius Africanus seorang sejarahwan Kristen awal yang hidup sekitar tahun 160-240 Masehi.

Abad-abad berikutnya, santo Agustinus, bapak gereja, mempopulerkan cara pandang tersebut. Isu ini didiskusikan dalam karyanya City of God, yang ditulis di sekitar tahun 413 hingga 427 Masehi. Pengaruh pandangan ini masih terasa hingga saat ini di kalangan banyak aliran gereja dalam menafsirkan istilah anak-anak Allah tersebut (Demon, Heiser, p109-110).

Second temple period (516 SM-70 M) dimulai dengan kembalinya suku Yehuda dari pembuangan ke Babel untuk kembali membangun Bait Allah yang ke dua di Yerusalaem. Sebelumnya, Bait Allah yang pertama yang dibangun megah oleh raja Salomo telah hancur oleh kerajaan Babel. Era ini berakhir tatkala pasukan Romawi meratakan Bait Allah ke 2. Di era ini, istilah anak-anak Allah itu dimengerti sebagaimana rasul Petrus dan Yudas menjelaskannya. Ini menyangkut perkawinan campur antara dimensi ilahi dengan manusiawi.

Perkawinan aneh ini semakin menarik perhatian tatkala ditemukannya Dead Sea Scrolls di pertengahan tahun 1940. Pada tahun 2010, Amar Annus, seorang pakar, dengan cekatan membandingkan temuan tersebut (buku 1 Enoch) dalam kaitannya dengan budaya kuno Mesopotamia serta hubungannya dengan legenda Apkallu (7 makhluk bijak supernatural di era antediluvian) dalam mitologi purba.

Secara singkat, Kejadian 6:1-4 sangat berhubungan dengan cerita yang dikenal luas dalam budaya Mesopotamia. Keterkaitan ini tidak terlalu menarik perhatian para pakar hingga tahun 2010 tersebut.

Dalam naskah Yahudi purba, 1 Enoch, Kejadian 6:1-4 diceritakan ulang secara lebih terperinci. Walau umumnya umat Yahudi dan Kristen tidak mengakui kitab ini sebagai bagian dari Alkitab, namun info yang ada di dalamnya sangat berguna untuk memamahi cara pandang umat purba menafsirkan kisah dalam kitab Kejadian tersebut.

Bisa jadi, Kejadian 6:1-4 merupakan polemik pemikiran teologis antara budaya kuno Mesopotamia dengan pandangan kitab Kejadian. Di budaya Mesopotamia, Apkallu dianggap berjasa memajukan peradaban dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sebaliknya Alkitab memperingatkan akan bencana yang diakibatkan mahkluk surgawi yang menembus tabir tabu.

Jadi, dapat dipahami mengapa Kejadian 6:1-4 memiliki cara pengungkapan kisah yang begitu singkat dan padat tanpa penjelasan latar belakang yang memadai. Pernyataan dalam ke 4 ayat tersebut sebagai respon singkat terhadap polemik peran makhluk supernatural dalam perkembangan peradaban manusia.

Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. (Kejadian 6:4)

Perkawinan campur ini menghasilkan generasi anomali, keturunan tidak normal, yang dalam bahasa Alkitab secara singkat disebut sebagai orang-orang raksasa. Sedangkan dalam kisah Apkallu disebut sebagai raksasa yang 2/3-nya terdiri dari unsur supernatural dan 1/3-nya elemen insan.

Ribuan masa setelah air bah, keturunan raksasa ini masih eksis dan menjadi penghalang utama umat Israel memasuki tanah Kanaan (Bilangan 13: 33). Sisa-sisa keturunan yang anomali ini juga muncul saat Daud melawan Goliat (1 Samuel 17).

Keturnan anomali ini merupakan musuh utama umat Tuhan sejak di bawah kepemimpinan panglima Yosua dan Daud. Tidak heran sejarah bangsa Israel berdarah-darah. Mungkinkah hal yang sama, namun raksasa dalam bentuk lain, juga menjadi musuh utama umat percaya (Efesus 6:12)? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments