438. Melewati Batas

Viewed : 302 views

Adam Hawa mendapat mandat mulia, untuk berlipatganda tak terkira. Dengan begitu keturunan mereka akan cepat menduduki seluruh benua. Begitulah Taman Sorga secara alami akan menjelma di seluruh dunia. Genaplah impian-NYA: ’Di bumi terasa, layaknya, di Sorga!’ (Matius 6:10).

Rencana-NYA meluaskan Taman Eden hingga melingkupi seluruh permukaan bumi menciut nyaris terhenti begitu dimulai. Si nachash (Iberani: ular), si kerub sebagai bak paspampres berambisi menduduki Tempat yang Maha Tinggi (Yesaya 14:13,14; Yehezkiel 28:13-15). Si kerub berhasil menggoda, Adam Hawa jatuh ke dalam pelukannya.

Alih-alih si penggoda terbang tinggi ke angkasa, ke alam maut dia terlempar. Sebagai the Lord of the Dead, penguasa alam maut, dia menyeret peradaban besertanya. Sejak itu dan seterusnya, kematian akan menimpa daku-dikau dan semua yang bernyawa.

Adam Hawa terbuang dari hadirat-NYA, dihalang-halangi dari kembali menggapai pohon kehidupan (Kejadian 3: 23,24). Pesannnya sangat jelas, sejak itu manusia menjadi makhluk yang fana. Manusia, secara sah, menjadi milik alam maut dan di bawah kendali sang lurahnya, si kerub yamg mbalelo!

YHWH, Sang Pemberi Kehidupan, mengampampuni perbuatan manusia pertama dan meluputkan mereka dari pembinasaan total dari muka bumi. Sebaliknya, melalui Adam Hawa-lah peradaban manusia akan bertahan hidup. Melalui keturunan si Hawa, rencana semula-NYA akan tetap terlaksana! (Kejadian 3:15)

Pembaca yang budiman!

Penyelewengan free will, kehendak bebas, tidak berakhir di Taman Eden. Pemberontakan si ular dari alam kodrati dan manusia dari alam jasmani bukanlah akhir dari cerita. Sebaliknya, makar sejenis yang dilakukan makhluk dari alam nyata dan tak kasat mata akan mewarnai sejarah panjang kemanusian.

Kolaborasi jahat seperti antara Adam Hawa sebagai makhluk yang serupa dan segambar dengan YHWH di alam dunia dan si ular di alam sana, di pasal 3 kitab Kejadian ternyata berlanjut terus di pasal 6. Permufakatan busuk ini telah melewati batas.

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (Kejadian 6:1,2)

Walau ada berbagai pendapat, tak terbilang diskusi hangat, namun sejak ditemukannya dead sea scrolls di gua Qumran di tahun 1947 telah merubah arah debat menjadi menuju lebih bulat. Tak apa Adinda berbeda pendapat, bagaimanapun itu tidak akan membuat Kasih-NYA tidak tetap!

Anak-anak Allah dari alam sana melanggar batas dan bersatu dengan anak-anak perempuan dari alam sini. Keturunan campuran dari alam dimensi yang berbeda ini telah melahirkan generasi yang tidak normal dari segala sisi.

Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (Yudas 1:6)

Dalam kitab Yudas, tindakan anak-anak Allah dikisahkan (dalam Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Iberani ke bahasa Yunani, anak-anak Allah disebut sebagai malaikat-malaikat) telah melewati batas yang ditentukan. Malaikat-malaikat bersatu dengan anak perempuan dan menghasilkan keturunan di luar kewajaran.

Drama inilah kemungkinn besar membuat YHWH kecewa besar, karena hasil perkawinan silang ini telah menghasilkan peradaban di luar nalar (Kejadian 6:4,5). Begitukah di era antediluvian sebelum datangnya tsunami akbar? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments