403. Denyut Nadi Peradaban

Viewed : 178 views

Topik ini hot issue sepanjang sejarah. Pendapat kaum cerdik pandai pun belum satu arah. Bagaimanakah memahami kehendak bebas dalam wadah trailer di Taman Eden? Sulit diabaikan, mengapa adegan Adam Hawa digoda sengaja oleh penulis kitab Kejadian digunakan sebagai titik mula dari peradaban. Bak babak pendahuluan dari rangkaian serial yang narasinya mengharukan.

Sebelum dijamah dosa. Baik dan jahat belum ada dalam kamus hati manusia. Tatkala berdua digoda bukan di tempat remang-remang, melainkan di Taman Sorga! Adam Hawa dengan kehendak sendiri memilih untuk bersikap berlainan dengan keinginan TUHAN. Bermain mata dengan yang disangka teman nan penyayang. Tak tahunya ternyata lawan yang keinginan satu-satunya agar nyawa melayang (Yohanes 8:44).

Pembaca yang Budiman! Kehendak bebas manusia diekspresikan dengan memilih sendiri jalan. Menentukan siapa yang hendak disayang. Mau ikut yang di kiri-kanan atau tetap dalam barisan. Percaya apa yang DIA katakan atau ragu-ragu apa memang demikian. Memilih-NYA dengan bulat hati dan pikiran atau DIA hanya diperlakukan sebatas cadangan. Semua terserah pilihan Puan dan Tuan, DIA lebih memilih diam.

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (Kejadian 2:16)

Kebebasan dalam episode Eden terkesan sangat fundamental bagi memahami narasi keseluruhan isi Alkitab. Tanpa pilihan maka tidak ada romantika kehidupan. Tiada yang kurasa, semuanya datar tanpa rasa. Free will menjadi ritme tarian keseluruhan cerita dari kitab Kejadian hingga kitab yang penghabisan.

Kemampuan memilih secara bebas merupakan melodi tembang di seantero Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Kemerdekaan dalam menentukan pilihan laksana benang merah yang merajut kisah cinta, drama keluarga, sejarah, puisi, dan gurindam serta rangkaian alegori menjadi suatu cerita lengkap di dalam Alkitab. Autonomi dalam memilih ibarat denyut nadi peradaban, bukan hanya sejak zaman kuda gigit besi namu juga hingga kini.

On top of that, kehendak bebas dalam memilih merupakan keputusan Sang Maha Kuasa yang dinaugerahkan kepada Adam Hawa sejak di Taman Sorga. Di dalam kedaulatan-NYA, DIA berkehendak agar Adam Hawa mewujudnyatakan kebebasan itu. Menentukan pilihan secara moral yang sesuai dengan keinginan hati dan akal.

Kalaupun dikau menghindar dari pohon pengetahuan dan memilih memakan buah kehidupan, itu berarti Adinda telah melaksanakan keputusan dan DIA senang. Ataupun sebaliknya, daku ambil sikap untuk makan buah pengetahuan, ini pun tidak menentang keputusan. Namun tindakan yang terakhir membuat hati-NYA bak luka kena cuka, ngilu, seperti tersayat sembilu.

Bukankah keputusan-NYA tidak menentukan daku dan dikau harus makan buah yang mana? Melainkan memberikan kebebasan kepada Adam Hawa menentukan pilihan. Jika di dalam kebebasan-NYA yang mutlak menganugerahkan kehendak bebas kepada Adam Hawa, apa yang hendak dikau kata!

Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? (Yesaya 40:14)

Dikau ada kehendak bebas karena DIA berdaulat. Hanya pribadi yang tidak bergantung kepada apapun di luar dirinya yang dapat menganugerahkan kebebasan moral kepada makhluk ciptaan-NYA. Kalau tidak, DIA akan deg-degan karena makhluk-makhluk itu ada potensi untuk melawan.

Kehendak bebas bukan saja logis, serasi dengan sanubari, namun juga seirama dengan hukum moral. Daku yang ada kebebasan memilihlah yang dapat dituntut untuk bertanggungjawab. Jika dikau tidak ada pilihan, bagaimanakah dapat bertanggungjawab atas tindakan?

Begitulah sepertinya DIA menciptakan daku dan dikau. Free will, anugerah yang perlu dirayakan sebagai salah satu pemberian terbesar nan mulia. Pilihan Puan dan Tuan saat inilah yang akan menjadi selebrasi akbar di akhir peradaban. Ataukah itu akan berbuah mimpi buruk yang sesungguhnya bukanlah maksud dan tujuan dari penciptaan?

Hidup ini pilihan, kebebasan menentukan jalan! Teman, iling lan waspodo di setiap persimpangan. Ada jalan yang disangka lurus datar, tak tahunya di ujung menanti si ular. Yang lain sempit nan sukar, dijauhi para pakar, bisa-bisa di ujungnya dikau akan disambut tempik sorak selebrasi akbar!

Kalaulah perkara ini sulit dicerna rasio, biarkanlah hati ambil komando! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments