Alkitab cukup jelas meyampaikan latar belakang drama alam semesta tercipta. Sebelum ada alam nyata, ternyata telah terlebih dahulu ada alam yang di sana. Siapa sangka, latar belakang ini menjadi penting untuk memahami apa yang terjadi di Taman Sorga.
Memang agak samar-samar bagaimana dunia adikodrati menjelma. Tidak usah kecewa, karena tidak ada rumusan yang dapat menguraikannya seturut dengan logika. Alam maya tidak peduli dengan hukum termodinamika. Penghuni alam sorgawi seakan-akan meremehkan semua hukum alam dan bebas bergerak di alam tiga demensi sekendak hati. Lincah ke sana kemari tanpa menggunakan sarana transportasi.
Yang mengherankan, makhluk-makhluk alam sana juga disebut sebagai anak-anak-NYA. Apakah sejak awal DIA mengkehendaki anak-anak-NYA yang dari alam sini menjadi bagian dari anak-anak di alam sana? Ataukah DIA tengah merencanakan perluasan anak-anak-NYA yang juga akan mencakup daku dan dikau yang ada di bumi?
Di atas apakah alas-alasnya ditanamkan? Atau, siapa yang meletakkan batu penjurunya, ketika bintang-bintang fajar bernyanyi bersama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? (Ayub 38:6,7 AYT)
Kitab Ayub memang agak aneh, banyak kalimat dengan lontaran-lontaran yang nyeleneh. Ayat di atas, penggalan dialog Sang Pencipta dengan makhluk yang serba terbatas. DIA bertanya, di mana Ayub ketika DIA menganyam alam semesta. Perlu membacanya dengan sungguh-sungguh agar dapat memahami secara utuh.
Dialog itu unik, namun terselip penyataan-NYA yang kelak akan menjadi kepingan puzzle yang membuat gambar besar semakin komplit. Sudahlah tentu, siapa pun tahu! Ayub belum ada kala DIA menciptkan alam semesta.
Namun kemudian, penjelasan selanjutnya cukup mengejutkan. Ayub belum ada, akan tetapi makhluk lain, anak-anak Allah [ bene elohim bahasa Iberani, sila lihat BibleHub.com] sudah terlebi dahulu ada. Dengan kata lain, sebelum ada Adam Hawa, DIA sudah ditemani bene elohim di alam sana.
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, (Kejadian 1:26)
Dengan kesadaran bahwa pembaca era Perjanjian Lama belum familiar dengan konsep Trinitas, maka kata Kita dalam kalimat Kejadian itu, tentu bagi penulis/ pembaca bisa jadi merujuk kepada elohim dan bene elohim. Seolah-olah, DIA tengah memaparkan rencana-NYA kepada jamaah sorgawi, semacam dewan musyawarah ilahi (Yeremia 23:18), untuk menghadirkan bene elohim di muka bumi.
Namun di ayat 27, ada kesan kuat DIA tidak menunggu persetujuan anggota dewan. Itu terlihat jelas bahwa DIA sendirilah yang menciptakan manusia. Dari ke dua ayat tersebut, dapat diduga bahwa dalam penciptaan Adam Hawa, DIA melibatkan bene elohim dari alam sana. Dan semua diskusi ini sepertinya terjadi di Taman Sorga sebagai headquater-NYA di dunia.
Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; (Kejadian 3:22)
Tentu kemungkinan besar kesamaan yang dimaksud bukanlah dengan Sang Pencipta, namun seperti bene elohim yang lainnya. Apakah ini juga berarti, bene elohim di alam sorgawi ada kemampuan untuk menentukan jalan sendiri, free will? Alias makhluk dari ke dua alam ada kapasitas untuk memilih ke kiri ke kanan atau tetap dalam barisan.
Jadi maklum saja, bukankah Adinda juga dapat rasa? Ketika DIA melemparkan gagasan untuk menciptakan manusia, ada bene elohim yang tidak bahagia! Makhluk supranatural yang tidak suka, si ular yang berduka. Dia melampiaskan murka dengan menggoda manusia.
Si ular berjaya, manusia celaka. Dia semakin menjadi-jadi, tinggi hati, tak dapat menahan diri, bahkan ingin menduduki kursi Sang Pencipta di dewan sidang ilahi (Yesaya 14:13). Ujung-ujungnya, dia menjadi penguasa dunia (Yohanes 12:31).
Ini menimbulkan berbagai tanda tanya. Ini isu keluarga, saling iri yang menguasai dada. Si ular sukses, mungkinkah ada bene elohim, bintang-bintang fajar, lainnya tergoda untuk turut serta? (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
