377. Adinda dan Diri-NYA

Viewed : 300 views

Pembaca Budiman! Setelah beberapa kepingan gambar yang bertebaran di sepanjang Alkitab disatukan serta diletakkan pada tempatnya, mulailah terbentuk gambar samar-samar. Mungkinkah penulis kitab Kejadian hendak menyampaikan berita di halaman-halaman pertama sebagai asal muasal keseluruhan isi Alkitab?

Jika daku abai akan makna trailer itu, maka akan mempengaruhi keseluruhan rangka besarnya. Sebaliknya, jika dikau maklum akan itu, bisa jadi adegan-adegan di bagian lain, yang selama ini terasa ngambang, akan menjadi lebih gamblang.

Narasi proses terciptanya alam semesta dan bumi dari ayat 1 hingga ke 25 dalam kitab Kejadian pasal 1 begitu singkat. Peristiwa sama dalam dunia fisika kemungkinan akan memakan waktu beribu-ribu laksa saat. Momen dramatis munculnya alam semesta dikisahkan hanya dalam tempo sekelebat. Seakan-akan sang penulis tidak sabar untuk segera loncat ke adegan klimaks!

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26)

Inilah dialog pertama dari cerita kolosal! Bagi pembaca di era digital, kata jamak ‘Kita’ dalam adegan tersebut mengundang berbagai tanda tanya. Namun, kalau saja ditempatkan di posisinya, bisa jadi pengertiannya akan jauh menjadi lebih sederhana.

Tidak seperti di era Perjanjian Baru, bagi pembaca di perioda Perjanjian Lama istilah tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) belumlah menjelma. So, kemungkinan besar kata itu ditujukan kepada sekelompok makhluk yang selalu ada di sekitar-NYA!

Makhluk yang jauh sudah ada sebelum alam semesta tercipta. Anak-anak Allah yang turut berdecak kagum (Ayub 38:7) kala mereka menyaksikan bagaimana Sang Pencipta merajut hukum Termodinamika dalam kaitan abadinya dengan prisnsip Entropi untuk mewujudkan dunia nyata.

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:27)

Penulis kitab Kejadian, seakan-akan buru-buru menyertakan penjelasan kritis di ayat selanjutnya. Bisa jadi sikap ini untuk menghindari kesalahanpahaman yang dapat menjurus ke paham politeisme.

Walau DIA mengutarakan gagasan, namun DIA sendirilah Sang Pencipta yang mengambil tindakan. Di tahapan ini kata ‘Kita’, jamak, berubah menjadi kata subjek tunggal, Allah. Hal ini dapat dilihat dari grammar kata kerja yang menyertainya. Dalam bahasa Iberani, sama halnya dengan bahasa Inggris, kata kerja menunjukkan tunggal-jamaknya subjek.

Have you listened in the council of God? (Ayub 15:8 ESV) God has taken his place in the divine council; (Mazmur 82:1ESV) Sekiranya mereka hadir dalam dewan musyawarah-Ku, niscayalah mereka akan mengabarkan firman-Ku kepada umat-Ku, (Yeremia 23:22)

Jika demikian adanya, mungkinkah adegan Kejadian pasal 1 ayat 26 dalam script penciptaan manusia terjadi di hadapan dewan musyawarah ilahi, the divine council (DC)? Bisa jadi DC ini semacam MPR-nya (Majelis Permusyawaratan Rakyat) penghuni alam sana. Setiap gagasan, pertimbangan, keputusan, usulan, dan pertanggungjawaban, serta pembagian tugas dimusyawarahkan di DC!

Dengan kata lain, anggota DC berpartisipasi dalam mewujudkan dan turut serta melaksanakan ke keputusan ilahi. Layaknya suatu kerajaan ataupun pemerintahan dengan sidang tahunannya, demikian juga Sang Kuasa dengan DC-NYA.

Ajakan kepada angota DC untuk menyambut gagasan-NYA menciptakan manusia (Kejadian 1:26), sekarang mempunyai arti berbeda. Kehendak-NYA agar manusia menjadi bagian dari DC, ‘Kita’, ternyata tidak mendapat dukungan 100 % dari anggota.

Seakan-akan reputasi Sang Kuasa dipertaruhkan untuk membatalkan ataukah melanjutkan program-NYA? Dibatalkan dapat berarti DIA gagal, melanjutkan juga DIA paham akan brutal! Dan oleh karena DIA begitu mencintai Adinda, DIA solid dengan rencana dengan mempertaruhkan diri-NYA. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments