Jangan Tamak! Jangan rakus!

Viewed : 1,779 views

Lukas 12:15
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Kaya sebetulnya relatif. Menjadi kaya tidak masalah. Berniat dan bercita-cita menjadi orang kaya adalah baik. Dengan kekayaan, orang berpotensi melakukan apa yang baik dengan miliknya. Banyak pertolongan yang dapat dilakukan orang yang hartanya melimpah.

Yang perlu dijaga adalah sifat dan sikap tamak. Waspada… jangan tamak! Jangan rakus!

Dalam hal harta, orang berpotensi menjadi rakus, tamak, dan egois.
Jadi persoalannya bukanlah keadaan kaya, tetapi sifat tamak dan rakus yang harus dibuang jauh-jauh.

Banyak orang kaya, tetapi baik dan murah hati. Suka memberi. Inilah sifat dan sikap terpuji.

Ironinya terkadang adalah orang tidak kaya, tetapi dalam hatinya sebenarnya bercokol ketamakan. Ada sifat egois. Mementingkan diri sendiri. Tentu ini bahaya!

∆ Adalah baik dan ideal… bila kaya dan murah hati serta tidak tamak.
Teruslah!

∆ Tidak apalah… bila tidak / belum kaya, tetapi baik hati dan tidak tamak.
Tetaplah bersyukur!

∆ Janganlah… tamak meskipun kaya.
Berubahlah!

∆ Hindarilah… tidak kaya dan juga tamak.
Berusaha dan berubahlah!

Kekayaan adalah anugerah Allah bagi orang yang bekerja baik dan berusaha sungguh-sungguh. Mari berupaya untuk itu jika memang bisa dan ada kesempatan. Tetapi jangan biarkan sifat tamak dan rakus mengikutinya.

Ingatlah selalu bahwa hidup kita tergantung sepenuhnya kepada Tuhan Sang Pemilik, bukan kepada apa yang kita miliki.

Selamat beraktivitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapny\

Photo by Raghuvansh Luthra on Unsplash

Comments

comments