293. Era Isoman

Viewed : 918 views

Terduduk lemas di kursi sofa nan empuk.
Kupejamkan mata sambil tertunduk.
Anganku melayang menembus awan,
meraba apa yang ada di depan,
pikiran liar melewati batas khayalan.
Alangkah menyenangkan,
jika pembaca yang budiman,
ikut sebagai teman seperjalanan.

Apakah memang segala sesuatu itu ada, karena ada alasan keberadaanya? Segala sesuatu di alam ada, karena ada gunanya. Tidak ada, yang ada, yang tidak ada maksudnya. Kalau begitu, semua yang ada, sungguh berharga. Walau keberadaannya bagi daku mengganggu, bahkan itu mungkin mendatangkan pilu, namun itu perlu! Begitu?

Setiap peristiwa ada tujuannya, setiap fenomena alam ada maksudnya. Baik kejadian biasa maupun yang luar biasa, baik yang mendatangkan sukacita ataupun menimpa bak bencana, semua terjadi karena ada pertimbangan. Perkara kecil ataupun besar, semua itu terjadi karena ada yang hendak disasar.

Ataukah semua terjadi semata-mata karena peristiwa alam?

Rangkaian sebab-akibat yang tidak ada habis-habisnya. Yang dahulu sekarang muncul kembali ke permukaan. Yang kelak juga sedang menunggu giliran. Semua berputar dalam suatu lingkaran, bak setiap peristiwa menunggu undian untuk ditampilkan.

Kejadian alam yang secara acak dapat menimpa siapa saja. Semua menjadi sasaran, tidak ada yang diistimewakan. Si virus yang tidak kelihatan menyerang setiap insan, berjatuhanlah korban. Perisitwa alam yang membingungkan, pada saat bersamaan itu terjadinya sembarangan namun seperti pilih-pilih korban.

Kejadiannya tanpa tujuan, tidak direncanakan, semua terjadi acak tidak karuan. Insiden-insiden alamiah tanpa rencana, tanpa pertimbangan, dan tanpa ada yang campur tangan. Reaksi kimia, prinsip fisika, maupun mutasi biologi yang spontan terjadi, hukum alamlah yang memegang kendali. Semua peristiwa di bawah matahari, mampu ditelusuri dengan ilmu pasti.

Hukum alam itu buta, tidak dapat merasa iba. Reaksi kimia tidak akan mau berhenti karena dikau kesulitan ekonomi. Hukum gravitas, gaya tarik bumi, tidak akan berubah walau daku memohon dengan segenap hati. Si virus terus bermutasi, walau kekasih hati telah pergi, si Corona tetap saja tidak peduli.

Begitulah kuasa alam yang menguasai manusia.

Hukum alam itu buta, tidak memandang muka. Dia tidak peduli dikau siapa, penganut agama yang mana, bahkan walaupun daku umat percaya. Semua tunduk kepada aturannya. Walau daku merasa gagah perkasa, namun sia-sia melawannya. Hukum alam akan selalu jaya, di segala tempat sama perlakuannya, dan begitulah sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan kejadian si Corona?

Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” (2 Petrus 3:4)

Kemanakah arah sejarah tengah diarahkan? Mungkinkah keberadaan si Corona menjadi bagian tahapan menuju kulminasi masa depan yang sudah ditentukan?

Ataukah semua ini hanyalah peristiwa alam yang acak tak karuan tanpa tujuan?

Dikau mungkin saja menyangka bahwa sebagaimana dahulu kala, demikian juga dengan si Corona, akan juga esok itu sirna. Duka nestapa yang ditinggalkan, jejaknya akhirnya hanya akan sebatas catatan. Dan kehidupan kembali seperti biasa-biasa tiada berkesan. Semua datar sesuai dengan kehendak alam. Buta, tanpa perasaan, segala sesuatu dahulu, sekarang, dan di depan, sama saja tidak ada perubahan.

Namun bagaimana kalaulah Sang Pemegang napas kehidupan, tengah menggunakan peristiwa alam untuk menggenapi rencana-NYA untuk masa depan! Mungkinkah setiapa peristiwa merupakan rangkaian tahapan? Setiap kejadian walau acak namun sejatinya kegenapan menuju masa penuh harapan.

Anganku terhenti, kala kudengar langkah kaki.
Waktunya lagi untuk berjemur pagi.
Leganya kala penciumanku kembali.
Terima kasih kawan, sudah menjadi teman di era isoman.

Mungkinkah DIA hendak berbicara langsung kepada setiap insan?

Dalam derita dan ketakutan, bisa jadi si virus sedang hendak menyampaikan pesan. Yang ini tidak tunduk kepada hukum alam. Entah dikau cerdik ataupun daku tidak terdidik. Baik kaum awam maupun rohaniawan. Pesan dianggap atau diabaikan, itu hanya bergantung kepada sikap Puan dan Tuan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Photo by Tina Witherspoon on Unsplash

Comments

comments