Amsal 30:8
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Tentu kita akan merasa senang dan lega jika doa kita dikabulkan Tuhan. Hanya saja tidak selalu dan belum tentu apa yang kita doakan akan diberikan Tuhan persis seperti apa yang diinginkan.
Karena itu sering menjadi pertanyaan bagaimana semestinya kita berdoa dan bagaimana sikap kita dalam merespons jawaban Tuhan atas doa kita. Kerap kali kita begitu gigih meminta yang diinginkan dan apa yang dipandang baik.
Penulis Amsal memiliki sikap terbuka kepada Tuhan dalam doanya. Dia tidak memusatkan diri kepada apa yang Allah akan beri.
Penulis Amsal tidak ingin hidup dalam kemiskinan, tetapi juga tidak menuntut kekayaan. Justru lebih menarik bagi dia adalah keinginannya untuk jauh dari kecurangan dan kebohongan. Sikap dan perilaku yang baik yang menjadi utama. Dia ingin menikmati apa yang memang menjadi bagian hidupnya sesuai dengan apa yang Allah mau.
Mari melihat diri kita, apa permintaan kita kepada Allah saat ini? Tentu banyak hal dan sulit dijabarkan. Sudahkah kita meminta apa yang patut yang memang cocok dan pas bagi kita?
Kita punya keinginan, tetapi Tuhan yang memiliki otoritas. Biarlah kita menghormati dan tunduk kepada otoritas-Nya.
Tuhan, celikkanlah mata hatiku untuk mampu melihat rencana-Mu. Mampukan aku merespons atas segala kebaikan-Mu yang telah kuterima.
Tuhan memberkati kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Isabella and Louisa Fischer on Unsplash




