Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Dalam sebuah slogan tertulis:
Jika Anda dapat menyebutkan 30 nama orang yang Anda sukai dalam waktu 25 detik, besar kemungkinan bahwa Anda juga merupakan orang yang disukai.
Apakah kita setuju dengan slogan itu?
Seorang kepala kantor pos, pernah bercerita bahwa salah satu kiat suksesnya adalah dia mampu mengingat 50.000 nama orang sekaligus nama kecilnya juga.
Setiap bertemu dengan teman barunya, dia selalu bertanya tentang pekerjaan, keluarga atau sebagainya. Ketika bertemu kembali dengan teman barunya itu, dia berjabat tangan erat dan bertegur sapa dengan lembut.
Ketika dia masuk ke dalam sebuah partai, dia menjadi salah satu tim sukses dalam kampanye dan berhasil memenangkan calon presiden Amerika yang diusungnya.
Rupanya memang ketika dia memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan baik dan santun, dia sedang memperluas teman-temnannya. Dia dikenal dan dia berpengaruh luas kemana-mana. Itulah yang membuat dia sukses.
Dia berkata, “Ketika nama seorang disebut dengan naluri sahabat, itu merupakan bunyi yang paling indah baginya”
Apa yang dilakukan orang tersebut sebetulnya adalah prinsip kristiani yaitu prinsip kasih dan persahabatan. Tanpa maksud-maksud tertentu dan slogan ada udang di balik batu, semestinya kita harus mampu menjadi sahabat baik bagi orang lain.
Banyak orang hidup kesepian karena merasa tidak memiliki sahabat. Karena itu, sejauh mana kita bersedia menjadi sahabat bagi orang lain?
Secara khusus di antara kita sebagai anak-anak Allah, seberapa besarkah kita dengan rendah hati menunjukkan perhatian ke saudara-saudara kita sebagai wujud bahwa kita adalah sahabat mereka?
Kerelaan menjadi sahabat yang baik adalah salah satu bukti bahwa kita hidup dalam kebenaran.
Selamat beraktivtas.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




