109. ‘Cincin Tunangan’

Viewed : 649 views

Ini kisah nyata, cerita sebenarnya. Kisah ini bukan kiasan, tidak pula karangan, apalagi dongeng anak ingusan. Sejatinya, ini sejarah, HIS-tory, riwayat Sang Pencipta. Kisah ini berbeda sekali dengan roman picisan. Ini romantika ilahi yang bermula jauh sebelum ada pelangi. Ini drama terpanjang yang pernah ada. Bermula dari waktu abadi, THE END-nya, siapa peduli? Narasi masih berlangsung, dan Sahabat merupakan lakon utama lepas dari engkau sadar atau tidak.

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
-Kejadian 2: 2

Allah berhenti dari pekerjaan-Nya? Allah mengevaluasi hasil kerja-Nya. Lihat bagaimana Sang Maha Seni melukis alam semesta beserta isinya dari yang tidak ada menjadi ada. Dia layaknya seorang maestro Leonardo da Vinci, mengamati hasil goresan kuasnya di atas kanvas. Dia mundur beberapa langkah, bergerak ke kiri, lalu beberapa langkah ke kanan. Belum puas, dia coba melihat dari ketinggian. Dan, mantap! Jadilah Monalisa yang monumental sepanjang sejarah.

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.
-Kejadian 1: 31

Dan, mantap! Semuanya sungguh baik, tak ada warna yang terlalu pudar. Setiap garis tepat pada tempatnya. Lengkungan terbang burung di udara, hingga lintasan planet dan bintang di angkasa semuanya sesuai dengan yang direncanakan. Proses kimiawi sinar matahari dan mineral di daun, hingga keajaiban terjadinya hujan persis seperti yang Dia pikirkan. Ketika melihat semuanya itu, Allah bergumam sambil berkata kepada diri-Nya sendiri: “Mantap, sempurna, sungguh semuanya amat baik!” Dia tersenyum, Dia puas.

Semua dan setiap apa (atau siapa) yang Dia ciptakan ada maksud dan tujuannya. Tak ada yang tak penting apalagi sia-sia. Makhluk besar seperti gajah dan cacing di tanah, semua berfaedah. Bulan, bintang, batuan, angin, laut, dan hujan, semuanya sambut menyambut melangkah ke satu tujuan. Saat Allah memperhatikan ciptaan-Nya yang luar biasa itu, seolah-olah Dia melihat diri-Nya sendiri dan tersenyum sambil bergumam: “Busyet dah, Gue banget tuh!”

Apa faedahnya semua itu? Apa gerangan tujuan semua itu? Di atas segalanya, untuk siapa semuanya itu?

Untuk kekasih-Nya, Adam dan Hawa, sebagai kado tanda ikatan cinta-Nya. Aaahhh, begini, itu seperti cincin tunangan dari Allah yang dipersembahkan semata kepada Sahabat dan saya. Cincin pengikat cinta sejati nan murni. Tanpa ada agenda tersembunyi apalagi motivasi yang diselubungi. Asmara yang asli nan kodrati itu selalu bersifat beri, beri, dan beri seluruhnya. Tak ada yang tertinggal, tak ada yang terbagi, karena tak ada yang sisa. Matahari di siang hari. Bulan bintang di malam remang. Sekaliannya utuh untuk Sahabat seorang diri.

…seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.
-Yesaya 62: 5b

Wow, wow, wow… Dapatkah Sahabat merasakan hati-Nya ketika Dia menyerahkan cincin itu? Dia berbunga-bunga bak insan yang tengah tergila-gila kepada belahan jiwanya. Ups, hati-Nya girang bukan hanya saat hari-hari pertama di Taman Eden. Tidak hanya ketika serigala bercengkerama dengan domba. Bukan!

Cinta-Nya abadi, tak berubah. Dia tergila-gila kepada Sahabat hingga sekarang. Ketika Sahabat membaca artikel ini, kasih-Nya kepada Sahabat sama gilanya pada waktu Dia berhenti di hari ke-7. Tidakkah dapat Sahabat rasakan? Gawat, kok hatiku kebas, tak merasa apa-apa? Moga Sahabat tidak.

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Comments

comments