Sudah lebih 9 bulan si Corona bertandang. Bak kuda liar lepas dari kandang. Semua aturan baku ataupun kebiasan dari dulu-dulu ditendang. Dibuat berantakan tak lagi sedap dipandang. Kehidupan sosial kemasyarakatan ada dalam fase panas dingin meradang. Tidak ada yang tahu kapan si virus akan pulang. Sudah dekat ataukah masih panjang?
Ini masa-masa bak benang kusut. Semua bidang kehidupan semrawut. Penglihatan semua orang layaknya ditutupi kabut. Seperti menghadapi musuh dalam selimut. Gagap menghadapi maut. Sudah berbulan-bulan keadaan tidak surut-surut. Seakan-akan si Corona berjaya membuat lebih 7 milyar umat manusia tunduk. Ini pertama kali keangkuhan homo sapiens tak berdaya tekuk lutut.
Kebiasaan ibadah umat Nasrani juga tidak luput. Aturan-aturan ataupun ritual yang lalu-lalu disingkirkan ke sudut. Jamaah dalam beribadah pun tidak lagi ikuti tata urut. Masing-masing dipaksa berjuang sendiri keluar dari situasi kalang-kabut. Dan ambil jalan sendiri apa yang dianggap patut. Serta mulai berani angkat telunjuk:
’Mengapa kok jadi kusut?’
Kelihatannya keadaanlah yang memaksa jemaat tidak lagi segan ataupun takut. Dulu seperti ini bisa dicap sikap yang tidak menurut. Prilaku lancang yang artinya tidak tunduk. Karena bertanya hal-hal yang di masa silam bisa dianggap tidak patut.
Ayo sambut!
Ini perioda jemaat mulai tega bertanya. Tidak lagi betah diam saja. Pertanyaan yang bisa menggoyang dogma. Itu layaknya mengotak-atik pondasi setiap denominasi gereja. Doktrin yang bak dijaga ketat oleh para dewa. Itu dasar berdiri kokohnya ritual umat percaya. Dan itu dianggap tidak akan berubah sepanjang masa. Sampai datangnya si Corona.
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. (Yohanes 2:19-21)
‘Apaaa?’ Bait Suci berubah rupa? Ini bukan perubahan sederhana. Ini ‘quantum-leap changes,’ transformasi luar biasa. Pula ini bukan menyangkut tata cara. Apalagi menyangkut ritual dari denominasi gereja. Ataupun tata cara ibadah yang mana yang benar. Bukan. Tidak. Ini perubahan mendasar. Alih bentuk ibadah yang akbar.
Bangunan Bait Suci dari batu dan kayu. Berdiri megah lambang kejayaan iman masa lalu. Ribuan tahun itu menjadi tempat umat menumpahkan isi kalbu. Siapapun yang lewat akan berhenti terpaku. Memandang kemegahannya yang tak lekang oleh waktu.
Para imam senantiasa dengan tangan terbuka siap menerima kedatangan tamu. Pekerja Bait Suci, pelayan rohani penuh waktu. Mereka dengan setia melakukan tugas rutin sepanjang hari tak jemu-jemu. Imam-imam pilihan dari salah satu suku yang 12 itu.
Jika Bait Suci berubah rupa. Dikemanakan para imam yang begitu setia? Mereka yang terpilih dari suku istimewa. Golongan yang menyerahkan hidup kepada Tuhan sepenuhnya. Meninggalkan godaan dunia. Dan senantiasa siap melayani siapa saja. Kapan saja. Serta hanya fokus melayani Sang Pencipta.
Jika Bait Allah sudah tidak ada. Lantas umat yang hendak beribadah harus pergi ke mana? Kebiasaan kebaktian turun temuran apakah dilupakan begitu saja? Apakah mulai saat itu ritual ibadah tidak lagi sama? Dan seribu satu pertanyaan serupa.
If you want small changes, work on your behavior; If you want quantum-leap changes, work on your paradigms. (Stephen R. Covey)
Ini berkaitan dengan perubahan paradigma. Perubahan signifikan. Karenanya ini suatu lompatan jauh ke depan. Karena menyangkut pola pandang. Yang berhubungan dengan mind set, pola berpikir.
‘Bagi seorang anak kecil yang memegang palu. Segalanya tampak seperti paku.’ (John Naisbitt)
Begitu palu lepas dari tangan. Barulah si anak tahu. Bahwa tidaklah semua paku! Ini kenyataan yang sama sekali baru. Pengalaman yang sangat berbeda dengan yang lalu-lalu.
Si anak menangis sedih. Berurai air mata hingga perih. Karena tidak siap meninggalkan zona nyaman. Keringat dingin bercucuran. Jika harus melangkah keluar dari kebiasaan. Sambil ngambek si anak mengkhayal. Seakan-akan palu masih di tangan. Dengan demikian, masa lalu masih bisa dihadirkan. Hatinya jadi tentram.
Ataukah mampu bertindak sebagai orang dewasa? Terima fakta. Siap menyambut walau tak tahu arahnya ke mana. Melihat itu peluang untuk mengalami hal-hal baru. Bahwa hidup ini jauh lebih dari sekadar paku memaku.
Itulah pola pikir itu!
So, ini bukanlah berkaitan dengan behavior. Bukan menyangkut persoalan apa boleh ini atau itu. Cara ini atau cara itu. Model yang ini atau yang itu. Ibadah on line ataupun kebaktian di gedung gereja, on site. Tidak! Apalagi bangga dengan terobosan persekutuan virtual. Ataupun melihat peluang PA terbuka luas via dunia maya. Bukan!
Ini cara melihat suatu kejadian. Melihat dari sudut yang berbeda dari kebiasaan. Menantang pendapat orang kebanyakan. Pendapat umum yang sudah dianggap suatu kebenaran.
Jika saja! Palu itulah bangunan gereja. Sebagaimana 2.000 tahun lalu disampaikan Mesias Sang Raja. Apakah daku dan dikau siap jadi orang dewasa? Menyambut lompatan besar. Perubahan akbar. Kembali ke hal-hal dasar. Ataukah cenderung gusar? Ikut prilaku anak sekolah dasar. Ayo sadar!(nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Prasesh Shiwakoti (Lomash) on Unsplash




