225. ’The New Normal’

Viewed : 908 views

Setelah lewat 6 bulan. Kala si Corona menyapa masyarakat di Wuhan. Akhirnya seluruh dunia menjadi bulan-bulanan. Setiap individu seakan dipermainkan. Kucing-kucingan melawan musuh yang tidak kelihatan. Bahkan nyaris awalnya orang bak kesurupan. Kalap menyelamatkan nyawa dari lawan. Musuh yang sejatinya bermain di alam pikiran!

Keadaan bisnis juga tak kalah mengerikan. Krisis ekonomi telah lebih dulu menimpa buruh harian. Bisnis kacau balau tidak karuan. Phk besar-besaran tidak dapat dielakkan. Hilanglah jaminan masa depan. Tidak tahu ngapain lagi setelah hilang pekerjaan. Hidup masihkah bisa bertahan? Jangan-jangan situasi ekonomi ini dapat lebih banyak menelan korban.

Harap-harap cemas kapan semua ini akan berhenti. Mungkinkah suasana seperti lampau kembali? Hidup seperti yang dulu-dulu dialami lagi. Harapan ini mungkin saja hanya sekadar mimpi. Merindukan saat-saat memori indah diulangi lagi.

Ataukah lebih baik menerima fakta? Hidup berdampingan dengan si Corona. Berdamai dengan wabah yang telah merubah semua pola. Berteman dengan mengikuti keinginannya. Bersahabat dengan membeo kepada tuntutannya.

Seakan si virus begitu jumawa. Bangga memegang kendali masyarakat dunia. Lebih tujuh milyar manusia dibuatnya tak berdaya. Siapa sangka si tak kasat mata dapat mendikte semua. Begitu berkuasa. Hingga seolah tidak ada yang berani bertanya. Bahkan semua negara takluk. Ke pola baru rakyat tunduk.

Kebiasan-kebiasan telah dilakukan puluhan tahun. Budaya, adat, maupun ritual agama yang dipelihara turun temurun. Tradisi dagang dan bisnis dari abad ke abad. Semua ditata ulang dalam sesaat. Ingat! Cepat. Ataupun lambat. Semua akan menyesuaikan dengan keinginan sang sahabat. Si Corona yang hebat!

Aturan baru ditampilkan. Tata krama dalam bersilaturahmi baru pun diperkenalkan. Kebiasaan yang dulu tak terbayangkan. Sekarang dapat disaksikan. Nyata terlihat dalam keseharian. Entah itu terjadi karena dikau rela ikut aturan. Ataupun harus dipaksakan. Semua ikut ritual baru sebagai tanda perdamaian.

Hari-hari di bulan suci Ramadhan yang seharusnya berlimpah berkat. Bisnis biasanya maju pesat. Penghasilan semua orang bakal berlipat. Talisilaturahmi handaitolan dipererat. Dimana-mana tegor sapa, pelukan, cipika-cipiki, dan jabatan tangan terlihat. Maaf, itu tinggal kenangan yang telah lewat. Dan bisa jadi akhirnya itu pun juga tidak akan lagi diingat.

Mungkin penganut agama Nasarani dan Islam yang paling kena dampak. Bentuk-bentuk ritual ibadah yang selama ini tampak. Siapa sangka itu sekarang ditolak. Dan heran bak dicuci otak. Semua penganut agama itu sepakat. Dan pula kompak! Sungguh kalah telak! Si Corona memang dahsyat. Dapat merubah tradisi yang sudah begitu melekat. Dan berkarat!

Pengalaman itu bagi sebagian orang yang takwa bak hati diiris-iris. Rasanya ingin menjerit menangis. Bagaimana mungkin kebiasaan ibadah yang begitu suci hilang. Gedung-gedung megah tinggal hanya bisa dipandang. Ritual ibadah yang begitu sakral ditendang.

Persekutuan tatap muka pun dilarang. Niat ke rumah Tuhan untuk bertemu saudara seiman saja dihalang. Kapan lagi bersama jamaah dapat bersenandung riang. Memuji Tuhan sambil berpegangan tangan. Apakah segitunya sehingga si Corona seakan dapat mengalahkan Tuhan?

Di tepi sungai-sungai Babel kita duduk sambil menangis karena teringat akan Yerusalem. (Mazmur 137:1, FAYH)

Sambil duduk di tepi sungai-sungai Babel dirundung rindu. Menatap ke langit biru. Mengingat masa-masa indah yang lama sudah berlalu. Tak tahan daku. Menangis menangis menangis tersedu-sedu. Terkenang Yerusalem yang selalu dihatiku. Membayangkan suara nafiri dan kidung pujian yang merdu. Kapankah bisa lagi beribadah di Sion seperti dulu? (inspired by the Message dari ayat yang sama).

Kawan! Merubah kebiasaan. Ritual yang sudah ratusan tahun. Apalagi itu sudah bagian dari keyakian. Keyakinan dan kebiasaan yang sudah tidak dapat dibedakan. Terlebih lagi didasari pula dengan Firman Tuhan. Setiap hari Minggu didengung-dengungkan. Dan dengan itu bertumbuhlah pula iman. Merubah itu tidaklah semudah membalik tangan.

Ibadah tidak lagi di Rumah Tuhan. Karena itu tidak lagi berjamaah mengikuti liturgi yang ditetapkan. Persembahan perpuluhan pun sudah tidak se-afdol seperti di kebaktian. Ibadah tanpa pujian dari paduan suara. Mungkinkah ibadah tanpa kehadiran bapak pendeta?

Ataukah lebih baik berdamai dengan situasi tidak normal. Dan mulai mencari hal-hal yang fundamental. Mengurai tradisi dari yang esensial. Mengesampingkan embel-embel ibadah dari yang vital. Dan kembali kepada hal-hal yang sentral. Dan berani melangkah seturut buku manual!

Tidak takut ucapkan: ‘Selamat tinggal!’ Kepada hal-hal yang selama ini dianggap sakral. Dan dari dulu itu tidak pernah berubah nyaris kekal. Dan ternyata itu temporal! Tambahan-tambahan yang sepertinya dipaksakan ke dalam ritual. Dan itu sudah menjadi panduan formal. Di luar itu dianggap illegal.

Sial! Pemikiran semacam itu akan dianggap sebagai pendapat radikal. Golongan elite rohani akan kesal.

Namun, sejatinya, tidak ada agama yang kebal. Ini kesempatan yang mahal. Moga dikau masih rela menggunakan akal. Siap menyambut The New Normal. Menyongsong hidup beragama yang selama ini tak dikenal! Insha Allah, dikau tidak akan menyesal. Telah hidup di era si Corona yang nakal..😄 (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments