05. Sadar

Viewed : 1,126 views

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya : Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah- limpah makanannya, tetapi aku disini mati kelaparan. (Lukas 15:17)

Kesadaran itu tidak pernah datang terlambat. Akhirnya sang bungsu mendapatkannya. Kesadaran akan keadaannya mencelikkan matanya untuk melihat keadaan di dalam rumah bapaknya.

Sang bungsu dibawa kepada sisi ekstrim di dalam hidupnya. Dia melihat bahwa orang upahan di rumah bapaknya yang dahulu dengan mudah dia perintahkan untuk melayaninya, ternyata lebih makmur dari pada apa yang dialaminya sekarang. Mereka berlimpah-limpah makanannya.

Kesadaran akan kehidupan (yang berkelimpahan) dan kematian telah mengetuk pintu hatinya. Ia mengaku bahwa pilihannya adalah salah, dan kesadaran itu juga akhirnya membawa kepada pengakuan bahwa keadaannya lebih buruk dari segala orang upahan di rumah bapaknya.

Proses mencapai sebuah kesadaran ternyata tidaklah mudah; melalui pengasingan, kesepian, kegagala, penderitaan dan ketidakberdayaan, yang akhirnya membuka kesadaran dirinya.

Semuanya itu seperti pisau bedah tajam yang merobek-robek harga dirinya. Pisau tajam itu terus bekerja membuang segala berhala yang sudah mendarah daging di dalam jiwanya selama ini.

Si bungsu belum kembali ke bapaknya, tetapi dia mulai secara sadar bahwa pilihan yang terbaik adalah pulang ke rumah bapaknya.

Sang bapak tetap sabar menunggu.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Kasun Chamara from Pixabay

Comments

comments