Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, Aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. (Lukas 15:17,18)
Akhirnya sang bungsu berkehendak untuk pulang. Merupakan sebuah keputusan yang sangat berani untuk mengakui keberdosaan dirinya. Egonya terus berkecamuk di dalam dirinya. Mungkin dia dapat mengatakan lebih baik mati dari pada pulang. Sangatlah malu untuk bertemu bapaknya, saudaranya atau orang-orang upahan di rumah bapaknya, namun semua itu dikesampingkannya.
Kesadaran akan ketidaklayakan dirinya membawa kepada keputusan tersebut. Tidak ada lagi dari dalam dirinya yang dapat dijadikan alasn untuk tetap tinggal bersama kawanan babi.
Pertama, dia kesepian. Tidak ada yang mengasihinya dengan kasih yang tulus. Semua orang yang pernah ada disekitarnya, tertarik datang kepadanya karena dia mempunyai banyak harta. Ketika harta itu telah lenyap, hilang sudah semua sahabatnya.
Kedua, dia miskin dan menderita. Tidak ada harta lagi yang ada padanya. Ia hidup dalam belas kasihan orang lain. Dan itu pun sedikit dia dapatkan. Harga dirinya yang selama ini didasarkan kepada harta yang dimilikinya, turut lenyap bersama dengan segala kepunyaannya, yang ada tinggalah pengharapan akan belas kasihan orang lain kepadanya.
Ketiga, dia menyadari kebebalannya. Tidak dapat disangkali lagi bahwa semuar ini karena dia lebih mendengarkan pikiran, perasaan dan kehendaknya sendiri. Dia tidak mendengarkan nasihat orang tua dan para bijak bestari, dan apa yang dialaminya adalah buah dari kebebalan yang dia lakukan.
Keempat, dia menyadari pemberontakannya, seorang anak durhaka. Dia telah berdosa kepada sorga bapaknya, dan itu mendukakan orang tuanya. Ia sadar bahwa dirinya sudah tidak layak disebut anak lagi, dan Ia hanya ingin menjadi orang upahan di rumah bapaknya.
Kelima, dia meyadari tempat yang terbaik bagi dirinya adalah rumah bapaknya, dan bukan di kandang bersama ternak babi yang yang harus dipeliharanya. Rumah bapaknya adalah rumah dimana dia merasa aman dan mengalami hidup yang berlimpah-limpah.
Semua itu berkecamuk menjadi satu. Namun alasan praktis tersembunyi adalah bahwa dirinya membutuhkan makan, yang dapat dipenuhkan dengan menjadi orang upahan di rumah bapaknya.
Sang bungsu tidak menyadari bahwa bapanya menunggunya karena dirinya ingin mencurahkan sepenuh kasih sayang kepada anaknya, lebih dari sekedar makanan dan minuman yan dia dambakan.
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |
Image by Sri Harsha Gera from Pixabay




