Hidup ini bak mimpi buruk dalam kenyataan. Segera ingin sadar dari impian. Terbangun dari tidur yang menyakitkan. Terlepas dari beban yang tak diharapkan. Karena justru yang ditakutkan. Hal-hal yang dikhawatirkan. Dirisaukan. Itu semua antri terjadi dalam keseharian. Yang satu belum terselesaikan. Belum lagi kelar terjadi dalam kehidupan. Yang lain sudah buru-buru masuk dalam antrian. Sungguh! Bangun pagi ini, ingin rasanya semua itu terlepas dari kenyataan.
Ataukah itu kenyataan manis bak dalam impian? Realitas hidup yang hanya ada dalam khayalan. Kesenangan yang tak akan dialami orang kebanyakan. Semua yang diharapkan. Hal-hal indah yang dirindukan. Rezeki berkelimpahan. Penyakit menjauh dari kehidupan. Sejahtera sentosa semuanya aman-aman. Hidup yang rasanya ingin itu terus bertahan sepanjang zaman. Sejatinya! Tidur malam ini, rindu rasanya semua itu terus hingga kekekalan.
Ups! Maaf, kawan! Entah hidup ini bak impian yang menyakitkan. Ataupun khayalan yang menjelma dalam keseharian. Semua akan pergi. Di bawah matahari tidak ada yang abadi. Tidak ada yang tidak akan angkat kaki. Yang merasa mujur. Ataupun mereka yang bak bernapas dalam lumpur. Semua akan mati! Dan akhirnya tidak diingat lagi.
Mengapa hidup seperti ini? Sejujurnya, hidup lebih sering seperti mimpi buruk di siang hari. Mungkinkah karena Dia telah kutinggal pergi? Betapa sunyi hati kala Dia sudah angkat kaki. Tingal ku sendiri di planet nan sepi. Hidup sunyi sendiri. Di luar taman Eden semua bisa terjadi. Sumber Kehidupan ku singkirkan. Bencana dan nestapa menghampiri. Itulah fakta yang dihadapi. Dan itu bukan mimpi. Hidup nyata sehari-hari.
Kemudian Allah berfirman kepada perempuan itu, “Engkau akan melahirkan anak dengan kesakitan dan penderitaan yang amat sangat. Namun demikian engkau akan menyambut kasih mesra suamimu, dan ia akan berkuasa atas dirimu.” (Kejadian 3:16, FAYH)
Aaahhh! Mengapa ini harus terjadi? Kisah cinta yang berduri. Akhirnya berujung sakit sekali. Dia kutinggal pergi. Kini kuhidup sendiri. Meratapi kemalangan yang menyayat hati. Derita datang silih berganti. Sakit dan derita, itu makanan sehari-hari. Itulah nasib semua makhluk di bawah matahari.
Namun! Justru yang dibenci sangat dirindukan. Seharusnya dijauhi malahan di dekati. Yang akan hilang sebaliknya dicari habis-habisan. Itu pasti akan ditinggalkan, tak tahunya, makin diperebutkan. Semua akan pergi. Namun yang datang tak henti-henti. Generasi satu hilang. Yang lain siap mengganti. Itulah nasib di bumi. Dulu, sekarang, hingga yang akan datang.
Bak perempuan yang sakit bersalin. Sakit yang bukan main-main. Derita yang meliputi jiwa raga. Itu taruhannya nyawa. Tak ada yang tersisa, keluarga pun ikut merana. Penantian yang terasa begitu lama. Setiap menit berjalan buram. Setiap muka terlihat suram. Masa-masa kelam. Begitulah nasib menimpa setiap insan.
Bersalin! Ini jenis penyakit tidak seperti yang lain. Ini derita yang diharapkan. Bahkan dinanti-nantikan. Dirindukan. Nestapa ini disambut dengan kasih mesra. Penderitaan yang disongsong dengan lega. Keluarga senang. Tetangga girang. Semua yang dengar beritanya menjadi riang. Inilah satu-satunya kemalangan yang dinanti-nantikan karena membawa kesenangan.
Mungkinkah, seperti itu setiap penderitaan? Derita yang muncul dari kasih mesra. Pukulan yang menyakitkan dari cinta. Sengsara yang lahir dari tresna. Cinta tiada tara dari kekasih jiwa. Berbuah manis setelah lewat balada. Senandung duka yang dihindarkan manusia. ’Love Hurts,’ cinta yang menyakitkan! Sakit yang diimpikan. Dinanti-nantikan. Serupa itukah arti derita bagi setiap kekasih hati-Nya?
Apakah derita itu sebagai jendela melihat ‘keindahan’? Pesona yang tersimpan dibalik awan kelabu. Itu pintu masuk untuk mengungkap misteri dibalik kehidupan. Tempat berpijak untuk memandang apa di seberang sana. Kemampuan melihat yang tak kasat mata. Kepekaan mendengar suara yang tidak ada nada. Hanya lewat penderitaan dikau akan tahu: ‘Aku ini siapa?’ Dan akhirnya. Kematianlah sebagai jalan satu-satunya untuk kembali ke Taman Sorga. Bertemu dengan Si Dia. Menatap-Nya muka dengan muka. Ooo, alangkah senangnya.
Mengapa terjadi kepada diriku
Aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah kupergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa dengan mu
(‘Kisah Cintaku’ by Chrisye)
Ini berlainan dengan semua prasangka. Ketika berkat itu buah dari petaka. Sukacita datang dari derita. Kala kemenangan itu karena kekalahan. Keberhasilan sebagai hasil dari rugi tak karuan. Terhormat karena dapat tempat yang paling dihinakan. Kaya raya karena kemampuan memberi dari kekurangan. Dan akhirnya. Kehidupan sesungguhnya itu bermula dari kematian.
Aaahhh! Kemalangan yang membahagiakan.
’Love Hurts,’ cinta menyakitkan berujung melegakan. ‘Love never thinks evil,’ cinta tak mungkin mencelakakan. Begitulah cinta-Nya kepada dikau. Ketika jalan berbatu tajam. Kiri kanan jurang dalam. Kadang mendaki terjal. Lain waktu licin curam. Ingat! Ingat sakit bersalin. Harap bertahan. Karena di ujung sana menanti Sang Kawan. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Alexas_Fotos from Pixabay




