Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul

Viewed : 1,377 views

“Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.”

Sahabat yang terkasih,

Sebagai orang Jawa saya belajar memahami kearifan dari falsafah “mangan ora mangan asal ngumpul”. Ungkapan ini bukanlah tanpa maksud, mengingat ngumpul menjadi suatu hal yang penting dan bermakna, yang bukan hanya berlaku bagi komunitas masyarakat tradisional Jawa untuk menunjukkan sifat kekeluargaan yang besar. Bahkan hal ini pun diamini oleh umumnya masyarakat tradisional lain di berbagai belahan bumi.

Yang menjadi penekanan bukan aspek makanan dan minumannya (mangan ora mangan – nya), tetapi kedekatan relasi yang terjadi di dalam hubungan tersebut di dalam situasi apa pun yang terjadi (dalam keadaan mangan ora mangan – nya).

Ada suasana kebatinan di dalam situasi tersebut, yaitu kebutuhan untuk membangun kualitas hubungan yang guyub, rukun, damai, dimana kesejahteraan dan sukacita dari para anggota komunitas di dalamnya.

Apakah hal kerajaan Allah adalah “mangan ora mangan asal ngumpul?” Sebagai orang Jawa yang percaya kepada Kristus, saya berusaha merenungi falsafah ini.

* * *

Kerajaan Allah bukanlah sebuah kerajaan, negara, atau pemerintah di dalam pengertian fisik yang selama ini kita ketahui. Kerajaan Allah juga bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah kerajaan agama, dimana agama menjadi dasar di dalam kerajaan tersebut.

Fokus di dalam pemerintahan Kerajaan Allah yang dimaksud di dalam Kitab Suci, yaitu pemerintahan Allah atas kehidupan setiap orang percaya. Dimensi ini menembus benteng-benteng formalisme agama dan mengatasi segala ritual, tradisi, dan segala ‘ubo rampe (bhs jawa – perlengkapan upacara) yang dibangun diatasnya. Kerajaan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena tidak terbatasnya Tuhan dengan segala hadirat Nya yang kekal.

Kristus tidak membawa agama, tetapi membawa pemerintahan Allah di dalam kehidupan setiap orang percaya. Dan berkali-kali justru di dalam Kitab Suci dinyatakan status orang percaya di muka bumi ini sebagai pendatang dan perantau, sebagai seorang musafir di dalam kesementaraan hidup ini, mung mampir ngombe (bahasa Jawa), yang merindu rumah yang kekal dan sejati.

Ketika saya mendefinisikan hal kerajaan Allah di dalam dimensi (soal) makanan dan minuman dan dengan segala turunannya, maka saya akan terjebak kepada kehidupan rohani yang seperti halnya survival for the fittest, homo homini lupus, siapa yang kuat dia yang menang. Siapa yang mampu mendapatkan makanan dan minuman (dengan segala turunannya) adalah sebagai seorang pemenang.

Ada kerumitan yang terjadi di dalam pengertian ini, bak hirarki kebutuhan Maslow, dimana jalan kerohanian layaknya seperti orang sedang menaiki tangga untuk mencapai aktualisasi diri, “Saya Bisa!”. Dan kemudian berbangga dengan segala pencapaiannya. Tingkat kepuasan menjadi semakin rumit dan terdiferensiasi di dalam skala kuantitas dan kualitas tertentu. Makanan dan minuman (dengan segala turunannya) tidak dipandang sebagai sebuah kebutuhan hidup (makan yang secukupnya (lih. Doa yang diajarkan Kristus), tetapi menjadi bagian dari pencapaian reputasi manusia; terdapat sebuah spektrum luas dari hanya sekedar makanan dan minuman kelas ‘nasi kucing’ atau warteg kepada kelas kuliner tingkat tas dengan segala tetek bengek (ubo rampe) penyajiannya.

Ada sebuah sifat kompetisi yang laten di dalam dimensi ini, bahwa manusia dipacu untuk berkompetisi untuk mendapatkan yang lebih dan lebih lagi dibandingkan yang pada umumnya dikonsumsi orang lain. Secara tidak sadar menjadikan oran lain menjadi kompetitor kehidupannya, bahkan Tuhan pun ingin diajaknya berkompetisi.

Jikalau sifat itu diproyeksikan di dalam kehidupan keagamaan, maka kehidupan keagamaan menjadi medan yang sangat potensial untuk menunjukkan aktualisasi dirinya (baca: kesombongan diri yang laten). Meskipun pada sisi yang lain terdapat orang-orang yang ‘kalah’ (baca: kerendahan diri yang laten), karena tidak mampu mencapai yang seharusnya.

Keber-agama-an yang seperti itu selayaknya seperti orang mengkonsumsi makanan dan minuman (dengan segala turunannya), memicu aktualisasi diri seseorang untuk meraihnya (bukan aktualisasi diri Tuhan).

Agama hanya bagi orang yang kaya, yang bisa, yang mampu, yang berprestasi, yang pandai, atau bagi orang yang lebih kaya, yang lebih bisa, yang lebih mampu, yang lebih berprestasi, yang lebih pandai … dan seterusnya. Padahal itu hanyalah sebuah mekanisme kompensasi demi kompensasi seseorang yang tidak menyadari ketidakmampuan, kebangkrutan dan keberdosaannya.

*

Undangan untuk hadir di dalam perjamuan makan yang kita terima merupakan kesempatan yang istimewa. Sebagai orang dewasa, ketika kita menghadiri undangan tersebut bukan karena makanan dan minuman yang disajikan, tetapi karena “siapa” orang yang mengundang tersebut. Ketika ada kejelasan status hubungan kita dengan “siapa” pengundang, maka dengan senang hati kita akan menghadirinya, ini adalah kesempatan yang baik untuk bertemu, beraudiensi, beramah tamah dengan pengundang. Makan dan minuman adalah hal yang kedua, tetapi relasi yang terjadi itu menjadi lebih penting. Perjamuan menjadi wujud untuk merayakan sebuah relasi.

Jika kehidupan ini adalah sebuah ritual “mangan ora mangan asal ngumpul” bersamadengan Allah pencipta langit dan bumi sebagai pengundangnya untuk menghadiri perjamuan yang batiniah dengan Nya, maka memang benar bahwa ini bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi lebih dari pada itu, karena saya mendapat kesempatan istimewa mengalami kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikaruniakan oleh Allah.

Kita tidak perlu berkompetisi dengan Allah, kita tidak perlu menunjukkan kebisaan kita, karena yang sedang kita alami adalah kita mengalami kasih karunia dan kebenaran yang dicurahkan Nya kepada kita ketika kita membukakan pintu bagi undangan Nya.

“Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk, jika seseorang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk kepadanya dan Aku akan makan bersama dia dan dia bersama-Ku.”

Ya, Dia sebenarnya selalu mengundang kita untuk mengalami perjamuan dengan Nya.

Salam
Teja, 16/7/2019

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by StockSnap from Pixabay

Comments

comments