85. ‘Cinta Sungsang’

Viewed : 602 views

Sobat! Betapa leganya mengetahui bahwa kita adalah kekasihi Tuhan! Cinta Tuhan kepada kita, pribadi lepas pribadi, serupa. Sama dalam arti kadar, kwalitas, maupun kwantitasnya. Tak ada dalam kamus-Nya istilah favoritisme. Maaf, artinya? Ooo, Allah tidak mengidolakan dikau yang fasih berbahasa Inggris dan menganggap remeh yang hanya bisa bahasa Braile. Dia tidak lebih sayang kepada umat Nasrani dan memandang sebelah mata jamaah Muslim. Tuhan tidak lebih terpesona kepada sampean yang giat memimpin kelompok Pemuridan dan membuang muka yang tak konsisten memberi perpuluhan. Allah tidak mengunggulkan awak yang berstatus hamba Tuhan dan mengesampingkan yang tak tertarik ikut persekutuan.

‘Sebab Allah tidak memandang bulu.’ (Roma 2:11)

The Message: Being a Jew won’t give you an automatic stamp of approval. God pays no attention to what others say (or what you think) about you. He makes up his own mind. Terjemahan bebas: Sebagai orang Yahudi tak berarti dikau menjadi kesukaan Allah. Allah tak tertarik akan apa yang dikatakan orang (atau apa yang kau anggap) tentang dirimu. Dia punya prinsip sendiri.

Wow wow wow! Dikau tak bisa menambahkan cinta Tuhan dengan lebih giat ikut kegiatan rohani. Kidung pujian yang disenandungkan dengan merdu oleh vocal group. Itu mendapat standing applause, tepuk tangan yang meriah dari jemaat. Ingat! Itupun tak membuat Allah lebih terpincut. Apresiasi yang dikau terima atas pengabdian sebagai majelis 5 tahun berturut-turut. Jangan sangka itu membuat Dia jadi lebih terpesona. Banyak orang takjub. Konco-konco pada iri. Jemaat boleh terpukau akan kharismamu dalam berkhotbah. Sadarlah! Itu juga tak membuat Allah lebih terpikat.  

Apakah Saudara sempat berpikir? Bahwa dengan ikut kelompok pemuridan. Karena lebih rajin beribadah. Lantaran mengabdi sebagai guru Sekolah Minggu. Gara-gara meninggalkan pekerjaan sekuler dan mendedikasikan sisa hidup secara penuh waktu menjadi hamba TUHAN. Lantas, Dia dikau akan lebih didambakan-Nya? Ayo sadar! Ayo insaf! Ayo terjaga. Kalau itu sempat terkilas, ya sudahlah, campakkan cara pikir itu.   

Ups! Dia lebih tergoda, lebih suka, lebih tergila-gila kepada dikau yang merasa hidup putus asa, hidup tak berarti, tak layak, dan berlumuran dosa! Cinta memang misterius!

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (Lukas 15:4)

Wow wow wow! Kepada orang yang merasa seperti itu, hati-Nya akan terpaut! Dia tinggalkan segala-galanya. Dan dengan mabuk kepayang, Dia mengaduk-aduk semak belukar hingga tangan dan kaki berdarah-darah. Untuk apa? Untuk mencari domba yang satu itu! Hingga kapan? Hingga Dia menemukan jantung hati-Nya!

Sorry! Selanjutnya yang ke 99 ekor? Aaahhh! Untuk apa berdarah-darah hanya untuk 1 ekor kalau masih ada 99 ekor? Ayo waras! Ampun paduka, pembaca yang budiman. Bung, ini bukan cinta matematik! Ini cinta edan, cinta tak masuk akal! Dan hamba lebih senang menyebutnya ”Cinta Sungsang”, cinta terbalik-balik. Terbalik dari apa yang dimengerti manusia dan yang diyakini umat beragama pada umumnya. Atau Saudara ada sebutan yang lebih pas? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by jarekgrafik from Pixabay

Comments

comments