Tidaklah mudah mahami apa yang terjadi dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau Saudara mengalami seperti yang dialami Ayub. Tentu seribu satu pertanyaan muncul tentang Tuhan. Bagi kita yang hidup di abad ke 21, kisah Ayub dan keluarga mudah saja dianalisa. Lantas dari situ ditarik kesimpulan berupa butir-butir pelajaran kehidupan orang beriman. Tapi coba bayangkan perasaan Ayub! Dia dari hari ke hari kala, mata kepalanya melihat dan mengalami sendiri bencana demi malapetaka menghampiri hidupnya. Seperti tidak cukup dengan kehilangan anak-anak dalam satu hari. Nasibnya diperburuk dengan penyakit (semacam kanker kulit) pun akhirnya menyerang tubuhnya. Habislah sudah! Apa lagi tujuan hidup ini? ‘Aku telah bosan hidup,’ guman Ayub dengar bibir bergetar hampir tak terdengar (Ayub 10:1).
Sahabat! Adegan kehidupan Ayub membuat merinding kuduk. Dan pelan tapi pasti, berbagai keraguan mulai menyelinap dalam kalbu. Kalau hidup sesaleh Ayub saja mengalami kemalangan yang tak terkatakan, lalu apa lagi yang diharapkan dari ketulusan beribadah?
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tangaku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. (Mazmur 73:13, 14)
Bisa jadi, jeritan hati pemazmur itu dapat mewakili journey iman kita semua. Apa faedahnya rajin beribadah? Apa untungunya rajin baca Alkitab? Apa gunanya, apa gunanya kalau? Aaahhh, jika Allah Maha Kuasa, mengapa ini terjadi? Bukankah Dia Maha Tahu, mengapa Dia biarkan?
Maka berkatalah istrinya kepadanya:”masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9).
Inga inga inga! Keluarga nabi Ayub dikenal sebagai keluarga yang takwa tiada duanya. Baik orangtua maupun anak-anak, semuanya saleh dan tawakal serta setia memelihara hukum Tuhan tanpa cacat cela. Ooo, itu bukan hanya bulanan, tapi itu sudah gaya hidup keluarga ini sejak dari semula pulahan tahun yang lalu (Ayub 1:5). Tuhan menjadi nomor wahid dan anak-anak maklum. Apalagi istri yang setia mengingatkan sang ayah untuk senantiasa menjaga kesalehan keluarga.
So, tidaklah sembarangan dan begitu saja istri Ayub mengeluarkan kata-kata itu. Itu adalah jeritan keputusasaan! Siapa kuat? Bukan hanya menyaksikan, sang istri, tentu, juga turut serta mengalami tragedi datang silih berganti tersebut. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu dan belum ada tanda-tanda hilangnya awan kelabu. Istri tercinta ada di level ‘titik nadir.’ Di lembah paling bawah perjalanan imannya. Parahnya, sang suamipun tidak berbeda!
Aaahhh! ‘Saya merasa naskah yang digoreskan Allah tidak adil. Saya merasa kala adegan dimulai, Dia balik kanan meninggalkan aku sendiri di atas panggung kelabakan! Dan episode-episode berikutnya jadi liar tak terkendali. Aku protes!’ keluh Ayub.
Aaahhh! Titik nadir, titik semua motivasi terselebung di kalbu gelap terlihat terang benderang. Apakah hanya titik itu yang dapat mengungkap topeng-topeng kehidupan? Bahkan topeng yang paling sakral, kehidupan ibadah? Sejujurnya, apakah tujuan saya beribadah?
Ups! Selama ini saya merasa bahw ketekunan beribadah, kesalehan, takwa, maupun kesetiaan ikut Tuhan itu sinonim/ identik dengan jaminan hidup aman, nyaman, dan sukses! Bagaimana dengan Saudara? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |


