58. ‘A Masterpiece’

Viewed : 805 views

Sahabat! Bayangkan kalau tidak ada Kejadian 1:1! Maka tidak ada penciptaan, tidak ada ‘Pada mulanya…’! Tidak ada yang namanya hari Senin, bulan Maret, dan tahun kabisat. Tidak ada makhluk hidup, baik yang kelihatan maupun tidak kasat mata. Tidak ada bulan, tidak ada bintang, tidak ada bumi dengan segala keunikan flora dan faunanya. Yang ada hanya Sang Ada, Allah Tri Tunggal Yang Maha Kudus. Allah satu-satunya, yang sudah ada dengan sendirinya dan tak membutuhkan apapun di luar diri-Nya.

Jika tak ada penciptaan, maka Allah akan tersembunyi ‘selama-lamanya’. Segala atribut-Nya, seperti Maha Tahu, Maha Bijaksana, dan Maha lainnya akan tersimpan ketat rapat dalam diri-Nya. Sorry! Maksudnya? Aaahhh. Jikalau menggunakan bahasa pasar, tanpa Dia mencipta maka potensi-Nya itu barangkali ada dalam mode tidak aktif! Namun, Allah itu hidup, sebab Dia mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri (Yohanes 5:26). Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Karena Allah hidup, maka kasih itu senantiasa dalam mode aktif.  Dan itulah yang terjadi dalam komunitas Allah Yang Maha Esa sejak sebelum ada segala sesuatu!

Engkau [Bapa] telah mengasihi Aku [Yesus] sebelum dunia dijadikan. (Yohanes 17:24)

‘Pada mulanya…’, bisa jadi awal dari potensi-Nya yang dalam mode ‘tertidur’ menjadi mode aktif! Keagungan, kemahakuasa, dan kreatifitas-Nya nampak dari hasil karya-Nya.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (Mazmur 19:2)

Siapa yang tak kagum dengan alam semesta ini? Allah menyatakan diri dalam ciptaan-NYA.

Apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, (Roma 1:20).

Wow! Allah yang tak tampak dapat jelas terlihat melalui daya nalar insani! Perhatikanlah ayat 3-25 dari Kejadian 1! ‘Jadilah dan hendaklah,’ begitu sederhana dan spontan kala Sang Khalik menciptakan alam semesta. Hanya dengan kata-kat itu, maka jadilah segala sesuatu yang dapat kita rasakan seperti sekarang ini. Namun, perhataikanlah ayat ke 26.

‘Baiklah Kita menjadikan manusia…,’  seperti ada kesan suasana diskusi dan kesepakatan untuk mengambil keputusan! Berbeda dengan hanya menggunakan kata ‘Jadilah dan hendaklah.’ Apakah Sahabat juga merasakan itu? Apa yang terjadi, kok ada semacam diskusi panjang dalam keabadian sebelum memutuskan menciptakan manusia? Seperti ada yang unik dengan penciptaan manusia, tak semudah terjadinyanya jagad raya sehingga Sang Maha-pun perlu ambil kesepakatan? Begitukah?

Sahabat! Ribuan tahun kemudian walau agak samar-samar, misteri kata ‘baiklah’ itu diungkapkan dalam kitab Efesus 1:18-21,  

’oh, the utter extravagance of his work in us who trust him—endless energy, boundless strength!’ (ayat 19, versi The Message, terjemahan bebas: ‘Oh, alangkah hebatnya begitu luarbiasanya karya-Nya di dalam kita yang memercayai-Nya — energi tak terbatas, kekuatan tak ada batas!’ ).

Sepertinya dibutuhkan ‘semua’ potensi Allah dalam menciptakan manusia! Kuasa-Nya. Kekuatan-Nya. Bahkan kemulian-Nya yang tak terbatas itu. Semuanya dibutuhkan untuk menciptakan yang namanya manusia! Bahasa gaulnya, Allah habis-habisan dalam menciptakan aku dan dikau!

Wah wah wah! Panteslah disebutkan: ’we are God’s masterpiece.’ (Efesus 2:10, versi bahasa Ingrris NLT, terjemahan bebas: ‘Kitalah adalah mahakarya Sang Pencipta.’) Manusia adalah puncak hasil karya Allah yang gemilang. Agung dan monumental! Aku tertunduk dan speechless dengan fakta ini. Bagaimana dengan Sahabat?

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments