Kisahnya hanya beberapa baris. Pasal-pasal pertama di kitab Genesis. Tentang sejoli yang romantis. Kisah bak sinetron selibritis. Siapa nyana? Ribuan buku ditulis. Tak terbilang terbit tesis. Uraian tak habis-habis. Debat panjang yang tak pernah finis. Sila kritis! Sayang! Tak sedikit yang menjadi apatis. Geram dan berkata: ‘Itu tidak logis!’ Akhirnya, cenderumg ke arah ateis. Dan, Allah diam. Sang Maha Tahu bungkam. Dia tak mengancam. Pilihan ada di tangan ikhwan. Dikau yang tentukan pilihan.
Di Taman Sorga. Masa belum ada dosa. Perioda tak dikenal dusta. Kala sanubari murni. Hati suci. Ups! Ada kebebasan. Tersedia pilihan.
Sahabat! Ini bukan roman picisan. Kisah murahan. Jauhlah dari legenda khayalan. Baiknya jangan anggap enteng. Seriuslah! Tak guna geleng-geleng. Ini ‘true story’ bukan buat anak cengeng. Ayo yo yo, keluar dari kerengkeng. Bersikaplah sebagai ‘laki-laki’ (1 Korintus 16:13). Tentukan pilihan hati.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, (Kejadian 2:16,17)
Mengapa Allah beri pilihan? Relakan Adam ada kebebasan. Kesempatan melangkah ke yang lain. Berada di pihak lawan. Kemungkinan teman menusuk dari belakang. Peluang menggunting dalam lipatan. Kelonggoran terjadinya ‘musuh dalam selimut.’ Bak film ‘Sleeping with the Enemy.’ Hidup berdampingan dengan yang tak diinginkan. Dan Dia diam. Monggo! Dikau yang tentukan pilihan.
Adam ada pilihan. Terhampar luas kebebasan. Antri panjang berbagai kemungkinan. Bukankah ini keputusan Ilahi yang paling membingungkan? Terjadinya ketidakpastian. Bisa ke mana-mana tak karuan. Liar. Membahayakan. Seluruh semesta dipertaruhkan. Bukan hanya Adam. Tapi seluruh keturunan. Hingga tak ada pengecualian. Dikau di zaman now juga dilibatkan. Tidakkah dikau dapat rasakan?
Cinta liar seperti itukah yang diinginkan? Cinta yang tak dikendalikan. Cinta yang timbul dari kebebasan. Mungkinkah itu sebabnya Dia ciptakan pilihan? Cinta berdasarkan pilihan. Setelah dipertimbangkan. Direnungkan. Bukan karena paksaan. Tak ada pilihan lain. Apalagi di bawah ancaman.
Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. (Yesaya 5:1)
Ups! Allah mencari kekasih. Yes. Tepat. Allah mencari kekasih. Memang cinta tak dapat dicerna. Kalau sudah kena panah asmara. Allah-pun dapat bersenandung duka. Nyanyian Kebun Anggur adalah ungkapan hati-Nya kepada Yerusalem yang tak setia. Ungkapan cinta yang ditemui di setiap peristiwa. Cerita. Malapetaka. Tragedi keluarga. Kidung. Puisi. Perumpamaan dalam Alkitab.
“Bagaimana mungkin engkau berkata: Aku cinta kepadamu, padahal hatimu tidak tertuju kepadaku? (Hakim-Hakim 16:15)
Aaahhh, itu rayuan maut. Suara syahdu merajuk Delila. Siapapun bisa bilang cinta! Semua bisa tunduk. Sujud. Ibadah tak surut-surut. Giat melayani. Semangat mengunjungi. Tak kenal lelah di kegiatan gerejani. Masuk katagori kaum elite rohani. Semua bisa decak kagum. Angkat topi. Terlihat saleh. Terpakai di mana-mana. Idaman calon mertua.
Maaf! Allah mencari cinta. Kekasih. Dia lihat Hati! Nurani.
Aaahhh. Allah mencari hati. Bukan status rohani. Apalagi gandrung kepada kaum elite rohani. Yang bisnis sorgawi. Celaka! Aku kerap bermain di dua kaki. Cari aman sendiri. Tak tahunya? Menipu diri sendiri. Hatiku masih jauh tertuju ke Yang Ilahi. Walau aku hafal seluruh kitab suci. Saatnya bicara nurani. Dengarkan hati! Insya Allah, dikau akan mengerti! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




