138. ’Pilihan Hati’

Viewed : 1,755 views

Sulit dimengerti. Tak dapat dipahami. Dia ciptakan manusia agar mencintai Sang Ilahi. Namun membiarkan dikau dan aku tentukan pilihan sendiri. Memenuhi semua kebutuhan mereka di taman Sorgawi. Lantas? Dia pergi! Seakan-akan Dia sembunyi. Berdiam diri. Menahan hati. Tak peduli? Ataukah ‘deg-degan’ menanti pilihan hati? Membiarkan pilihan cinta di tanganmu sendiri.

Bagaimana ini?

Cinta seperti itukah yang Dia cari?

Kesetiaan baru kelihatan. Kalau ada peluang untuk serong. Kejujuran terang benderang. Jika terbuka jalan menyimpang. Ketaatan baru teruji. Tatkala ada kesempatan untuk mengkhianati. Ketundukkan terbukti. Apabila dapat berdiri dan lari. Rendah hati dapat dirasa. Ditengah-tengah kesempatan jadi terkemuka. Sahabat sejati. Didapati jika semuanya pergi. Pengharapan tetap ada. Ketika semua sirna. Sekeliling gelap gulita. Iman ‘main’. Semenjak percaya tak ada alasan. Cinta suci teruji. Manakala ada kemungkinan jatuh cinta kepada yang lain. Cinta itu pilihan. Dapatkah dikau rasakan?

Cinta tak mengikuti aturan ‘siapa yang kuat.’ Kekuatan tak dapat memaksa cinta. Dikau tercipta untuk mencintai-Nya. Namun. Akan tetapi. Siapa sangka? Dia tidak berbuat apapun agar cinta itu tumbuh bersemi. Tidak juga memanipulasi situasi. Gak mengarahkan. Apa lagi merayu. Membujuk. Menggoda. Ataupun mengancam.

Sebaliknya!

Dia sediakan segala sesuatu yang dibutuhkan. Sumber energi Matahari yang tak terkirakan. Ekosistem lingkungan. Metabolisme tubuh yang mengherankan. Siskulasi pernapasan. Sistem pencernaan. Makanan. Buah-buahan. Semuanya untuk dimakan. Udara. Air. Semua kebutuhan dasar kehidupan. Kemudian Dia tinggal pergi. Diam. Menanti. PIlihan hati.

‘Dan Berharap?’

Menanti pilihan hati. Dia biarkan cinta bersemi karena kesadaran diri. Tak ada paksaan. Jauh dari ancaman. Bukan juga karena diarahkan. Dikondisikan. Apalagi diapa-apakan. Monggo. Sila. Dikau tentukan pilihan sendiri. Sukarela. Tanpa tekanan. Sekehendak hati. Keinginan sendiri. Kemauan dari hati. Bukankah itu yang terjadi? Di taman Sorgawi.

Syukurlah! Itu kan dulu. Zaman purba sudah lama berlalu. Ups! Tidak. Itu masih berlaku. Sekarangpun masih begitu!

Ini pilihan cinta. Sikap hati. Siapa atau apa yang menjadi kekasih jiwa. Hati yang membara. Ups! Itu perioda masa lalu. Namun, sekarangpun masih berlaku.

Cinta yang ini tak ada urusan dengan masalah ritual. Tidak berkaitan dengan tata cara ibadah. Kefasihan hafal pengakuan iman. Kelancaran ucapkan ‘Doa Bapa Kami.’ Bukan pula tingkat pendidikan. Sarjana teologia. Apalagi kecakapan di atas mimbar. Suara merdu menggetar. Show pujian dan penyembahan mengglegar bak halilintar. Bukan. Tidak. Ini berkaitan dengan hati. Ini ihwal pilihan. Pilihan hati.

Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, (Yesaya 29:13)

The Message: The Master said: “These people make a big show of saying the right thing, but their hearts aren’t in it. Because they act like they’re worshiping me but don’t mean it, (terjemahan bebas: Sang Guru berkata: “Umat ini membuat pertunjukan besar untuk memuji-Ku, tetapi hati mereka entah ke mana. Mereka bertindak seolah-olah menyembah, tetapi hanya berpura-pura.)

Sahabat! Mari ambil sikap hati. Dengan beragam denominasi. Terasa ada ancaman sana sini. Tentukan pilihan hati. Ambil yang sejati. Cinta murni. Hi hi hi ngeri!, cintaku hanya di mulut. Di bibir. Tunduk aturan buatan insani. Dan, pura-pura tak mengerti. Dari dulu juga begini! Siapa yang peduli. Sudahlah, semua juga mengikuti. Moga masih ada jujur kepada nurani. Berani. Ambil pilihan hati! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments