135. ’Anthropomorphism’

Viewed : 1,459 views

Sahabat! Jangan lupa. Allah itu Sang Pencipta. Dia-lah sumber kehidupan. Lainnya makhluk ciptaan. Dia terpisah dari yang Dia jadikan. Allah sudah cukup dengan diri-Nya. Kemuliaan. Kehormatan. Kemegahan. Kejayaan-Nya. Itu semua tak bergantung kepada apapun dan siapapun. Entah dikau tawakal. Lainnya penyebar hoaxs kebencian. Dia tetap Allah. Tak terbatas. Berdaulat. Jaya. Berkuasa. Kekal abadi selama-lamanya. Inilah kebenaran hakiki.

Tidak demikian dengan bani Adam. Manusia dikurung dalam pergantian siang malam. Dikawal dalam jeruji kefanaan. Terbatas. Setiap riwayat hidup insan ada awal dan akhirnya. Emosinya dipengaruhi rangsangan dari luar dirinya.

Jika untung. Hati senang. Langkah enteng. Jalan sambil bersenandung. Tetanggapun menjadi bak Saudara kandung. Ucapan syukur bergema tak terhitung.

Kalau buntung? Semangat hidup puntung. Ceria hilang seketika. Semua ikhtiar sia-sia. Ibadahpun tak selera. Wajar saja kalau merasa itu disebabkan karena ibadah kurang setia. Dan normal saja kalau bertanya. “Apakah aku berdosa ?” “Mengapa malang menimpa?” Hari-hari jadi gelap gulita. Hidup Menderita. Entah akan berapa lama.

Kelangsungan hidupnya, sepenuhnya bergantung kepada rahmat-Nya. Herannya, manusia ada kebebasan menentukan sendiri jalan hidupnya. Insan yang bebas dalam keterbatasan. Begitukah?

’engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. (Mazmur 50:21)

Sang Khalik bukan mahkluk ciptaan. Umat cenderung anggap Allah sederajat dengan dirinya. Bahkan hingga taraf..?! Dia tak lebih sekedar, maaf, jongos. Asisten pribadi. Body guard. Serta sekedar pintu darurat lari dari keruwetan hidup. Ini penistaan. Itu penghinaan. Jauhlah dari kebenaran.

Bagaimana mungkin patung sederajat dengan sang pemahat? Guci dengan sang penjunan. Lukisan ‘Monalisa’ dengan sang maestro, Leornardo da Vinci. Dari sudut manapun dilihat, itu tak mungkin sederajat.

Namun. Akan tetapi. Tak tahulah. Siapa nyana? Alkitab tanpa ragu mengungkapkan kenyataan. Fakta mencengangkan. Dia punya hati. Yes! Allah punya hati. Bak dikau dan aku. Dia ada emosi. Emosi yang dalam. Seperti dikau dan aku. Allah dapat merasa senang. Gembira. Sedih. Marah. Bahkan frustasi! Anthropomorphism! Ungkapan perasaan. Curahan isi hati-Nya dalam bahasa manusiawi!

Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap. (Yesaya 42:14)

“I’ve been quiet long enough. I’ve held back, biting my tongue. But now I’m letting loose, letting go, like a woman who’s having a baby, (The Message: Aku sudah cukup lama diam. Aku menahan diri, menggigit lidahKu. Tapi sekarang Aku mau bersuara, meronta bak wanita yang mau melahirkan.)

Maaf! Allah menggigit lidah? Untuk tidak segera ambil langkah. Yang bener? Serius? Yes, berjuang menahan diri. Jadinya seolah-olah menyerah. Kalah. Pasrah. Menguasai diri dengan susah payah. Dan berkata: ‘Oklah. Kalau begitu, terserahlah!’ Sampai begitunya-kah?

Allah-pun terkesima. Tak menyangka. Di luar dugaan-Nya. Sungguh sulit dimengerti. Tak dapat dipahami. Masyaallah, dalam inovasi ibadah, Sang Maha Tahu-pun terlewati?

Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku. (Yeremia 7:31)

Menyaksikan kehidupan bani Israel yang menyimpang, Dia terpaku! Dia terheran-heran kaku. Maaf. Allah terheran-heran? Ya. Allah heran lugu. Tak menyangka mereka berbuat sebejat itu. Hal-hal yang tak diperintahkan sejak dulu. Bahkan itu tak pernah tersirat dalam hati-Nya dari dahulu!

Ups! Ritual itu bukan perintah-Nya. Itu tak pernah timbul dalam hati-Nya. Wah, dari mana ritual itu datangnya? Siapa penggagasnya? Gagasan luar biasa. Ritual super kreatif. Sang Kuasapun tak terpikir sebelumnya. Manusia bisa ada ide sejauh itu?

Tapi. Itu kan dulu. Tidak! Kinipun bisa begitu. Hi hi hi, ngeri!

Ingat Tofet. Ingat ritual ibadah yang tak diperintahkan. Ingat Lembah Ben-Hinom. Ingat pengorbanan fantastik. Korban bukan sekedar perpuluhan. Apalagi, persembahan rutin bulanan. Bukan! Ini pengabdian total hingga rela putra putri dikorbankan.

Celaka! Bahaya! Wah, bagaimana ini?

Ibadah yang tak diperintahkan. Bahkan gagasan korban yang tak pernah timbul dalam hati-Nya. Ini bukan masalah bentuk ibadah. Tata ritual brillian. Ibadah yang khusyuk. Pujian dan penyembahan gegap gempita. Bukan. Bukan. Bukan.

Ini masalah hati. Hati-Nya. Mungkinkah bentuk, ritual, dan tata cara ibadah umat zaman now seperti yang ada di hati-Nya? Dan umat tak menyadarinya? Serta terus semangat melakukannya? Hi hi hi ngeri!

Tapi, siapa yang peduli? Intropeksi diri? Ambil langkah berani. Mencari ibadah sejati.

Kalau dibiarkan, manusia dapat bertindak pelan-pelan melewati batas. Bahkan itu dalam ibadah. Dan Dia diam! Dan berkata: ‘Oklah. Kalau begitu, terserahlah!’

Hi hi hi ngeri! Semoga ritualku dan penyembahanmu yang ada di hati-Nya. Tapi, siapa yang peduli? Siapa yang berani? Mencari ibadah sejati. Kalau aku, kurang berani. Sudah nikmat yang sekarang ini. Bagaimana dengan dikau, kawan? (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments