Sahabat! Allah rela membatasi diri demi cinta. Ini gagasan di luar logika. Tindakan dengan resiko tak terkira. Tentu ini tak disukai manusia. Konsep tabu bagi kebanyakan umat percaya. Musuh setiap agama.
Sang Khalik mengurung semua atribut (gelar) kemahaan-Nya (Maha Tahu, Maha Kuasa, dll) dalam cinta. Allah Maha Kuasa jadi papa tak berdaya. Yang jujur menderita. Yang tulus tersiksa. Yang takwa sial senantiasa. Membiarkan kefasikan merajalela. Semua bebas bertindak sekehendaknya. Serasa Sang Ada jadi tiada. Inilah dunia nyata! Welcome! (Mazmur 73:1-14)
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (Efesus 1:9)
letting us in on the plans he took such delight in making. He set it all out before us in Christ, (The Message: Dia begitu senang merencanakannya dengan memasukan Saudara dan saya dalam rancangan-Nya. Dia tetapkan itu semuanya dari semula di dalam Kristus,)
Dalam kerelaan-Nya. Tak ada yang menggoda. Apalagi yang memaksa. Itu seturut kehendak-Nya. Jauh sebelum segala sesuatu tercipta. Allah ada rencana. Rancangan yang menyertakan Anda. Dia tersenyum-senyum senang tiada tara selagi menyertakan nama Anda dalam desain semesta.
Lantas..?
Begini! Bagaikan Maestro Leornado da Vinci hendak melukis karya masterpiecenya ‘Monalisa’. Wajar saja dia mengkhayalkannya terlebih dulu. Itu tejadi dalam dimensi imajinasinya. Apa. Siapa. Dan kemudian, bagaimana itu semuanya dituangkan ke dalam bentuk lukisan. Untuk itu, dia harus memutuskan memilih jenis media. Tempat angan-angannya dapat tercipta. Kuas. Jenis cat. Warna. Dan kanvas serta ukuran detailnya sekalian. Setiap tahap ada pilihan. Dalam setiap pilihan ada yang disisihkan. Imajinasi tak terbatas terkurung di atas kanvas. Memang, dalam setiap hasil karya ada pembatasan.
Ups..! Begitu jugakah dengan Sang Maha Pencipta? Aaahhh. Anganku terbang melayang-layang.
Bisa saja. Itu sederhana. Apa susahnya bagi Sang Maha Kuasa. Dia rancangkan dunia yang serba sempurna. Lengkap. Bulat. Teratur. Rapi. Seumpama robot yang patuh mutlak. Tunduk kepada kehendak-Nya. Tak ada pilihan. Tak ada kemungkinan untuk menyimpang. Tak ada derita. Tak ada duka. Makhluk otomatis mencintaiNya.
Sayang. Dalam tahap imajinasiNya, itu bukan pilihan-Nya. Kemungkinan dunia seperti ini disisihkan.
For we are God’s masterpiece. (Efesus 2:10, versi NLT: Karena kita adalah mahakarya Allah.)
Adam Hawa, sang masterpiece, sahabat dan saya. Dirancang segambar dan serupa dengan Sang khalik. Bisa jadi, Allahpun rindu melihat diri-Nya dalam diri mereka. Mereka bagai cermin yang memantulkan Sang Pencipta. Mereka itu Sahabat dan saya!
Dia pilih instrumen waktu dan ruang sebagai kanvas masterpiece-Nya dituangkan. Media dengan pembatas urutan waktu: ‘kemarin, sekarang, dan yang akan datang’. Kejadian yang mula-mula, disebut yang pertama. Lalu menyusul yang kedua. Ketiga. Dan seterusnya.
Hari ini akan menjadi kemarin. Esok, yang akan datang akan menjadi hari ini. Yang lalu tak akan kembali lagi. Yang akan datang itu belum terjadi. Kita hanya hidup di hari ini. Begitulah urutan hidup. Yang membatasi gerak setiap makhluk.
Dalam setiap ciptaan ada pembatasan. Allah menuangkan mahakaryaNya dalam kanvas ruang dan waktu. Dia membatasi diriNya di atas kanvas, ’zimsum’ (God’s self-limitation). Allah rela membatasi diri. Gagasan ini buat hati gelisah. Sulit dimengerti. Akal jadi serba susah. Kaum elite rohani tak berdaya dan menyerah. Dan pilihan cinta, ada di tangan Anda sendiri! Semoga kita tak gegabah. Hidup di urutan waktu yang tak dapat diubah. Sila pilih! Moga tepat arah. Salam (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




