131. ’Cinta Itu Pilihan’

Viewed : 1,637 views

Ooo cinta. Cinta memang tak mengikuti logika. Sulit untuk dianalisa. Dalam tak terduga. Mengapa Dia membiarkan Adam jalan sendiri? Mencari cinta pengisi lubang di hati? Dia rela menunggu Adam sadar sendiri. Apa sulitnya mengendalikan semuanya agar tak harus menanti?

Cinta bagaimanakah yang Dia cari? Merelakan Adam pegang kendali atas niat hati. Mengapa Dia rela menanggung resiko sebegitu tinggi? Membatasi diri demi cinta murni. Apakah Sang Ilahi begitu ‘tergila-gila’ mencari cinta dari setiap insani?

Maaf. Itu kan dulu. Perioda lampau. Ceritera purba yang lama sudah berlalu. Ketika Adam sendiri. Sebelum tragedi buah apel terjadi. Tidak! Ini so pasti. Kinipun itu masih berlaku. Dulu kini, akan selalu begitu. Ini prinsip abadi. Cinta yang akan selalu Dia cari. Dulu Dia begitu. Kinipun Dia seperti itu.

Sahabat! Cakapkah merasakan ‘usaha’-Nya mencari cinta? Apakah Dia begitu terpesona dengan cinta-ku? Begitu rindukah Dia merenggut hati-ku? Terpesonakah Dia dengan sudut kerling mata-ku? Wow wow wow, Dia kesengsem dengan cinta-ku!

Cinta ‘mendorong’ Dia membatasi diri! Sulit membayangkan ini fakta abadi. Jujur, aku tak mengerti.

Bagaimana ini?

Sang Maha seolah-olah menjadi si ‘underdog.’ Lemah. Tak berdaya. Menanti berapa lama? Harap-harap cemas tak terkira. Maaf, Sang Ilahi rela menjadi Sang Pecundang?

Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, membiarkan kehormatan-Nya jatuh ke tangan lawan; (Mazmur 78:61)

The Message: ‘He let his pride and joy go to the dogs, turned his back on the pride of his life.’ Terjemahan bebas: Dia biarkan kebanggaan dan sukacita-Nya dilecehkan, melepaskan jati diri-Nya sebagai Sang Maha.)

Bagaimana ini?

Dia membiarkan diri-Nya dihina. Di- bullying. Diinjak-injak. Dipukul. Diludahi. Sang Maha rela menjadi si ’kambing hitam’? Di urutan paling bawah. Tak masuk hitungan. Itu semua demi cinta. Serius???

Jangkauan nalar mentok. Pikiran tak sampai. Maaf! Tak tahu minta maaf ke mana. Mungkin juga itu tidak perlu. Siapkah Sahabat membantu? Walau hanya sebatas memberi bumbu. Tapi itu perlu.

Bisa jadi ini terlalu vulgar. Jangan disampaikan dari atas mimbar. Jangan-jangan jemaat bisa gusar.

Jika cinta dari kesadaran diri yang Dia cari. Cinta murni jauh dari manipulasi. Cinta bukan karena ‘mau tak mau.’ Tidak juga karena darurat. Tak ada pilihan lain. Jauh dari aturan: ’Mesti!’ Apakah cinta yang seperti itu artinya ada pilihan? Dan pilihan itu, bisa jadi, menolak cintai-Nya?

Aaahhh???

Apakah Allah tak ragu? Apakah Dia tak tahu? Berbagai kemungkinan yang akan berlaku? Allah Sang Maha Tahu. Mengapa Dia membisu?

Tak tahu ada berapa ribu laksa kemungkinan. Di luar nalar. Tak terbilang jumlah pilihan terbentang. Dalam kekekalan. Dia putuskan menciptakan Adam dan Hawa. Cerminan. Gambaran. Pantulan dari Diri-Nya sendiri, Sang Pencipta. Dalam setiap tahapan tersisih tak terbilang alternatif lainnya. Ada tak terhitung jumlah tahapan. Dan. Dan Dan. Dia putuskan satu alternatif. Pilihan cinta itu ada di tangan Adam!

Itu ‘kan zaman Adam dahulu. Masa old yang lama telah berlalu. Tidak. Kinipun sedang berlaku. Zaman now. Masyaallah, pilihan ada di tangan-ku.

Dan setelah keputusan itu. Dia…

Dia membisu. Dia sabar menunggu. Dia rela dilecehkan. Dihina. Disepelekan. Dinomor duakan. Dianggap tak penting. Hanya perlu kalau keadaan genting. Dianggap pecundang. Cinta-Nya bertepuk sebelah tangan. Walau demikian, Dia diam. Menghormati pilihan Adam. Hingga ada Adam zaman now sadar dan mengakui: ’Aku Sendiri. Aku tak temui!’

Cinta seperti itu akan menggemparkan alam semesta. Bahkan sorgapun turut berdendang ria. Moga Sahabat dapat rasakan api asmara-Nya! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments