Bodoh atau Bijak?

Viewed : 569 views

Amsal 12:16
Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.

Bodoh dan bijak tidak mesti dan tidak selalu berkaitan dengan kecerdasan otak dan gelar akademik, tetapi berhubungan dengan sikap.

Orang yang nilai akademiknya bagus dapat saja tetap bodoh dan kehadirannya membuat orang resah dan gelisah.

Orang yang capaiannya serba cukup, dapat kehadirannya membawa ketenangan, kedamaian dan meneduhkan.

Orang yang gampang sakit hati dan tanpa pikir panjang langsung mengekspesikan kekesalannya dengan kasar atau berlebihan dikatagorikan sebagai orang bodoh. Mudah disulut. Gampang terbakar dan cepat panas hati serta berlama-lama memendamnya. Mudah panik dalam situasi yang dianggapnya tidak untung. Emosional.

Orang bijak digambarkan sebagai orang yang sabar. Pemaaf. Orang yang bersikap tenang dan mampu menahan emosinya walau diperlakukan tidak baik… itulah ciri bijak.

Sulit memang menahan diri untuk tidak marah ketika hak kita diabaikan, tidak dianggap, direndahkan, disepelekan, dikata-katai, dibohongi, tidak dibela padahal kita benar, dan sebagainya. Tapi inilah sering sebagai tes bijak dengan banyak ragam dan bentuknya.

Masihkah kita gampang meledak dalam kebodohan?
Ataukah kita sudah naik kelas ke tingkat-tingkat kumpulan orang bijak?
Maukah kita naik ke tingkat lebih tinggi menjadi bijak?
Ke sanakah arah sikap kita?
Semoga!

Selamat bekerja
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using GPT-4o on Bing Image Creator

Comments

comments