Gadis Bodoh Vs Gadis Bijaksana

Viewed : 623 views

Matius 25:8-9
Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Ayat-ayat di atas adalah bagian dari perumpamaan lima gadis bijak yang siap dengan minyak, dan lima gadis bodoh yang tidak siap dengan minyak dalam pelitanya menanti kedatangan sang pengantin.

Karena tidak siap dengan minyak yang seharusnya ada, gadis bodoh meminta minyak kepada gadis yang bijaksana yang siap dengan minyaknya. Tapi gadis bijak itu tidak memberikannya.

Sepertinya gadis bijak itu tidak mengasihi. Pelit tidak mau berbagi minyak. Seakan tidak peduli. Hal ini mengajarkan satu prinsip dasar yang sangat penting bahwa ada tanggungjawab kita atas diri kita. Kita secara pribadi akan berhadapan dengan Kristus pada hari kedatangan-Nya. Tidak dapat diwakili. Tidak ada juru bicara kita. Muka dengan muka kita harus berhadapan dengan Yesus Kristus.

Perumpamaan Tuhan Yesus tersebut bukan membuat kita takut. Sebab bagaimanapun juga Yesus sangat mengasihi kita dengan sempurna. Dia sudah mati buat kita.

Pesan bagi kita adalah agar kita senantiasa siap secara pribadi menantikan kedatangan-Nya. Apa yang Dia minta dan apa yang Dia suruh, lakukanlah dengan baik dan setia. Jangan menunda-nunda, sebab waktu akan berlalu dengan cepat dan ngebut.

Sifat alami kita memang akan selalu berkata, “Janganlah kiranya hari ini saya dipanggil Tuhan”
Kita ingin umur sepanjang-panjangnya. Lihat saja ucapan ulang tahun sering dikatakan, “Semoga panjang umur!”
Kita ingin selama mungkin hidup di dunia ini… sepanjang mungkin kiranya usia kita. Alasannya banyak.

Kita banyak berupaya dari segi apapun untuk sekedar bisa selama mungkin bertahan hidup di dunia ini. Tetapi tentang dunia yang akan datang kurang dipikirkan dan kurang disiapkan.

Orientasi kita kebanyakan untuk hidup di dunia. Pada hal hidup di sini sementara dan singkat… Kita hanyalah berkemah saja di sini. Tuhan bisa membongkar kemah kita kapan saja Dia mau. Kita tidak bisa berkata, “Tunggu Tuhan” kalau Tuhan sudah berkata “Ayo…!” FINISH!

Kita sering lupa dan tidak berimbang berpikir dan berbuat membekali diri untuk menyeberang KE SANA ke NEGERI INDAH. Inilah kebodohan kita.

Kita merasa dunia ini seolah cukup bagi kita. Tentu adalah hak kita untuk memilih. Sering Tuhan kita abaikan dalam mencapai apa yang kita mau. Kita sering tidak mengundang dan tidak melibatkan kehadiran Tuhan dalam keputusan-keputusan dan pilihan kita. Seolah kita yang berhak atas hidup kita… bukan Dia.

Marilah memeriksa hidup kita. Mungkin masih ada kebodohan-kebodohan yang kita lakukan ibarat lima gadis bodoh yang tidak siap dengan minyaknya.

Jadilah bijak ibarat lima gadis bijaksana itu yang siap dengan minyaknya. Bersiaplah senantiasa dengan minyak-minyak kehidupan untuk menyambut Tuhan Yesus Kristus.
Puji Tuhan!

Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan memberkati dan menolong kita untuk selalu siap dengan bekal minyak pelita rohani dalam masa penantian kita akan Dia. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Thought Catalog on Unsplash

Comments

comments