Bagaikan Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk

Viewed : 9 views

Roma 9:21
Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Allah terus menempa kita untuk mencapai tujuan dan maksud-Nya melalui hidup kita. Bagaikan segumpal tanah liat di tangan tukang periuk, begitulah kita dibentuk menjadi sesuatu yang berguna.

Apakah kita bersedia dan siap dibentuk?

Proses pembentukan itu sering mengharuskan kita mengalami berbagai situasi yang tidak nyaman dan tidak disukai… tapi harus ditempuh. Semakin rumit prosesnya, bentuk akhirnya akan semakin baik. Bila singkat saja, maka hasilnya biasa saja.

Sampai dimana kita bersedia dibentuk Tuhan?
Masihkah proses pembentukan tangan Tuhan atas kita masih berlangsung atau sudah berhenti?
Apakah kita sendiri merasa jenuh dan berkata cukup dengan bentukan Tuhan?

Kiranya kita siap dan tetap setia dalam pembentukan Tuhan. Biarlah pembentukan hidup kita maksimal dan Tuhan puas dengan diri kita.

Teringat akan lirik lagu di bawah ini sebagai ungkapan kerinduan kita akan bentukan Allah:

Ku tanah liat Kau Penjunan
Bentuklah aku sesuka-Mu
Aku menunggu di kaki-Mu
๐ŸŽผ๐ŸŽน๐ŸŽท๐ŸŽบ๐ŸชŠ๐Ÿช—๐ŸŽธ๐ŸŽป

Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahรบn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Comments

comments