“Suara hati tak dapat ditawar-tawar, ditahan dada terasa terbakar. Menjadi public enemy adalah harga yang pantas dibayar untuk panggilan nurani yang dipandang mainstream tidak wajar. Di luar pagar, Sang KHALIK menantinya dengan penuh sabar!”
The Survivors. Merekalah jiwa-jiwa yang lolos dari mahaprahara air bah. Para penyintas trengginas yang berkelit dari seribu satu serangan wabah. Tangkas mengelak jerat meski raga bersimbah darah. Tetap lugas mendekap prinsip, walau hidup justru kian dibuatnya susah.
Barisan survivors baru sah disemat jika peluang selamat teramat tipis. Berkelit dari cengkeraman petaka yang bengis. Maka, para penyintas ini layak dijuluki pahlawan yang magis.
Konon, jika kaum di the second temple period’ ditanya: ”Mengapa dunia ini kian amburadul?” Tanpa ragu mereka akan menunjuk kepada pembangkangan anak-anak langit sebagai biangnya. Berbeda dengan respon daku di era digital yang dengan cepat akan menuding tragedi di Eden-lah sebagai pangkal segala prahara.
Narasi the second rebellion dalam Kejadian 6 menguak kebejatan moral yang melampaui batas. Percampuran benih dari dua alam yang berseberangan melahirkan generasi yang porak-poranda. Kebobrokan itu sedemikian busuk, menusuk hingga ke ‘ubun-ubun’ Sang KHALIK. Hingga dalam kepedihan-NYA, DIA menyesal telah menitipkan napas pada rupa manusia (Kejadian 6:6).
“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,…” (Kejadian 6:5).
Bayangkan sebuah peradaban yang seluruh hasratnya hanyalah keji. Masyarakat yang buta, tak lagi mampu membedakan tangan kanan dari tangan kiri (Yunus 4:11). Kebenaran pun sirna. Keadilan hanyalah milik penguasa, sementara jelata hanya bisa pasrah dalam duka.
Di era itu, kebenaran dianggap sebagai kesalahan. Kebusukan lazim diterima sebagai etika normal, hanya karena semua orang telah menganggapnya biasa. Segalanya telah menyimpang jauh dari garis yang DIA kehendaki. Tak ditemukan lagi jejak kebaikan. Setiap jiwa hanya memuja diri sendiri, terkurung dalam ego keangkuhan hati.
Jika engkau hidup menyimpang dari arus utama, mainstream, seketika engkau dianggap tidak waras. Menjadi public enemy! Hidup benar di zaman itu dianggap sebuah kejanggalan, sebuah ancaman yang menjadikannya musuh bersama. Prinsipmu dianggap sebagai perlawanan yang menyusahkan orang banyak. Jika Adinda berbeda haluan dengan pandangan umum, bersiaplah dicap menyimpang, bahkan dituduh sesat.
”Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (Kejadian 6:9)
Amatlah berat memilih jalan benar, maka janganlah berharap namamu akan tenar. Sebaliknya, Adinda bersiaplah dicap pembuat onar dan menerima tuduhan tanpa dasar. Di era saat nilai kebenaran didikte oleh ‘dewan pakar’, bersiaplah engkau disingkirkan ke luar pagar. Namun bagi barisan survivors, mereka tetap berdiri tegar!
Nuh didapati hidup benar dan tak bercacat di zamannya, dan karena itulah ia memperoleh kasih karunia-NYA (Kejadian 6:8). Penulis kitab Kejadian seolah tak ambil pusing: apakah Nuh lebih dulu disapa kasih karunia baru mampu hidup benar, ataukah kesalehannya yang memikat hati Sang Pencipta? Namun faktanya tetap benderang: hanya Nuh yang hidupnya bergaung selaras di hadirat-NYA.
Maka, Nuh pun dipandang sebagai public enemy nomor satu. Hidupnya tersisih, dianggap ganjil, bahkan dituding kehilangan akal sehat. Dalam jejaring sosial setiap hari, orang-orang memilih bungkam. Mereka memutus relasi, enggan menyentuh, bahkan tak sudi sekadar menyapa Nuh di persimpangan jalan.
Namun, siapa sangka? Nuh yang dicap sesat oleh arus utama, justru melangkah dalam keakraban yang karib dengan YHWH. Di saat dunia membuangnya, Sang PENCIPTA justru merengkuhnya sebagai sahabat dalam rahasia kedaulatan-NYA.
Aaahhh… Puan dan Tuan berhati -hatilah terhadap mereka yang memiliki nurani out of the box! Jangan lancang menuduh sesat! Siapa tahu, justru merekalah yang tengah menapak di jalan yang tepat. Seperti seloroh seorang sahabat: “Public enemy ini bak pengelana yang tersesat di jalan yang akurat!” (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
