Anak-Anak Dalam Diri Kita

Viewed : 353 views

Perasaan campur aduk kurasakan setelah nonton film “Jumbo”. Banyak apresiasi untuk para animator film ini. Kalian semua keren. Tidak luput juga untuk semua pihak yang berperan dalam pembuatan film ini. Pekerjaan selama 5 tahun menampilkan sisi berbeda untuk film animasi Indonesia.

Jargon dari film ini yang sangat menarik perhatianku. “Untuk anak-anak kita, dan anak-anak dalam diri kita.” Lebih mengerucut lagi perenungan lebih dalam “anak-anak dalam diri kita.”

Flash back lagi tentang masa anak-anak. Ketika aku corat coret buku abang dan kakak saat masih umur 5 tahun dan kakak teriak “mamak, adek coret bukuku.” 😂. Bermain sampai lupa waktu, pernah sekali dikejar pake galah sama mamak karena sampai jam 2 belum pulang ke rumah setelah sekolah 😂. Dapat hadiah buku pertama sekali dari mamak saat kelas 3 atau 4 SD dan akhirnya cikal bakal aku suka baca buku 😀. Tidak mau berbicara dengan teman, karena berselisih dan akhirnya bicara lagi setelah baikan 😂. Dan masih banyak hal konyol lainnya.

“Anak-anak dalam diri.” kalau ditengok-tengok ada kaitannya dengan “inner child.” Nah, apa pula ini ya?😂. Ini bahasa sekarang dibilang ya. Bagian dari diri kita yang menyimpan kenangan dan pengalaman di masa kecil. Gak semua bahagia, kadang ada hal yang sedih dan menyakitkan.

Anak-anak yang penuh spontanitas, penuh imajinasi, gelak tawa, kepolosan yang hakiki 😀, rasa penasaran dan ingin tahu yang besar. Pertanyaannya sekarang adalah “ masih adakah suasana anak-anak ini di dalam diriku?” #agak serius dulu sikit ya 😊🙏.

Dunia orang dewasa ini sangat kompleks. Seringkali buat jadi hidup sangat kaku dan terlalu serius. Gak bisa dihindarkan dari rasa kekhawatiran, keraguan. Bisa dibilang dunia orang dewasa ini sangat rumit 😀.

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
— Matius 18:3 (TB)

Apa maksud Tuhan Yesus dalam ayat ini ya?

Kalau kita cermati lagi, anak-anak pada umumnya mudah percaya. Tanpa perlu penjelasan njelimet dan kelogisan. Bisa dibilang iman yang sederhana. Percaya penuh kepada Yesus, dan katakan Dia mulia, baik dan setia. Anak kecil juga belum mengenal topeng untuk menutupi diri, apa adanya ditampilkan, dan anak-anak sangat ketergantungan terhadap orang dewasa. Begitu juga yang harus dilakukan, setiap hal dan peristiwa yang kita lewati kita sadar harus bergantung penuh kepada Yesus.

Kalau dipikir lagi, Tuhan Yesus tidak meminta kita untuk jadi sempurna. Dari ayat di atas, kita diminta seperti anak kecil. Sangat bergantung kepada Tuhan, percaya dengan setulus hati.

Berhubung karena kami sekarang full time jadi pebisnis, kita kaitkanlah sedikit ke bisnis ya 😀.

Kita sepakat ya anak-anak rasa ingin tahu dan mencoba hal baru itu sangat besar dan dipadukan imajinasi. Nah, dari sinilah bisa timbul kreativitas dan inovasi. Berani mencoba hal baru, mengerjakan ide yang tidak biasa.

Anak kecil erat juga dengan suasana kebahagiaan. Bisnis kita juga bisa memunculkan rasa bahagia. Bisnis terkadang tidak hanya soal “cuan”, tapi bagaimana membuat rasa bahagia. Ekspresi kebahagiaan dari pelanggan saat terima produk itu sangat membuat senang dan damai.

Ada satu hal dialami anak-anak. Saat jatuh akan cepat bangkit kembali. Jatuh atau kegagalan dalam berbisnis ini adalah hal biasa. Sifat anak kecil seperti langsung bangkit lagi ini sangat bagus. Gagal dan melakukan kesalahan gak apa-apa, asal mau belajar dan mencoba lagi memperbaiki kesalahan. Plan A gagal, masih ada plan B-Z 😀.

Berbisnis tidak selalu berbicara untung dan rugi. Ada juga part yang harus diingat, produk yang dihasilkan itu berasal dari hati yang tulus dengan penuh pengharapan menciptakan kebahagiaan. Semuanya karena Kasih Karunia Tuhan Yesus 🙏.

Tuhan memberkati.
Denpasar, 250425

Ian Bangun, Couplepreneur dengan istri di bidang Bakery dengan brand Roti Memori Bali. Dari jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Unpad dan sekarang jadi tukang roti. Di sela kesibukan baking dan mengurus anak masih sangat senang untuk menulis. Fokus menulis untuk menceritakan kebaikan Tuhan dari setiap proses kehidupan yang dialami.

Comments

comments