Percakapan Injil Sederhana

Viewed : 404 views

“Pak, saya pesan baso, putihan ya (maksudnya tanpa saos dan kecap)”

“Oh baik Pak, pakai sayur dan mie Pak?” dia bertanya balik.

“Ya, lengkap. Oh ya, Bapak dari mana?” kata saya.

“Dari Solo Pak, Ngemplak, dekat Bandara Adisumarmo.”

“Oh ya, saya dari Pajang – Laweyan, dekat kita, tetanggaan,” sambil saya menerima pesanan mangkok basonya.

***
Itulah awal percakapan saya dengan Pak Kamto malam itu, seorang pedagang Baso di depan sebuah gereja.

Rupanya percakapan sederhana dan atmosfir yang mendukung membuat dia nyaman untuk menceritakan banyak kisah hidupnya.

Akhirnya percakapan merembet kemana-mana, sambil menunggu pelanggan yang akan pesan dia bercerita banyak hal.

Dia bercerita anaknya kuliah di sebuah perguruan tinggi teknik terkenal di Bandung, dan betapa bangganya kalau anaknya bisa berprestasi dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah, dan saat ini menjelang kelulusannya.

“Wow, bersyukur sekali Bapak mempunyai anak yang demikian”, saya menimpalinya ketika dia menceritakan anaknya dengan segala prestasinya.

Kemudian teleponnya berdering, ternyata istrinya yang menelpon.
Akhirnya dia bercerita, kalau dia sebelumnya punya usaha yang sudah sangat berkembang dengan tiga puluhan karyawan yang dihidupi dari usaha ini. Kemudian Covid 19 melanda, sehingga usahanya gulung tikar. Bangkrut dan mulai dari minus.

Suatu saat istrinya berkata kepada dia, “Pak, jangan diam saja, lakukan pekerjaan apa saja, asal halal. Anak-anak tidak usah dipikirkan, aman dengan penghasilan saya.”

Bersamaan anaknya kuliah di Bandung, akhirnya dia merantau ke Bandung sambil berjualan baso. Meskipun pendidikannya cukup tinggi, ternyata dia tidak gengsi untuk berjualan baso.

“Saya dari kampung Pak, dan orang tua saya juga orang sederhana”, sambungnya

“Wah, bapak bersyukur sekali mempunyai istri yang demikian. Itu sebuah anugrah yang luar biasa”, saya membesarkan hatinya. Dan memang benar, bahwa itu sebuah kasih karunia yang luar biasa yang dia terima.

Harga dirinya sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga dan sebagai orang tua dari anak-anaknya pulih. Penghasilan sebagai tukang baso tidak seberapa, tetapi dukungan dari orang yang mengasihinya itu membangkitkan semangat hidupnya kembali.

Mungkin tahu kalau saya orang percaya, maka dia sampaikan kalau dia dan istrinya menikah beda agama. Saya masih di kepercayaan saya yang lama, dan anak-anak ikut kepercayaan istrinya. Sebagai orang Jawa (jaman dahulu), sudah biasa dalam satu rumah ada berbagai kepercayaan, dan itu tidak menjadi persoalan.

Namun pembicaraan itu membuat saya menantang dia menggali siapa Yesus Kristus, Isa Almasih, yang inklusif bagi semua.

“Ibu dan bapak saya adalah orang pertama di keluarga besar yang percaya Kristus”, sambung saya. “Dan kemudian kami semua akhirnya percaya kepada Yesus Kristus.”

Coba bapak pelajari di kita suci Bapak, pertanyaan-pertanyaan ini :

“Siapa nabi yang paling banyak di sebut?”

“Siapa nabi yang paling banyak membuat mujizat?”

“Siapa nabi yang akan menjadi hakim di akhir zaman dan akan datang pada hari penghakiman?”

“Dan itu jawabannya hanya pada Yesus, bukan nama lain, jadi silakan Bapak cari hal ini.” Kata saya mencoba membuat jembatan dialog pribadi ini.

Oh ya, doa yang sering diucapkan “Al Fatihah”, itu juga adalah doa kuno orang Kristen di Arab, yang masih diucapkan oleh orang Kristen Ortodoks Syiria sampai saat ini. Saya pun sebagai orang Kristen juga diijinkan untuk berdoa dengan doa “Al Fatihah” tersebut.

“Karena orang Kristen adalah seorang yang mengikuti jalan yang lurus”, sambung saya sambil tersenyum.

Beberapa kali percakapan diinterupsi para pelanggan yang pesan bakso.
Ada sebuah cerita menarik di dalam perjalanan hidup dia, yaitu ketika dia mengampuni dan memaafkan orang yang menganiaya dia, peristiwa itu itu terjadi 23 tahun lalu.

“Waktu itu saya dianiaya, dan dalam keadaan tidak sadar saya dibawa ke RS, dan kemudian di rawat di sana, dan saat ini masih kelihatan bekas di kepala saya karena peristiwa itu. Orang tua saya marah, dan sebagai seorang prajurit pasukan khusus, orang tua saya segera memanggil teman-temannya untuk membalas dendam terhadap perlakuan yang saya alami. Waktu saya sadar, mereka meminta ijin kepada saya untuk membalas dendam, tetapi waktu itu saya bilang, sudah jangan dilakukan (tindakan balas dendam), karena hal itu tidak memecahkan masalah. Saya mengampuni orang yang menganiaya saya.”

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena dia akan disebut anak-anak Allah, demikian kata Tuhan Yesus”, saya sampaikan ke Pak Kamto bahwa keputusan Bapak itu luar biasa.

“Bapak luar biasa bisa membawa damai ketika peristiwa itu terjadi, itu pasti menjadi berkat tersendiri”, saya menimpali cerita dia.

“Ada hal yang paling sulit dilakukan orang, apa itu Pak”, saya blaik bertanya.

“Mengampuni”, jawab Pak Kamto.

“Ya benar sekali, dan itu luar biasa. Itu seperti yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam doa Bapa Kami” sambung saya dengan semangat.

Tak berapa lama, anak saya datang, dan saya harus mengantar anak saya. Saya meminta anak saya untuk salaman sama Pak Kamto seorang Tukan Baso yang menjadi teman ayah ngobrol malam itu.

Pembicaraan berakhir sudah.

Kiranya Kristus Sang Raja menghampiri setiap umat kepunyaanNya dan mengundangnya ke dalam pesta perjamuan Nya.

***
Ada batas imajiner antara saya dan liyan. Batas itu bukan batas yang bersifat fisikal, tetapi sebuah batas yang lebih abstrak, yang membatasi antara saya dan liyan. Batas itu bisa jadi merupakan konstruksi sosial, ekonomi dan budaya dari masing-masing pihak, yang membuat orang segan menghampiri pihak lain.

Namun berita Injil itu adalah sebuah berita yang menghancurkan batas-batas antara saya dan liyan, tanpa si liyan itu menjadi seperti saya.
Kristus yang hadir kepada orang samaria, kaum gentile (kafir), seorang wanita, wanita yang tidak baik-baik, dan akhirnya mereka menerima berita Injil, mengalami perjumpaan dengan Sang Juru Selamat.

Batas-batas yang abstrak tadi ditembus dan dirubuhkan oleh berita Injil, dan Injil bertahta di hati setiap orang yang percaya dan menerimanya.

Melalui pembicaran tadi saya tidak bermaksud mengajak Pak Kamto masuk gereja, tetapi saya rindu Pak Kamto bertemu dengan Kristus yang menjadi jawaban sempurna atas hidupnya; saya berharap kuasa Injil menerobos hatinya, sehingga tembok-tembok itu runtuh dan kuasa Injil meraja di dalam hatinya.

Pak Kamto tadi berjualan di depan sebuah gereja, dan juga banyak orang seperi Pak Kamto yang berada di dekat bahkan di seputaran dan di dalam gereja.

Semoga Injil menerobos dan merobohkan tembok-tembok yang terbangun yang membatasi antara kita dan liyan.

Eh, ternyata gereja bukan gedungnya, tetapi adalah orang-orang di dalamnya. Gereja adalah saya dan Anda.

Tabik
Teja

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments