Memberi Dengan Ketulusan Tanpa Pamrih Adalah Mulia

Viewed : 350 views

Kisah Para Rasul 20:35
Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Mungkin kita pernah memberi sesuatu dengan tulus kepada seseorang apapun itu bentuknya; dan pemberian itu sangat berhaga bagi yang menerimanya walau dalam pikiran kita hal itu kecil.

Atau boleh jadi sebaliknya, kita pihak yang menerima sesuatu dari seseorang; dan pemberian itu sangatlah berarti.

Teringat pengalaman ketika mengambil data di lapangan. Waktu itu persediaan air habis. Terasa sangat haus. Lantas ada seorang petani yang memiliki pohon timun di ladangnya. Karena begitu hausnya, dicobalah memberanikan diri untuk meminta timun itu.

Bapak petani itu baik hati. Dia memberi beberapa buah timunnya. Juga dia berikan secangkir air yang ada di ceretnya yang baru saja dimasak di gubuknya yang sederhana. Dengan timun dan air minum itu, rasa dahagapun terobati. Hingga kini pengalaman akan kebaikan hati Pak petani itu tetap terkenang. Tetap diingat menjadi pengalaman yang mengesankan. Malah jangan-jangan Pak petani itu yang lupa akan perbuatan baiknya.

Dalam memberikan sesuatu, mungkin kita tidak merasa apa-apa karena memberi dengan ketulusan bukanlah sekedar rasa apalagi untuk dirasa-rasakan.

Ketulusan adalah rasa yang tak terasa dan banyak orang gagal memahami apa arti ketulusan. Pemberian dalam ketulusan adalah pemberian tanpa keberatan dan tanpa menuntut balasan. Jika memberi dengan ketulusan, maka lenyaplah embel-embel rasa berjasa.

Persoalan sering bagi kita adalah sulit memberi dengan tulus karena secara alami dalam pikiran kita: bila memberi harus disertai dengan apa yang akan kita terima. Atau bila memberi, maka ada sesuatu yang berkurang dalam diri kita. Secara matematis mungkin benar juga. Akibatnya secangkir air yang kita berikan, kita melihatnya seolah memberi segelas susu yang harus terbalaskan dengan segalon susu murni.

Kita diingatkan bahwa bila kita memberi; dan pemberian itu disertai dengan ketulusan tanpa pamrih, maka pemberian seperti ini merupakan pemberian yang mulia.

Tentu saja keyakinan seperti itu tidak datang secara tiba-tiba, tetapi merupakan sebuah proses. Proses tersebut akan berlangsung dan menjadi kenyataan bila kita sadari bahwa Allah telah terlebih dahulu memberi apa yang terbaik dan berharga bagi kita, terutama keselamatan jiwa kita yang dianugerahkan secara cuma-cuma.

Bila kita sampai dalam tahap ini, kita merasa berbahagia saat memberi dan tidak lagi merasa kekurangan dan tidak merasa kehabisan bila memberi, sebaliknya kita yakin diperkaya dengan kelimpahan dengan luapan kebajikan dari Tuhan.

Lukas 6:38
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Marilah berdoa agar Tuhan memberi kepekaan dan kekuatan kepada kita untuk hidup memberi apa yang memang dapat kita berikan. Mungkin harta. Mungkin perhatian. Mungkin keahlian. Mungkin kecerdasan. Mungkin waktu. Mungkin senyuman. Mungkin doa. Mungkin dorongan semangat. Mungkin motivasi. Mungkin … … pastilah ada dan kita bisa!

Selamat bekerja.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus beserta kita senantiasa. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments