Jangan Malas! Kemalasan Merusak!

Viewed : 402 views

2 Tesalonika 3:10-11
Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

Suatu sore, ketika sudah agak gelap, sepulang ke rumah, seorang ibu melihat tukang masih bekerja betulin rumah. Ibu itu lantas berkata, “Pekerjaan boleh saja tukang bangunan, tetapi karakter dan tanggungjawabnya seorang pemimpin!”

Perkataan tersebut spontan terucapkan mungkin sebagai wujud rasa hormat dan kagum kepada seorang yang sederhana, tapi tekun bekerja.

Ketika tukang itu permisi pulang, maka makanan yang masih ada di rumah diberikan untuk dinikmati tukang itu, dan sisanya seluruhnya disuruh bawa pulang ke rumahnya.

Banyak orang terkadang menjelang sebentar lagi waktu bekerja selesai, dia sudah siap ancang-ancang mau pulang segera. Matanya terus saja melihat ke arah jam dinding atau jam tangannya. Teng… go… pulang… sambil berkata kepada teman-temannya, “Selamat sore… sampai jumpa… daaa…!!”

Tentu ini wajar saja, sebab itu aturan. Tidak ada yang dilanggar. Akan tetapi sering ini sebetulnya sebagai ekspresi karena tak mau rugi dengan waktu.

Pernah juga, bahkan sering terjadi… seorang dosen masih semangat mengajar pada saat menjelang kuliah selesai. Banyak mahasiswanya sudah merapikan buku-bukunya masuk dalam tas dan berdiam diri. Ada yang bercanda berbicara sesamanya. Bahkan ada yang berbisik mengomel ingin agar kuliah segera saja diakhiri. Padahal apa yang disampaikan sang dosen adalah sangat penting dan merupakan inti dan kesimpulan dari kuliah. Apalagi kalau dosen itu memberi tugas untuk dikerjakan… gelombang protespun datang! Paling tidak mahasiwanya berkata, “Pak, cukup Pak… PRnya kebanyakan Pak!”

Inti dalam gambaran kisah sederhana di atas adalah masalah kemauan dan ketekunan dalam bekerja… dalam melakukan sesuatu sebagai tanggung jawab.

Khusus dalam bekerja, rasul Paulus ingatkan bahwa orang yang tak tertib dan tidak bekerja… jangan makan. Kalau ini diterapkan, mungkin banyak yang tidak boleh makan hari ini ya…

Tentu kita tidaklah ekstrim. Namun kita diingatkan supaya rajin dan bertanggung jawab. Tekunlah bekerja apapun pekerjaan kita.
Jangan malas!
Kemalasan merusak!

Penghormatan dan penghargaan akan ditujukan dan dialamatkan kepada siapa saja yang tekun bekerja, walau mungkin sekedar ucapan pujian. Tidak harus dalam bentuk upah materi. Ini rumus dan dalil.

Biarlah kita dapat menikmati jerih lelah dan karya kita sebagai hasil dari ketekunan dan kerajinan.

Rasanya kita diingatkan lagi hari ini akan perkataan guru SD dulu:
Malas Pangkal Miskin
Rajin Pangkal Kaya

Atau boleh juga:
Malas Pangkal Bodoh
Rajin Pangkal Pandai

Mari kita maknai ini!

Selamat beraktifitas.
Selamat berkarya.

Tuhan menyertai dan memberkati hidup dan pekerjaan kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Jordan Whitfield on Unsplash

Comments

comments